7 – PERPISAHAN

-7-
Perpisahan

Hari-hari berlalu setelah kepergian perempuan cantik itu, dan Pendeta Pemikiran kembali sibuk dengan rutinitas pekerjaannya. Ia tak terlalu memikirkan perempuan itu dan tak mempedulikan permasalahannya. Di dalam dirinya, Sang Pendeta beranggapan, pasti ia akan kembali lagi setelah seminggu, seperti yang sudah-sudah. Akan tetapi hari yang disepakati itu tiba, dan ia tak datang. Ada sedikit kecemasan menghinggapi hati Sang Pendeta, namun segera sirna. Ia teringat perempuan itu kadang melanggar hari yang telah disepakati. Kali ini, barangkali—karena telah pergi dengan agak tersinggung—ia ingin menunjukkan kejengkelannya, dengan cara menunda kedatangan. Ia tak akan terlambat minggu depan. Tapi, minggu depan telah tiba, dan ia tetap tak datang.

Di sini, Sang Pendeta mulai memikirkan perempuan itu dalam rupa yang baru yang tak pernah terlihat sebelumnya. Hari-hari terus berlalu dan Pendeta Pemikiran mulai berperilaku aneh. Mungkin pembantunya menyadari keadaannya itu. Tak satu pun ketukan pintu yang tak ditanyakan pengetuknya oleh sang majikan. Padahal sebelumnya, tak sedikit pun ia akan mengangkat kepala dari buku-buku dan kertasnya, meski pintu akan roboh dengan ketukan!

Bahkan dari waktu ke waktu sang majikan ini berteriak. “Buka pintunya! Aku mendengar seperti ada yang mengetuk pintu!” Sang pembantu pun membuka pintu, namun ia tak menjumpai siapa-siapa.

Adapun dering telepon, Sang Pendeta akan buru-buru menerimanya sendiri, mengangkat gagang telepon, dan tak lama kemudian membantingnya dengan putus asa. Ia tak lagi membaca surat-surat paginya dengan seantusias dulu. Ia hanya menyortir surat-surat itu dengan cepat, mencari tulisan tertentu dengan tatapan penuh harap. Ia membuka surat-surat itu dengan tergesa-gesa, berharap bisa menemukan surat yang dimaksudnya!

Sang Pendeta terus berperilaku seperti itu selama beberapa hari berikutnya. Ia tak melakukan apa-apa, selain menunggunya. Menunggu Sang Isteri. Mengapa ia tak kembali? Bagaimana ia melewatkan minggu-minggu ini tanpa datang? Apa yang menghalanginya datang?

Tak henti-hentinya Sang Pendeta menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu kepada dirinya sendiri. Pandangannya tak pernah meninggalkan pintu, rindu pada bayangannya. Telinganya terpasang baik-baik mendengarkan dering telepon, menghasratkan suaranya. Apakah Sang Pendeta lupa bahwa dirinya telah menginginkannya pergi, untuk tidak kembali? Apakah ia benar-benar telah meminta hal itu kepada Sang Isteri? Apakah ia bersungguh-sungguh dalam permintaannya itu? Alangkah anehnya! Apakah Pendeta Pemikiran telah gila sehingga menginginkan Sang Isteri pergi, tetapi masih mencari dan menanyakannya? Tetapi, memang ia melakukan hal itu. Sungguh malang!

Iya. Sekarang ia teringat segalanya. Ia telah membuat Sang Isteri memahami bahwa tak ada alasan lagi bagi kunjungan-kunjungannya. Dirinya meninggalkan Sang Isteri dan berpaling pada kesibukannya sendiri, sementara Sang Isteri menunggu ucapan lembut darinya sampai putus asa. Lalu ia pergi! Ungkapan terakhir yang didengar darinya adalah bisik lirih perpisahan, lalu disambung dengan satu kalimat, “Terima kasih!”

Sekarang, bagaimana bisa Sang Pendeta mengharapkan kedatangan Sang Isteri setelah semua itu?! Dan mustahil ia akan bisa melacaknya sekarang. Ia tak tahu namanya, dan sama sekali tak pernah berusaha menanyakan tempat tinggalnya! Ia juga tak tahu nama suaminya. Sang Suami pasti telah menyebutkan namanya saat datang berkunjung. Tetapi, seperti kebiasaannya, telinga Sang Pendeta tak pernah memperhatikan nama-nama yang diucapkan. Ingatannya juga tak mau menyimpan nama-nama itu, kecuali jika memang ada hubungan erat antara dirinya dengan pemilik nama. Dalam keadaan seperti ini, ia tak pernah mengira bahwa suatu hari akan sangat membutuhkan nama Sang Isteri atau Sang Suami.

Berarti Sang Isteri telah pergi tanpa ada harapan kembali. Berarti ini adalah perpisahan tanpa pertemuan lagi. Sang Pendeta telah menyia-nyiakannya begitu saja, seperti menyia-nyiakan bola tenis dengan pukulan yang ngawur! Bukankah pada suatu hari ia pernah mengatakan bahwa dalam pandangan takdir, tak lain Sang Isteri hanyalah sebuah bola tenis dan dirinya sebuah raket yang digunakan berdasarkan tujuannya? Lantas, mengapa takdir yang baku itu menginginkan raket memukul bola semacam ini, sehingga tak lagi bisa diketahui dimana letak dan posisi bolanya?! Benarkah takdir yang telah menginginkan itu, ataukah itu hanya merupakan kebodohannya belaka?

Sang Isteri adalah sesuatu yang indah yang biasa dilihatnya. Ia adalah parfum yang biasa dicium bau harumnya. Ia adalah permainan menarik yang biasa dimainkannya. Ia adalah jiwa lembut yang mengisi kehidupan rumahnya, dan cahaya keceriaan yang menghapuskan kegelapan hari-harinya!

Kunjungan-kunjungan Sang Isteri setiap minggu telah mapan dalam program kegiatannya. Saat-saat keberadaannya yang cuma sebentar itu telah meresap dalam lubuk perasaannya. Ia sudah terbiasa menunggunya, lalu bagaimana sekarang ia akan hidup tanpa penungguan ini? Pemikiran semacam ini saja telah mampu memotong keceriaan Sang Pendeta, seperti sebuah pisau. Lalu membuatnya menjadi murung. Tak ada lagi yang tersisa dari Sang Isteri, meski hanya manisnya penantian! Akankah Sang Pendeta menjalani bulan-bulan mendatang dengan keadaan tetap seperti ini, sementara dirinya tak mampu berbuat apa-apa, meski hanya menantikannya?!

Malam-malam yang menyeramkan melewati Pendeta Pemikiran. Sang Pendeta tak bisa tidur dengan tenang. Bayang-bayang Sang Gadis melintas dalam kepalanya setiap akan tidur. Ia muncul dengan pakaian seperti yang biasa dilihatnya, dengan parfum kesukaan yang membuat hatinya gembira. Terkadang Sang Pendeta melihatnya di dalam mimpi-mimpinya, seakan-akan Sang Isteri itu datang dan meminta maaf atas ketidakhadirannya selama ini, atas keterlambatannya selama beberapa minggu lalu, sambil melepas sarung tangannya perlahan-lahan dan menatapnya dengan keramahan yang tulus.

Lalu Sang Pendeta terbangun dari benturan mimpi tersebut. Ia membuka matanya dan menyadari bahwa itu hanya mimpi. Sang Pendeta lalu terbaring di atas tempat tidurnya tanpa mampu memejamkan mata kembali, sampai pagi! Inilah azab yang tak pernah dibayangkannya dan tak pernah diperhitungkannya. Bahkan buku bacaan yang biasa digunakannya untuk menghibur diri, gagal menyelamatkannya.

Pada suatu malam Sang Pendeta terbangun dengan kaget karena di dalam mimpinya ia melihat Sang Gadis itu mengetuk pintu. Ketika menyadari kesia-siaan harapannya, juga kesusahannya untuk kembali tidur, seperti biasa, Sang Pendeta menghabiskan malam itu dengan membaca buku. Ia mengambil sebuah buku filsafat karangan Abu Bakr ar-Razi. Ia mulai membaca pendapat sang pengarang tentang cinta di halaman buku tersebut:

Perpisahan dengan kekasih pasti mengakibatkan gejolak perasaan hingga ingin mati. Jika disetujui, diantara seluruh bencana dan malapetaka yang ada di dunia ini yang bisa menghancurkan kekuatan adalah perpisahan antara kekasih.

Bilamana seseorang terpaksa mengalami duka dan menelan kepahitan itu, lebih baik ia mendahulukan duka dan kepahitan itu serta berhenti memikirkannya daripada harus mengakhirkan duka dan kepahitan itu serta terus menunggunya. Karena sesuatu yang sudah pasti terjadi, ketika didahulukan maka bayangannya yang mengerikan akan bisa dihilangkan selama masa pengakhiran.

Begitu pula lebih baik ia menjauhkan jiwa dari sang kekasih sebelum cinta itu menguat, melekat dan menguasainya. Karena hal itu akan lebih mudah dan ringan.

Juga, karena saat kerinduan telah bersatu dengan kedekatan maka akan sulit sekali memisahkan diri dan keluar darinya. Penderitaan yang disebabkan oleh kedekatan tak lebih ringan dari penderitaan yang disebabkan oleh kerinduan, kejauhan. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa penderitaan yang disebabkan oleh kedekatan itu lebih berat dan lebih teruk, maka ia tak keliru.

Jika masa kerinduan masih ringan atau baru sebentar, dan masa pertemuan dengan sang kekasih masih lama, maka lebih baik ia tidak mencampurkannya dan malah menguatkan kerinduan itu dengan kedekatan! Dalam hal ini yang harus dilakukannya secara nalar adalah: segera menghalangi jiwa dan mengekangnya dari kerinduan, sebelum terjatuh ke dalamnya. Hendaknya seseorang segera menyapih jiwa begitu ia terjatuh kedalam kerinduan, sebelum kerinduan itu mengakar kuat.

Alasan ini, katanya, pernah digunakan Plato yang bijak untuk membantah muridnya yang tengah dilanda rasa cinta kepada seorang gadis, sampai ia meninggalkan majlis pengajaran Plato. Plato lalu meminta supaya mencari murid tersebut dan membawanya datang. Ketika sang murid muncul di hadapannya, Plato mengatakan, “Katakan kepadaku, apakah kau ragu bahwa kau pasti akan meninggalkan kekasihmu pada suatu hari nanti?!”

“Saya tidak meragukan hal itu!” jawabnya.

“Kalau begitu, rasakanlah kepahitan yang akan kau teguk pada hari perpisahan itu nanti di hari kita sekarang ini. Lalu, diantara kedua waktu itu, bebaskan dirimu dari ketakutan seorang yang menanti; ketakutan yang akan selalu ada dan pasti datang. Bebaskan dirimu dari sulitnya mengobati rindu saat rindu itu telah menjadi kuat dan bersatu dengan kedekatan!” kata Plato kepada sang murid.

Konon, sang murid membantah ucapan sang guru tersebut.

“Apa yang Anda katakan benar, Tuan yang bijak. Tetapi, saya mendapati penantian ini semanis madu. Seiring perjalanan hari, ia akan menjadi semakin ringan.”

“Bagaimana kau bisa mempercayai kemanisan hari-hari penantian (kejauhan) itu dan tak takut pada kedekatan dengannya? Bagaimana kau bisa tidak yakin dengan datangnya saat perpisahan sebelum datangnya kemanisan itu, sementara rasa rindumu telah menjadi semakin kuat! Sehingga kau malah akan semakin menderita dan semakin merasa pahit yang berlipat-lipat?” jawab Plato.

Saat itu juga sang murid, konon, langsung bersujud kepada Plato. Ia mengucapkan terima kasih kepadanya, mendoakannya, memujinya dan tak kembali lagi pada perilaku yang telah dilakukannya dulu. Ia juga tak tampak berduka maupun merindu.”

Pendeta Pemikiran membaca tulisan itu, lalu melemparkan bukunya sambil berkata di dalam hati.
“Aahh. Para filosof itu! Mereka mengira bisa memecahkan masalah perasaan-perasaan manusia dengan kata-kata yang bagus dan logika-logika yang benar!”

Sang Pendeta kemudian merenungkan apa yang baru saja dibacanya. Ia teringat keadaan dirinya bersama perempuan jelita itu. Ia telah menempuh jalan yang tepat, bagi dirinya dan bagi perempuan itu. Ia tak melalaikan tujuan kedatangan sang perempuan. Ia tak menyimpang dari maksud mulia yang membuat sang perempuan itu datang. Ia tak mengatakan ucapan yang tak pantas diucapkan dan tak menampakkan perasaan yang tak selayaknya ditampakkan!

Ia telah berlaku kepada perempuan itu—sejak awal hingga akhir—persis seperti yang dikatakan filosof Muslim, Abu Bakr ar-Razi dan filosof Yunani, Plato. Kalau saja kedua filosof itu berada di posisinya! Posisi dimana Sang Pendeta telah merasa takut akan kedekatan yang bisa menguasai dirinya. Posisi dimana ia telah takut kalau keseriusan akan berubah menjadi gurauan; dan karenanya, ia segera memutuskan hubungan! Dan, inilah akibatnya! Jelas dan nyata!

Apakah Pendeta Pemikiran tak menyadari hakikat-hakikat perasaannya kepada Sang Gadis sejak pertama kali?! Ataukah ia telah menyadarinya sebagian, tetapi mengira bahwa hal itu tak terlalu berbahaya dibanding jika menyibukkan seluruh hatinya kepadanya, atau dibanding akibat jika ia menolaknya sejak pertama kali?

Jika perasaan Sang Pendeta itu tampak tidak jelas, kecuali setelah ia melaksanakan kewajibannya, setelah ia memutuskan hubungan dan menutup pintunya, lalu apakah salah dan dosanya? Apa yang masih belum dilakukannya saat itu, menurut pendapat ar-Razi dan Plato?!

Tentu saja Pendeta Pemikiran tak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan memang ia tak memerlukan jawaban. Ia hanya memerlukan sesuatu yang bisa meringankan deritanya. Tak diragukan, ia telah melakukan semua yang disarankan para filosof itu. Tetapi para filosof, mereka tidur di dalam perut-perut bukunya, mereka berselimut di bawah lembar-lembar logikanya yang hebat, dan membiarkan Sang Pendeta terjaga dengan mata tak mau dipicingkan serta kegelisahan yang membakar hatinya!

* * *

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (9)*

Al-Qurân adalah sang penyelamat dan pembebas dari berbagai fitnah yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw. telah memberitahu kita bahwa akan ada masa-masa perpecahan, kekalahan, dan fitnah yang dilalui umat Islam. Beliau Saw. juga memberitahukan bahwa umat-umat lain akan tamak melahap umat Islam dan mengalahkan umat Islam. Lalu Nabi juga telah memberitahukan bahwa sebab di balik itu semua adalah kecintaan umat Islam pada dunia dan kebenciannya pada kematian. Atau dengan kata lain, lemahnya keimanan dan dominasi hawa nafsu pada hati.

Diriwayatkan dari Tsauban r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda, “Umat-umat itu nyaris berbondong-bondong dan saling mengajak, untuk menyerang kalian. Persis orang-orang yang suka makan diajak pada jamuan makan”. Salah seorang bertanya, “Apakah saat itu kita minoritas?” “Saat itu kalian justru berjumlah banyak, tetapi kalian buih seperti buih yang dibawa banjir, Allah benar-benar akan menghilangkan rasa takut dari dada-dada musuh itu kepada kalian; dan Allah benar-benar akan melilitkan kelemahan pada hati kalian”. Salah seorang bertanya, “apakah penyebab kelemahan itu, wahai Rasulullah?” “Cinta dunia dan membenci kematian.1

Beliau Saw. juga telah memberitahukan kepada kita bahwa jalan keluar dari semua fitnah dan kelemahan itu adalah Al-Qur’ân. Karena Al-Qur’ân mampu menangani penyebab-penyebab yang mengakibatkan umat menjadi lemah dan hina di hadapan Allah.

Dari Hârits Al-A`war, ia mengatakan: Saya melewati sebuah masjid dan mendapati orang-orang tenggelam dalam berbagai macam pembicaraan. Lalu saya masuk menemui `Ali r.a. dan saya katakan, “Wahai Amirul Mukminin, tidakkah Anda melihat orang-orang telah tenggelam dalam berbagai macam pembicaraan?”

“Apakah mereka telah melakukannya?” tanyanya.

“Iya,” jawab saya.

“Saya mendengar Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Waspadalah, karena sesungguhnya akan terjadi fitnah.’

“Apakah jalan keluarnya dari fitnah tersebut, wahai Rasulullah?” tanya saya kepada Rasulullah. Dan Rasulullah menjawab:

Kitab Allah. Di dalam Kitab Allah terdapat berita mengenai hal-hal sebelum kalian dan berita mengenai hal-hal setelah kalian. Ia telah memberikan kebijakan atas perkara yang terjadi diantara kalian. Ia adalah pemisah antara yang benar dan yang batil, dan ia sama sekali bukan senda-gurau. Penguasa yang sewenang-wenang yang meninggalkan Kitab Allah, maka akan dihancurkan oleh Allah. Orang yang mencari petunjuk pada selain Kitab Allah maka akan disesatkan oleh Allah. Ia adalah tali Allah yang sangat kuat. Ia adalah petunjuk yang bijak. Ia adalah jalan yang lurus. Kitab Allah-lah yang tak bisa dibelokkan oleh hawa nafsu. Ialah yang tak bisa diambigukan oleh bahasa. Ia yang membuat ulama selalu merasa kurang. Ia yang tak menimbulkan banyak penolakan. Ia yang tiada habis keajaibannya. Ia yang membuat jin tak pernah selesai mendengarnya sampai ia mengatakan, Sesungguhnya kami telah mendengar Al-Qur’ân yang menakjubkan; (yang) menunjukkan pada kebenaran,(Al-Jinn: 1-2). Siapa yang berkata dengannya maka ia benar. Siapa yang beramal dengannya maka diberi pahala. Siapa yang memberi keputusan dengannya maka adil. Dan siapa yang mengajak kepadanya, maka ia menunjukkan pada jalan yang lurus.2

Rasulullah Saw. telah menguatkan makna di atas dalam sabdanya kepada Hudzaifah bin Al-Yamân ketika beliau memberitahu Hudzaifa tentang perselisihan dan perpecahan yang akan terjadi sepeninggalnya. Mendengar itu Hudzaifah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai, Rasulullah! Apa yang Anda perintahkan jika saya menjumpai hal itu?”

Pelajari Kitab Allah dan amalkan isinya! Itulah jalan keluar dari bencana tersebut.”

Hudzaifah mengatakan, “Saya mengulangi pertanyaan di atas sampai tiga kali dan jawaban Rasulullah Saw. sebanyak tiga kali menyebutkan, ‘Pelajari Kitab Allah dan amalkan isinya! Itulah juru selamatnya.’”3

* * *

1 Hadis sahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawûd. Disahihkan oleh Imam Al-Albâniy di dalam Al-Silsilah Al-Shahîhah, hadis no. 918.

2 Diriwayatkan oleh At-Tirmîdzî, Al-Dârimî, dan Al-Baihaqî dalam Al-Syu`ab.

3 Diriwayatkan oleh Abu Dawûd, Al-Nasâi, dan Al-Baihaqî di dalam Al-Syu`ab; juga oleh Al-Hâkim di dalam Al-Mustadrak, ia mensahihkan hadis ini yang kemudian disepakati oleh Al-Dzahabiy.

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (8)*

Al-Qurân: sarana yang telah diuji-coba dan terbukti

Diantara hal yang membuat Al-Qur’ân layak menjadi permulaan yang benar bagi kebangkitan umat Islam adalah: ia telah diujicoba sebelumnya. Generasi pertama telah menggunakannya berdasarkan kenyataan yang mereka hadapi. Sehingga melalui Al-Qur’ân—dengan izin Allah—mereka menjadi umat terbaik dan mengubah urutannya di antara umat-umat yang ada—dari yang paling belakang menjadi yang paling depan, hanya dalam beberapa tahun.

Kondisi bangsa Arab dulu, sebelum datangnya Islam, jauh lebih buruk dari keadaan kita saat ini, meskipun begitu Al-Qur’ân bisa berfungsi untuk mereka dan mampu mempengaruhi mereka, mengubah mereka, memperbaiki keadaan mereka, dan membentuk kembali tatanan mereka dengan yang baru. Kenyataan ini, tak diragukan, memberikan harapan kepada kita bahwa Al-Qur’ân pun cocok buat kita—dengan izin Allah—dan mampu berbuat kepada kita sebagaimana yang telah diperbuatnya kepada mereka.

Hal ini cukup dibuktikan dengan kesedihan yang besar dari para Sahabat atas wafatnya Nabi Muhammad Saw. bukan semata-mata karena perpisahan dengan Nabi, bahkan karena terputusnya penurunan Al-Qur’ân dan terputusnya bumi dari langit. Bagaimana tidak?! Orang melalui Al-Qur’ân mereka telah mengecap kemanisan iman. Mereka telah menyadari nilai Al-Qur’ân dan kemampuan dahsyatnya melakukan perubahan. Al-Qur’ân telah mengangkat dan meninggikan mereka pada tangga keimanan serta telah membuat mereka semakin mengenal Allah dan mampu berhubungan dengan-Nya.

Renungkan bersama saya realitas yang menguatkan makna di atas berikut ini:

Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Bakr r.a. mengajak `Umar r.a. untuk berkunjung ke tempat Ummu Aiman.

“Ayo, kita ke tempat Ummu Aiman. Kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah dulu berkunjung kepadanya!”

Ketika kami telah sampai ke tempat Ummu Aiman, kami dapati ia menangis. Menangisi kepergian Rasulullah. Lalu kami pun menanyakan, “Apa yang membuatmu menangis? Yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah!”

“Aku menangis bukan karena tak mengetahui bahwa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi Rasulullah, tapi aku menangis karena wahyu telah terputus dari langit!” jawab Ummu Aiman.

Dengan tangisan ini Ummu Aiman telah membuat Abu Bakar dan `Umar tergoncang. Keduanya pun lalu menangis bersama Ummu Aiman.1

Teks hadis di atas—sebagaimana kata Dr. Farîd Al-Anshârî—dengan jelas menunjukkan bahwa keterikatan para Sahabat sebenarnya dengan Al-Qur’ân—yang merupakan pengikat langsung dengan Allah—dan bukan dengan pribadi Rasulullah Saw., selain karena posisi Rasulullah sebagai penyampai Al-Qur’ân dari Allah.2

Karena itu sah kalau kita katakan, Al-Qur’ân merupakan gerbang terbuka dan pintu tembus yang dimasuki para Sahabat yang mulia untuk menuju kerajaan Allah. Dimana mereka telah dicetak dalam pengawasan Allah, (untuk mengetahui) bahwa Al-Qur’ân merupakan alasan kuat yang telah membuat hati mereka terpatri kepadanya, hingga Al-Qur’ân pun membawa mereka sampai pada maqâm tauhid (secara aktual dan riil).3

Rasulullah Saw. dengan tekun telah meresapkan keterikatan mereka dengan Al-Qur’ân ini—dalam kapasitas Al-Qur’ân sebagai sumber dasar pendidikan. Orang yang menelusuri hadis-hadis Rasulullah Saw. akan mendapati: bahwa hadis-hadis tersebut merupakan penjelas Al-Qur’ân. Hadis menjelaskan sesuatu yang global dari Al-Qur’ân dan menguatkan makna-maknanya. Inilah yang mendorong Imam Syâfi`î mengatakan bahwa: Sunnah adalah pemahaman Nabi terhadap Al-Qur’ân, atau penetasan pemahaman Nabi terhadap Al-Qur’ân.4

Dan tidak cukupkah Al-Qur’ân bagi kita?

Ada sebagian kaum Muslimin yang datang kepada Rasulullah Saw. membawa buku-buku yang telah mereka tulis. Buku-buku itu berisi beberapa permasalahan yang pernah mereka dengar dari orang-orang Yahudi. Rasulullah pun bersabda, “Cukup untuk menunjukkan kedunguanatau kesesatansuatu kaum bila mereka tidak menyukai apa yang dibawakan oleh nabinya kepadanya, dan menyukai apa yang dibawakan oleh selain nabinya kepadanya.” Lalu turun firman Allah, Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’ân) kepadamu Quran) yang dibacakan atas mereka? (Al-`Ankabût: 51).5

`Abdurrazzâq dan Al-Baihaqî meriwayatkan dari Abî Qulâbah bahwa `Umar bin Al-Khaththab r.a. tengah berjalan melewati seorang yang tengah membaca sebuah kitab. Untuk sesaat `Umar mendengarkan apa yang dibaca orang tersebut, dan ia tertarik. `Umar pun lalu berkata kepadanya. “Tuliskan untukku dari buku ini!”

“Baik,” jawab orang itu.

`Umar lalu membeli kulit yang telah disamak dan menyiapkannya untuk ditulisi. Ia kemudian mendatangi orang tadi yang terus menuliskan pembahasan dari buku yang dimaksud ke kulit yang telah disiapkan, bolak-balik. Setelah itu `Umar mendatangi Nabi Saw. dan membacakan tulisan itu kepada beliau. Roman muka Rasulullah Saw. pun berubah, sampai seorang lelaki dari Anshar memukul buku yang dipegang `Umar dengan tangannya, sambil mengatakan, “Ibumu telah kehilanganmu, wahai Ibnu Khaththâb! Apa kau tak melihat muka Rasulullah Saw. sejak kau membacakan buku ini kepadanya?”

Ketika itu Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pembuka dan penutup. Dan aku telah diberi seluruh firman (Al-Qur’ân) beserta seluruh pembukanya yang diringkaskan sedemikian rupa. Maka jangan sekali-kali orang-orang yang bingung itu menghancurkan kalian!6

Ibnu Al-Dharîs meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa `Umar bin Al-Khaththâb r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Ahli Kitab berbicara kepada kami dan mereka mengatakan ucapan-ucapan yang menarik hati kami. Hal itulah yang membuat kami berhasrat menuliskannya!”

Rasulullah lalu bersabda, “Wahai Ibnu Al-Khaththâb, apakah kalian kebingungan sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani itu telah kebingungan?! Tidak! Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, aku benar-benar telah datang kepada kalian dengan semua itu, putih bersih. Bahkan aku telah diberi seluruh firman dan diringkaskan kepadaku sedemikian rupa.7

… dari teks-teks ini dan yang lainnya, jelas bagi kita bahwa dalam mendidik para Sahabatnya, Rasulullah Saw. sama sekali tidak bersandar pada selain Al-Qur’ân, dan Sunnahnya yang suci sebagai penjelas Al-Qur’ân.

Dari situ keterikatan manusia dengan Al-Qur’ân menjadi kuat pada masa kenabian. Sebuah ikatan mendalam yang menghubungkan hati dengan Rabb-nya, sampai pada tingkat para Sahabat r.a. itu mengikuti wahyu dengan hasrat kerinduan mendalam dan melaluinya berusaha keras menaiki tangga pengenalan Allah dan berjalan menuju-Nya.8

Para Pembaca, renungkan bersama saya kabar di bawah ini. Bagaimana keadaan para Sahabat bersama Al-Qur’ân dan bagaiman mereka menerima arahan-arahan dan pentunjuknya:

Ada seorang dari pedalaman yang mampir ke tempat `Âmir bin Rabî`ah. `Âmir pun menjamunya dengan baik. Dalam perbincangan mereka terdapat pembicaraan menyangkut Rasulullah Saw. Sang tamu mengatakan, “Saya telah meminta sebidang tanah kepada Rasulullah di lembah yang paling subur, di pedalaman tak ada tempat yang lebik baik dari tempat itu. Aku ingin membaginya denganmu untuk kau pergunakan dan kau wariskan.”

`Âmir menanggapi tawaran tamunya itu dengan mengatakan, “Aku tak memerlukan tanahmu. Hari ini telah turun Surah Al-Qur’ân yang membuat kami melupakan dunia,Telah dekat kepada manusia Hari Penghitungan amal mereka, tetapi mereka lalai dan malah berpaling (pada dunia)(Al-Anbiyâ’: 1).

Bahkan lihat seberapa besar penghargaan orang-orang Yahudi terhadap Al-Qur’ân—bahkan hanya untuk satu ayatnya! Padahal mereka adalah orang yang mengingkari Al-Qur’ân dan mendustakannya, juga mendustakan Rasulullah Saw. Dengan kedengkiannya orang-orang Yahudi itu berkata, “Satu ayat telah turun kepada kalian yang kalau ayat itu turun kepada kami, orang-orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikan hari turunnya sebagai hari raya.” Yang mereka maksud adalah ayat ini: pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam menjadi agama bagimu (Al-Mâidah: 3); karena isinya yang mengandung pengutamaan dan pemuliaan. Lalu, apakah kita telah merasakan pemulian Allah ini; apakah kita telah memperlakukan pemuliaan ini sebagaimana mestinya dan menunaikan haknya?

Generasi langka

Diantara hasil keterikatan yang kuat para Sahabat dengan Al-Qur’ân adalah ketundukan paripurna pada arahan Al-Qur’ân dan membiarkan mukjizat Al-Qur’ân bekerja di dalam diri mereka. Diantara hasilnya adalah terbentuknya umat baru dan generasi tanpa banding yang belum pernah dilihat padanannya oleh sejarah kemanusiaan hingga sekarang.

Muhammad Al-Ghazâli r.h. mengatakan,

Umat tempat turunnya Al-Qur’ânyang kemudian dibentuk kembali oleh Al-Qur’ânadalah sebuah mukjizat yang diakui oleh Nabi Saw. sebagaisebaik-baik bangunan generasi,sebaik-baik pendidikan umat,sebaik-baik pembentukan generasi yang mempersembahkan Peradaban Qurâni kepada seluruh makhluk. Kita melihat bangsa Arab ketika mereka membaca Al-Qur’ân, mereka berubah menjadi umat yang mengerti musyawarah dan membenci kesewenang-wenangan. Kita melihat mereka menjadi umat yang dipandu oleh keadilan sosial dan tak mengenal sistem tingkatan kelas di dalam masyarakatnya. Kita melihat mereka menjadi umat yang membenci perpecahan dan rasialisme, membenci moral arogan, dan tinggi hati kepada sesama manusia.

Kita dapati seorang Badui semisal Rib`î bin `Âmir r.a. bisa berkata kepada panglima tentara Persia:Kami datang untuk membebaskan manusia dari menyembah hamba kepada menyembah Allah semata, membebaskan mereka dari kesewenang-wenangan agama-agama menuju keadilan Islam.

Mereka adalah permulaan baru bagi alam semesta dan peradaban baru yang telah menyegarkan kemanusiaan dan meninggikan kedudukannya. Karena umat Islam saat itu berada pada tingkatan Al-Qur’ân, dan peradaban Islam datang sebagai buah dari pembangunan Al-Qur’ân terhadap manusia.9

Diantara buah mereka Anda mengenal mereka

Kemanusiaan telah mendapati dan sejarah telah mencatat besarnya perubahan yang terjadi pada diri para Sahabat dengan melihat tindakan-tindakan mereka yang tak mungkin muncul dari orang-orang biasa. Tindakan-tindakan mereka adalah tindakan-tindakan di atas kemampuan manusia. Dan yang membuat heran, bahwa tindakan-tindakan ini tidak hanya terbatas pada jumlah tertentu dari para Sahabat, tindakan itu bahkan menjadi ciri umum semua Sahabat, laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua.

Ini, seorang perempuan memberikan pedang kepada anaknya saat terjadi Perang Uhud. Tapi sang anak belum kuat mengangkat pedang, lantas apakah yang dilakukan sang ibu?!

Apakah ia gembira dan memuji Allah, karena anaknya akan selamat dan lalu membawanya kembali ke rumah?!

Tidak, ia tidak melakukan hal itu. Bahkan ia malah mengambil tali dan mengencangkan pedang pada lengan anaknya dengan tali itu. Kemudian sang ibu membawa anaknya kepada Nabi Saw. dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini anak saya akan bertempur membelamu.”

“Ayo, Nak! Kemari! Ayo, Nak! Kemari!” kata Nabi Saw.

Kemudian anak ini terluka sehingga menjadi ketakutan. Maka ia pun dibawa ke arah Nabi yang berkata, “Ada apa, Nak? Barangkali kau takut?” “Tidak, wahai Rasulullah,” jawabnya.10

Dan ketika Nabi ingin berangkat ke Tabuk, beliau memanggil orang-orang Muslim untuk menginfakkan kekayaan mereka dan menyiapkan perbekalan tentara. Para Sahabat pun berlomba memberikan hartanya sebanyak-banyaknya, dan memberikan apa saja yang diperlukan bala tentara. Namun ada seorang pria dari Anshâr bernama Al-Hijâb, biasa dipanggil Abû `Uqail, yang tak memiliki sepeser pun untuk diinfakkan. Apa yang harus dia lakukan, padahal ia ingin ikut andil dalam perjuangan ini dan ingin Allah memperlihatkannya dalam kondisi yang baik?

Ia pun berpikir keras hingga Allah menunjukkan satu cara yang mengagumkan. Ia pergi mencari pekerjaan pada orang lain. Ia bekerja menarik tambang menggunakan tenaga punggungnya dan upahnya berupa dua shâ` kurma. Ia menyisakan satu shâ` untuk dimakan keluarganya dan satu shâ` lagi dibawa ke tempat Rasulullah Saw. sambil mengatakan,

“Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki harta. Tetapi saya memburuhkan diri pada seseorang untuk menarik tambang menggunakan leherku ini dengan upah dua shâ` kurma. Satu shâ` saya berikan kepada keluargaku dan satu shâ` saya bawa untuk mendekatkan diri kepada Allah.”11

Maka Al-Hijâb, dan orang-orang yang sepertinya, masuk dalam kelompok yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya, “dan orang-orang yang tidak mendapati (harta untuk disedekahkan) selain usaha kerasnya (At-Taubah: 79).

Ketika turun ayat, Siapakah yang mau meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, Abu Al-Dahdah berkata, “Wahai Rasulullah, Allah menginginkan pinjaman dari kita?”

“Iya, wahai Abu Al-Dahdah.” Jawab Rasulullah.

“Kemarikan tangan Anda!” kata Abu Al-Dahdah.

Abu Al-Dahdah pun lalu memegang tangan Rasulullah dan mengatakan, “Saya meminjamkan kebunku kepada Rabb-ku.”

Kebunnya berisi enam ratus pohon kurma. Lalu ia berjalan hingga sampai ke kebunnya di mana Ummu Al-Dahdah dan anak-anaknya berada di dalam tempat itu. Abu Al-Dahdah pun memanggil istrinya, “Wahai, Ummu Al-Dahdah!”

“Iya,” jawab istrinya dari dalam.

“Keluarlah! Aku telah meminjamkan kebun ini kepada Rabb-ku.” perintah Abu Al-Dahdah.12

Di dalam riwayat lainnya disebutkan Al-Dahdah mengatakan,

“Wahai Ummu Al-Dahdah, keluarlah dari kebun! Karena aku telah menjualnya dengan kebun di surga.”

Lalu apakah jawaban sang istri? Apakah ia mencela dan mengomel atas apa yang dilakukan suaminya? Apakah ia mengatakan kepada suaminya, “Kemana kita akan pergi, kau telah membuat kita dan keluarga kita melarat?!!”

Tidak. Ia tidak mengatakan begitu kepada suaminya, bahkan ia mengatakan, “Jual-beli yang menguntungkan.”13

Jika Anda heran, heranlah pada keadaan ini

Di dalam Kitab Thabaqât-nya, Ibnu Sa`d meriwayatkan dari Ja`far bin `Abdullah bahwa ketika terjadi Perang Yamâmah dan orang-orang telah berbaris dalam pertempuran, orang yang pertama kali terluka adalah Abu `Uqail Al-Unaifî. Ia terkena anak panah yang bersarang di antara pundak dan jantungnya sehingga ia pun dibawa ke luar medan laga dan anak panahnya dikeluarkan. Bagian tubuhnya sebelah kiri lumpuh karena luka itu. Peristiwa ini terjadi di awal siang hari. Lalu ia dinaikkan ke pelana. Ketika pertempuran semakin memanas, kaum Muslimin terdesak hingga ke penambatan kendaraan. Abu `Uqail yang tak berdaya itu mendengar Ma`nu Ibn `Addiy berteriak meneriaki kaum Anshâr, “Allah, Allah! Serang musuh kalian!”

Abdullah bin `Umar mengisahkan, “Abu `Uqail lalu berdiri mencari kaumnya.”

“Kamu mau apa, Abu `Uqail? Kamu tidak harus bertempur.” Kataku kepadanya.

“Ada orang yang menyebut namaku.” Jawabnya.

“Ia menyebut kaum Anshâr, bukan berarti itu ditujukan kepada mereka yang terluka?”

“Aku orang Anshâr, dan aku akan menjawab panggilannya, meski harus merangkak!”

Ibn `Umar melanjutkan kisahnya, Abu `Uqail lalu memakai sabuknya, bersiap-siap, dan mengambil pedangnya hanya dengan tangan kanan. Kemudian ia berseru, “Wahai kaum Anshâr, serang sebagaimana saat di Hunain!”

Kaum Anshâr lalu berkumpul—semoga Allah merahmati mereka semua—dan nekat menerobos barisan musuh sampai musuh kewalahan hingga tersudut ke kebun. Pedang berseliweran di antara kami.

Aku melihat Abu `Uqail, tangannya yang terluka telah terlepas dari pundaknya dan tubuhnya roboh ke tanah. Di tubuhnya terdapat empat belas luka yang kesemuanya bisa mengantarkan kematian.

Dan musuh Allah, Musailamah pun tewas.

“Aku lalu menghampiri Abu `Uqail yang roboh dengan nafas terakhirnya.

“Abu `Uqail!” kataku.

“Iya!” jawabnya dengan mulut bergetar.

“Siapa yang lari?” tanyanya.

“Bergembiralah! Musuh Allah telah terbunuh!” jawabku dengan mengencangkan suara.

Abu `Uqail lalu menunjukkan jari ke langit, memuji Allah; dan gugurlah Abu `Uqail. Semoga Allah merahmatinya.14

… lantas, apa yang akan Anda katakan setelah semua itu?!

* * *

1 HR Muslim dalam Fadhâil Al-Shahâbah.

2 At-Tauhîd wal Wisâthah fit Tarbiyyah Al-Da`wiyyah, h. 45.

3 At-Tauhîd wal Wisâthah fit Tarbiyyah Al-Da`wiyyah, h. 46

4 Muhammad Al-Ghazâlî, Kaifa Nata`âmalu Ma`a Al-Qurân, h. 45

5 Diriwayatkan oleh Ad-Dârimiy dan Abû Dâwûd di dalam Marâsil-nya, dan Ibn Abî Hâtim, lihat Al-Durr Al-Mantsûr

6 Al-Durr Al-Mantsûr, 5/284

7 Idem.

8 Al-Tauhîd wal Wisâthah, h.42

9 Muhammad Al-Ghazâlî, Kaifa Nata`âmalu Ma`a Al-Qur’ân, h. 30

10 Kanzul `Ummâl, 10/431

11 Al-Durr Al-Mantsûr 3/472

12 Hayât Al-Shahâbah, 2/23

13 Hayât Al-Shahâbah, 2/23

14 Thabaqâti Ibnu Sa`d, 3/361, 362

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (7)*

Al-Qurân: ibadah yang terus diperbarui dan tidak membosankan

Al-Qur’ân tidak menjadi usang karena sering diulang-ulang. Di dalamnya selalu ada yang baru bagi para pembacanya. Andai pun semua orang minum dari sumber Al-Qur’ân, Al-Qur’ân tak akan pernah berhenti memancarkan airnya. Dan tak ada yang merasakan bosan, jemu, atau tidak menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Bahkan yang mengherankan, kita akan dikejutkan bahwa ternyata kita belum mengambil apa-apa dari Al-Qur’ân selain hanya beberapa teguk dan beberapa tetes saja dari kebaikan yang deras mengalir dari sungai Al-Qur’ân yang agung. Maka benar belaka orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’ân masih perawan.

Dalam makna itulah Dr. Muhammad `Abdullah Darrâz r.h. mengatakan,

Anda tengah membaca sepotong ayat Al-Qur’ân dan mendapati kata-kata di dalamnya jelas, halus, teliti, dan kosong dari segala keanehan tujuan. Pengertian katanya segera muncul ke hadapan Anda tanpa kepayahan jiwa maupun pengulangan kata, seakan-akan Anda tidak sedang mendengarkan perkataan dan bahasa, bahkan melihat rupa dan kenyataan yang muncul.

Demikianlah, lantas Anda mengira bahwa Anda telah menguasai dan menemukan maknanya yang terbatas…

Begitulah. Dan ketika Anda mengulangi, membacanya lagi, Anda akan mendapati diri Anda berada di hadapan makna baru selain makna yang telah Anda pahami pertama kali; dan begitu seterusnya sampai Anda melihat bahwa satu kalimat atau satu kata memiliki banyak sisi pemahaman yang semuanya benar, atau ada kemungkinan benar. Ia seakan-akan ibarat berlian yang setiap lekukannya memantulkan sinar. Dan ketika Anda melihat lekukan-lekukannya secara menyeluruh, ia menyilaukan Anda dengan seluruh warna spektrum sehingga Anda tak tahu apa yang telah ditangkap pandangan Anda dan apa yang luput dari penglihatan.

Dan barangkali kalau Anda membiarkan orang lain melihatnya, bisa jadi ia melihat lebih banyak lagi dari yang telah Anda lihat. Demikianlah Anda mendapati sebuah kitab terbuka sepanjang zaman. Setiap orang mengambil apa yang mampu diraihnya. Bahkan Anda melihat samudera yang sangat luas yang batasnya tak pernah dicapai oleh akal-akal individu maupun generasi.

Syaikh Darrâz kemudian memberikan contoh dengan mengatakan,

Bacalah firman Allah Taala,

وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

… Dan Allah memberikan rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan (Al-Baqarah: 212).

Lihat, dalam akal manusia, adakah perkataan yang lebih jelas dari perkataan ini. Kemudian lihat betapa lenturnya kalimat ini! Kalau dalam semakna kalimat itu Anda mengatakan:

  1. Bahwa Allah Swt. memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya tanpa penghitung (akuntan) yang menghitung-Nya dan tanpa penanya (auditor) yang menanyai-Nya, kenapa memberikan banyak rezeki kepada mereka dan membatasi rezeki pada yang lain, maka Anda benar.
  2. Dan kalau Anda mengatakan, Dia Swt. memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun tanpa pelit maupun perhitungan pribadi saat memberikannyakarena takut habis, Anda benar.
  3. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya tanpa pernah ditunggu dan diduga oleh si penerima, Anda benar.
  4. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun tanpa mempersoalkan dan tanpa mendiskusikan perbuatannya, Anda benar.
  5. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun dengan jumlah yang sangat banyak, tanpa pembatasan dan tanpa hitungan, Anda benar.1

Anda membaca, Anda diberi pahala

Dan diatas semua itu, membaca Al-Qur’ân adalah ibadah yang melaluinya seseorang dihitung tengah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hal ini diantaranya yang mendorong seorang Muslim selalu menujunya dan suka bergaul dengannya sebagi sarana mendapatkan pahala, ganjaran dan kedekatan dengan Allah. Dan hal ini tidak terjadi pada kitab lainnya yang mana pun.

Renungkan sabda Rasulullah Saw. ini dan pengaruhnya yang membuat orang suka membaca Al-Qur’ân. “Sukakah kalian ketika pulang ke rumahnya mendapati tiga ekor onta pengusung yang gemuk? Tiga ayat yang kalian baca di dalam shalat lebih baik dari tiga ekor onta pengusung yang gemuk.2

* * *

1 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-NabaAl-`Azhîm, h. 146-147

2 HR Muslim.

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (6)*

Al-Qurân: kata sepakat umat yang tak diperselisihkan oleh siapa pun

Bagi yang menalar tak mungkin mengingkari perselisihan-perselisihan yang ada di antara anak-anak umat Islam, mulai perbedaan antara Ahlussunnah dan Syi`ah hingga perselisihan antara anak-anak Ahlussunnah itu sendiri.

Perbedaan pendapat antara manusia merupakan sebuah realita dengan seribu satu motif yang menyebabkannya, karena perbedaan lingkungan, pemahaman, pengetahuan, dan lain-lainnya.

Perbedaan ini terpuji selama berada dalam ranah yang memungkinkan terjadinya perbedaan. Para Sahabat dan Generasi Salaf pun saling berbeda di antara mereka, akan tetapi mereka tidak berbeda di dalam hal-hal yang umum dan hal-hal pokok, bahkan di dalam hal-hal percabangan.

Perbedaan juga terpuji selama tidak disertai fanatisme dan pengunggulan pendapat sendiri serta membodohkan dan meremehkan pendapat lawan, tidak menghargai usaha lawan, atau merendahkan kedudukan lawan.

Akan tetapi kenyataan mengatakan selain itu. Umat tidaklah dalam genggaman satu hati yang sama. Sebagian perselisihan yang ada telah jauh melampaui batas toleransi.

Sebagian perselisihan telah membawa orang-orang bersangkutan beralih dari sisi obyektifias menuju sisi personalitas. Maka mereka pun menghujat individu-individu, lembaga-lembaga dan menskandalkan mereka.

Dan yang perlu disayangkan, masing-masing menganggap berada dalam kebenaran dan bahwa jalannya merupakan jalan yang paling ideal.

Lantas apakah solusi bagi keadaan yang tak diridhai oleh Allah ini dan yang karenanya umat dihadapkan pada keterpurukan dan penolakan? … dan janganlah kalian saling berbantah sehingga menyebabkan gentar dan kekuatan kalian menjadi hilang (Al-Anfâl: 46).

Kekuatan kita benar-benar telah hilang. Kita telah menjadi aib bagi umat-umat yang ada dan menjadi tamsil dalam keterbelakangan dan keterpurukan.

Kata sepakat

Untuk keluar dari persoalan rumit ini harus ada sesuatu yang menyatukan seluruh individu umat dan disetujui sebagai “pengatur” yang akan menyelesaikan perselisihan ini dan mengoreksi sikap-sikap semuanya. Lantas apakah sesuatu itu, yang bisa menyatukan umat yang jumlahnya mencapai 1,3 milyar lebih ini, ada di sekeliling individu umat tersebut?!

Kalau kita mencarinya di dalam segala hal yang ada di hadapan kita, maka kita tidak akan menemukan apa pun yang disepakati oleh semua orang untuk dijadikan hakim-pengatur selain satu hal, yaitu Al-Qur’ân.

Dan yang mengherankan, Allah telah menyebutnya sebagai tali, seakan-akan tugas dan kemampuannya adalah untuk mengentaskan semua orang, mengangkat mereka dan menyatukan mereka.Dan berpeganglah kalian pada tali Allah serta jangan bercerai-berai! (Âli `Imrân: 103).

Tali Allah itu adalah Al-Qur’ân sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas`ûd dan yang lainnya.

Dan diantara yang menguatkan makna ini adalah sabda Rasulullah Saw., “Kitab Allah adalah tali Allah yang terulur dari langit ke bumi.1

Ketika seseorang menghadapi Al-Qur’ân dengan benar, terlepas dari hasrat hawa nafsunya—bukan malah karena hawa nafsunya, maka Al-Qur’ân akan menebalkan keimanannya dan mengikis hawa nafsu yang ada di hatinya. Dan ini berarti akan bisa mengakhiri sebagian besar persoalan-persoalan yang diperselisihkan.

Begitu pula Al-Qur’ân menjelaskan dan menerangkan banyak permasalahan yang diperselisihkan serta menggariskan peta Islam dengan garis nasab yang benar tanpa melebih-lebihkan atau mempretelinya ke dalam hati. Maka Al-Qur’ân pun memberikan hak kepada yang memiliki hak.

Al-Qur’ân membangun hubungan yang benar bersama Allah, bersama diri sendiri, besama para rasul, bersama para malaikat, bersama orang-orang saleh, bersama alam gaib, bersama alam tampak, dan lain sebagainya.

Ketika hubungan yang benar dengan perkara-perkara tersebut terbangun, maka banyak penyebab perbedaan antara anak-anak umat ini akan hilang.

Sebagai contoh, ketika seseorang membaca firman Allah yang ditujukan kepada Rasul-Nya,Engkau tak sedikit pun memiliki urusan dalam hal ini (Âli `Imrân: 128), dan ia mendapati makna yang dikandung ayat ini terulang di dalam puluhan ayat lainnya, maka hal itu akan mampu mengubah keyakinan di dalam akalnya dan keimanan di dalam hatinya. Sehingga hal ini akan mendorongnya melihat seluruh manusia dengan pandangan ayat tersebut, bahwa: mereka tak sedikit pun memiliki urusan dalam hal ini, meski seberapa pun tingkat kesalehannya.

… makna ini kalau tertanam di dalam akal dan hati kita maka akan mampu mengikis banyak titik perbedaan dan sebab-sebab terjadinya pengelompokkan kecil-kecil serta perpecahan yang diakibatkan oleh pengultusan manusia.

* * *

1 Hadis Sahih riwayat Ibn Abî Syaibah dan Ibn Jarîr dari Abî Sa`îd. Disahihkan oleh Al-Albânî dalam Shahîh Al-Jâmi`, hadis no. 4473.

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (5)*

Al-Qurân dimudahkan untuk diingat dan dipahami

Diantara keistimewaan Al-Qur’ân yang agung adalah, ia dimudahkan untuk diingat. Dan sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’ân untuk diingat, maka adakah orang yang mengingatnya?!(Al-Qamar: 17).

Kapan pun di kala siang maupun malam dan di tempat suci mana pun seseorang boleh berjumpa dengan Al-Qur’ân.

Bisa jadi pembacaan Al-Qur’ân terbatas pada waktu-waktu atau tempat-tempat tertentu, semisal di masjid, tetapi Allah telah menjadikan hal-hal ini bisa ditemukan dengan mudah demi memberi kesempatan semua orang untuk bertemu dengan Al-Qur’ân pada saat-saat yang sesuai dengan mereka. Dan ini—tak ayal—memberikan keistimewaan besar pada Al-Qur’ân untuk menyerap semua orang di berbagai macam kondisi dan keadaan mereka.

Sapaan untuk umum dan sapaan untuk orang-orang tertentu

Disamping kemudahan Al-Qur’ân untuk dibaca kapan pun dan dimana pun, begitu pula Al-Qur’ân dimudahkan untuk dipahami. Sapaan ayat-ayatnya ditujukan untuk orang umum maupun orang khusus.

Dr. Darrâz mengatakan,

Kedua tujuan ini sulit dicapai manusia. Kalau Anda menyapa orang-orang pandai dengan sapaan terang-terangan dan terbuka seperti ketika menyapa orang-orang umum, niscaya Anda membuat mereka turun derajat ke level yang tak mereka sukai dalam pembicaraan.

Dan kalau Anda menyapa orang-orang umum dengan ucapan sepintas lalu dan berupa isyarat seperti ketika berbicara kepada orang-orang pandai, niscaya Anda telah membebani akal mereka dengan sesuatu yang tak mereka mampui. Maka, jika Anda ingin memberikan porsi sempurna dalam penjelasan Anda kepada masing-masing kelompok ini, Anda harus berbicara kepada mereka menggunakan sapaan masing-masing yang sesuai. Seperti ketika Anda menyapa anak kecil dengan bahasa yang bukan untuk orang dewasa.

Adapun satu kalimat diperuntukan bagi orang-orang alim dan orang-orang bodoh, para cendekia dan orang-orang dungu, rakyat jelata dan para raja, lalu masing-masing merasa sesuai dengan ukuran akal dan kebutuhannya, maka hal itu tak bisa Anda temui dengan begitu sempurna, kecuali di dalam Al-Qur’ân.

Ia hanya Al-Qur’ân semata yang para ahli bahasa melihatnya sebagai: sebaik-baik perkataan dengan ungkapan-ungkapan yang paling baik. Orang-orang umum juga melihatnya sebagai perkataan yang paling baik, paling mendekati akal-akal mereka, tidak berbelit-belit bagi pemahaman mereka, tidak memerlukan penerjemah di balik peletakan bahasanya—dan ia merupakan kesukaan bagi orang umum maupun orang khusus. Dimudahkan bagi semua orang yang menginginkannya. Dan sungguh Kami telah memudahkan Al-Qur’ân untuk diingat, maka adakah orang yang mengingatnya?!(Al-Qamar: 17).

Irit kata namun sempurna maknanya

Diantara sarana pemudahan Al-Qur’ân sebagai bacaan adalah: ia berupa kitab yang ringkas, meskipun makna-maknanya sangat luas. Diperlukan kitab berjilid-jilid besar untuk memaparkan makna-maknanya.

Pembaca yang budiman, khayalkan bersama saya kalau Al-Qur’ân itu berjilid-jilid jumlahnya, apakah manusia akan menerimanya? Apakah memungkinkan mereka membaca kitab ini dari awal hingga akhir, ataukah mereka akan merasa ngeri lebih dulu dan malas menyelesaikan bacaannya?!

Keringkasan yang mengagumkan ini menyatukan antara keiritan kata dan kepuasan makna. Dua hal yang berlawanan ini tak mungkin bisa bertemu di dalam perkataan mana pun selain di dalam Al-Qur’ân, sebagaimana yang dikatakan oleh Dr. Darrâz.

Tulisan yang berusaha menghemat kata dan tidak memaparkan kata-kata yang ada, kecuali sebatas keperluan maka sedikit banyak hal ini akan menjadikan tulisan sulit menghindari kesusahan pemaknaan. Kehati-hatian akan membawa seseorang berlaku ganda dan berlebih-lebihan. Ia akan berusaha menyatukan batas-batas yang ada dan membuang apa yang bisa dibuang, mulai dari instrumen pembuka, stimulasi, pernyataan, penguatan, dan lain sebagainya yang diperlukan oleh jiwa dalam sebuah uraian penjelasan; hingga akhirnya menghasilkan sepotong baju yang kekecilan dan tak sesuai tujuan, atau menghasilkan kerangka tulang yang tak terbungkus daging dan urat saraf. Betapa banyak kejadian, satu huruf yang hilang dari perkataan menyebabkan hilangnya kecairan dan keindahan kata serta menutupi matahari kefasihannya.

Sementara tulisan yang berusaha memenuhi kebutuhan makna-makna, jeli pada setiap unsurnya, menampakkan semua detail yang seharusnya tak perlu ditampakkankarena merasa tak puas dengan kata yang minim, sehingga membuatnya memilih menyampaikan risalah secara sempurna. Ketika seseorang berusaha memenuhi semua kebutuhan makna ini, maka ia tengah menjauhkan batas-batas perkataannya dan memperlambat Anda mencapai tujuannya. Sehingga Anda pun merasa bahwa kekuatan aktif dan energi pembangkit penerimaan Anda mulai menurun dan hilang.1

jika Anda suka melihat bagaimana kedua tujuan ini menyatu secara sempurna tanpa jeda dan tanpa terputus maka lihatlah kalimat-kalimat yang mana pun di dalam Al-Qur’ân, di sana Anda akan mendapati penjelasan telah ditakar dengan sebaik-baiknya berdasarkan kebutuhan jiwa. Sehingga Anda pun tidak merasakan adanya ukuran yang terlalu berlebihan maupun yang terlalu berhemat.

Kalimat-kalimatnya akan memberikan semua makna kepada Anda dalam bentuk yang jernih dan penuh. Jernih karena tak dicemari oleh hal-hal yang asing darinya. Dan penuh karena tak ada sesuatu yang menyimpang dari unsur-unsur aslinya dan tambahan-tambahan penyempurnanya… Semua itu dalam rangkaian yang paling ringkas dan paling jelas.

bukalah halaman mana pun dari Al-Qur’ân lalu hitunglah kalimat-kalimat di situ. Kemudian hitung pula kalimat dari ungkapan-ungkapan terbaik yang Anda pilih dari selain Al-Qur’ân, lalu lihat prosentase makna yang dimuat oleh kata-kata ini dengan kata-kata Al-Qur’ân. Lihat, berapa kata yang bisa Anda buang atau Anda ganti dari kalimat-kalimat lain itu tanpa merusak tujuan pengucapnya? Lalu, kata-kata apakah yang bisa Anda buang atau Anda ganti dari Al-Qur’ân?

Kitab Allahsebagaimana yang dikatakan Ibn `Athiyyahkalau satu kata saja diambil darinya kemudian lidah Arab mencari satu kata yang lebih baik darinya, maka tak akan menemukan kata itu. Bahkan Al-Qur’ân adalah seperti yang didiskripsikan oleh Allah, … sebuah Kitab yang ayat-ayatnya disusun rapi serta dijelaskan dengan terperinci; diturunkan dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui (Hûd: 1).2

Al-Qur’ân seluruh kalimatnya ringkas

Seluruh kalimat Al-Qur’ân berupa kalimat yang ringkas, baik pada kalimat-kalimat penjelasan globalnya maupun kalimat-kalimat perinciannya. Al-Qur’ân selalu memilih kata yang paling pendek dalam melahirkan makna yang paling banyak. Iya, itulah fenomena menonjol yang ada pada seluruh kalimat-kalimat Al-Qur’ân, baik di tempat-tempat penjelasan global yang oleh orang-orang disebut dengan nama îjâz (ringkas) maupun di tempat-tempat penjelasan terperinci yang oleh orang-orang disebut dengan nama ithnâb (panjang lebar). Meskipun begitu, kami menyebut semuanya sebagai îjâz (ringkas). Karena tak ada satu kata pun di dalam Al-Qur’ân disebut, kecuali merupakan kunci bagi suatu faedah yang agung; dan tak ada satu huruf pun di dalam Al-Qur’ân disebut, kecuali karena suatu makna.3

* * *

1 Idem, 138-139.

2 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-NabaAl-`Azhîm, h. 141-142

3 Idem, h. 158-159.

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (4)*

Al-Qurân memiliki kemampuan secara terus-menerus mempengaruhi perasaan, menggetarkan senar-senar hati, dan membangkitkan energi serta kekuatan jiwa.

Allah telah meletakkan kualitas khusus yang sangat menakjubkan di dalam Al-Qur’ân. Kualitas yang akan membantu mengaktifkan kemukjizatan Al-Qur’ân dalam melaksanakan peran vital membangkitkan kekuatan jiwa. Kekuatan yang akan mendorong diri melakukan tindakan nyata yang ditunjukkan. Kualitas khusus inilah kemampuan istimewa Al-Qur’ân—dengan izin Allah—yang secara terus-menerus bisa mempengaruhi perasaan.

Dan kita akan menggarisbawahi kualitas khusus ini yang ada di dalam kata-kata dan uraian Al-Qur’ân.

Berkaitan dengan kata-katanya, susunan huruf dan kalimatnya, kita dapati komposisi nada dan suaranya—ketika dibaca dengan bacaan tartîl yang benar—memiliki pengaruh yang sangat menyentuh jiwa. Ia memiliki keindahan peletakan yang sangat mempesona, mulai dari pemberian vokal dan konsonan, pemanjangan dan penyengauan, penyambungan dan pemberhentian yang tak mungkin didapati dalam selain Al-Qur’ân.

Prof. Dr. Muhammad `Abdullah Darrâz mengatakan,

Yang pertama kali akan Anda temui dan menarik perhatian Anda dari susunan Al-Qur’ân adalah keistimewaan susunan suaranya, dari sisi bentuk dan esensinya.

Biarkan seorang pembaca mahir membaca Al-Qur’ân secara tartil, kemudian ambil tempat berjauhan sekiranya tak mendengar suara huruf-hurufnya, tetapi masih bisa mendengar suara harakah dan sukun-nya (suara vokal tanpa konsonan), pemanjangan dan penyengauannya, penyambungan dan pemberhentiannya. Kemudian dengarkan kumpulan suara itu yang telah benar-benar terlepas dari hurufnya atau yang dikirimkan secara lugu dan alami melalui udara, niscaya Anda akan mendapati diri berada di hadapan melodi unik yang mempesona yang tak akan Anda temui di dalam perkataan mana pun ketika perkataan itu dilepas sedemikian rupa dan diucapkan dengan langgamnya.

Anda akan mendapati harmoni dan keselarasan yang menarik pendengaran sebagaimana yang dilakukan oleh musik dan syair, padahal ia bukan nada-nada musik maupun matra-matra syair. Begitulah, Anda mendengar sajak dari suatu syair karena ia menyatu dengan matra-matranya, bait per bait dan baris per baris. Sehingga telinga Anda menjadi tak tertarik lagidan tabiat manusia yang mudah bosandengan sesuatu yang terus diulang dengan penataan yang sama. Sementara bersama Al-Qur’ân Anda akan selalu disuguhi banyak melodi yang diperbarui, saling beralih antara efek-efek, senar-senar dan penggalan-penggalannya dengan berbagai komposisi yang berbeda. Sehingga dengan begitu setiap senar hati mendapatkan porsi yang sama; dan meskipun banyak diulang, pengulangan ini tak membuat Anda bosan maupun jemu, bahkan terus bertahan meminta tambah.

Keindahan peletakan bahasa Al-Qur’ân ini bisa diketahui oleh siapa pun yang mendengarkan Al-Qur’ân, meskipun oleh mereka yang tak mengetahui bahasa Arab. Sehingga bagaimana mungkin hal ini tak diketahui oleh orang Arab sendiri?!1

Bersamaan dengan keindahan peletakan, begitu pula keindahan penataan deretan hurufnya, formasinya dalam kumpulan keselarasan yang berbeda-beda2 yang semakin menambah kekuatan pengaruhnya terhadap perasaan.

Samudera tanpa batas

Itu tadi dari sisi kulit luar kata-kata Al-Qur’ân. Adapun yang berkaitan dengan uraiannya, maknanya dan kekuatan pengaruhnya pada hati, maka tak satu pun makhluk hidup yang mampu menemukan seluruh dimensinya, bahkan yang mampu ditemukan hanyalah tegukan-tegukan yang kita hisap dari samudera tanpa batas.

Penjelasan Qur’âni membawa berbagai macam gaya yang menyapa perasaan dan menggetarkan senar-senar hati. Maka penjelasan Al-Qur’ân pun mampu mempengaruhinya, membuatnya terpesona dan menggoncangnya dengan keras sehingga melahirkan reaksi, membangkitkan energi dan kekuatan jiwa, menguatkan tekad, mengencangkan kehendak untuk melaksanakan arahan-arahan yang dibawa oleh ayat-ayatnya.

Maka Anda pun akan mendapati Al-Qur’ân penuh dengan gaya-gaya: pembangkitan rasa senang dan rasa takut, rasa rindu, rasa tertarik, pemberian pepatah dan amsal, kisah, penawaran pilihan, persuasif, pelumeran perasaan, pelarian diri, peringatan, dorongan, pengesahan, pujian, permbangkitan rasa cemburu, semangat bersaing, dan lain-lainnya.

Semua itu dan yang lainnya bisa dengan mudah Anda temukan saat membaca Al-Qur’ân beberapa ayat saja. Semua itu menyatu dalam pembacaan tartil yang benar yang dipengaruhi oleh keteraturan nada dan suara, serta pentadaburan dan pemahaman yang dipengaruhi oleh makna; maka lahirlah kekuatan jiwa yang kita idamkan.

Jika Anda menginginkan contoh pengaruh bacaan yang benar pada makna dan pengaruh yang ditimbulkannya pada hati, lalu kemudian pada tubuh berupa gerakan, bacalah—misalnya—firman Allah dalam Surah Al-Muddatstsir: 1-2,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

Wahai orang yang berselimut!Bangunlah, lalu berikan peringatan!

Begitu pula firman Allah dalam Surah Âli `Imran: 193,

رَبَّنَاإِنَّنَاسَمِعْنَامُنَادِيًايُنَادِيلِلْإِيمَانِأَنْآمِنُوابِرَبِّكُمْفَآمَنَّارَبَّنَافَاغْفِرْلَنَاذُنُوبَنَاوَكَفِّرْعَنَّاسَيِّئَاتِنَاوَتَوَفَّنَامَعَالْأَبْرَارِ

Wahai Rabb kami! Sesungguhnya kami telah mendengar penyeru yang menyeru pada keimanan: yaitu, “Hendaklah kalian beriman kepada Rabb kalian!” Maka kami pun beriman. Wahai Rabb kami! Maka ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah keburukan-keburukan kami serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang baik.

Dan baca pula anjuran kata-kata semisal itu: bergegaslah-berlombalah-mereka pun tenggelam dalam sujud dan tangis, lalu pengaruhnya pada hati dan tubuh.

* * *

1 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-NabaAl-`Azhîm, h. 127-131

2 Muhammad `Abdullâh Darrâz dalam Al-NabaAl-`Azhîm, h. 132-133 mengatakan, “Lalu ketika Anda mendekatkan telinga sedikit demi sedikit maka untaian mutiara hurufnya yang keluar dari makhraj-nya yang benar akan memasuki pendengaran Anda. Sehingga Anda pun akan dikejutkan dengan kelezatan lain di dalam susunan huruf-hurufnya, kerapian deretan, dan urutan peletakannya. Ini bersuara mengetuk, itu menyuit, itu mendesis, itu lantang, yang disana terselip di antara nafas, dan yang lain tertahan oleh nafas, dan yang lain-lainnya. Maka Anda pun melihat keindahan bahasa hadir di hadapan Anda dalam kumpulan yang berbeda-beda namun tetap selaras. Tak ada pengulangan yang berulang-ulang atau celoteh yang tak berguna. Tak ada kelesuan dan kelemahan (rakhâwah) maupun ungkapan yang berbelit-belit (mu`âzhalah). Juga tak ada pengabaian maupun kedisharmonian antara huruf-hurufnya. Begitu pula Anda melihat ungkapan-ungkapannya bukan berupa ungkapan-ungkapan perkotaan yang dingin maupun ungkapan-ungkapan pedesaan yang kasar, bahkan Anda melihatnya berupa campuran keterus-terangan dan keagungan pedesaan dengan kehalusan dan kelembutan bahasa perkotaan. Dan semuanya dalam takaran yang sempurna, tanpa saling menekan.

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (3)*

Al-Qurân berbicara pada pikiran dan perasaan secara bersamaan

Diantara keajaiban Al-Qur’ân yang unik dibanding kitab-kitab suci lainnya adalah Al-Qur’ân menyapa pikiran dan perasaan secara bersamaan, di saat yang sama. Ia berbicara pada akal dan membuat akal puas atas apa yang diinginkan. Pada saat yang sama, pembicaraan ini merembes ke dalam perasaan sehingga mempengaruhinya dan mendorongnya memberi respon, sehingga kepuasan akal berubah menjadi keimanan hati. Dan ini tidak mungkin terjadi pada pembicaraan-pembicaraan lainya, yang mana pun.

Para pengguna logika ketika ingin meyakinkan orang lain pada sebuah pemikiran tertentu, mereka akan menggunakan cara-cara pemuasan akal yang beraneka ragam. Dan terbukti bisa memuaskan akal, tetapi tetap saja pemikiran ini terkekang di dalam akal dan tidak merembes ke dalam hati untuk kemudian menjadi sebuah keimanan—yang dengan keimanan ini mendorong terjadinya pengamalan. Hal itu disebabkan karena mereka tak bisa membakar hati dan tak bisa mempengaruhi perasaan dengan pemikirannya. Hal ini sulit dilakukan. Kemampuan pengguna logika dan kemampuan seluruh manusia tidak memungkinkan melakukan hal tersebut.

Dalam makna semacam itulah Dr. Muhammad `Abdullah Darrâz r.h. mengatakan,

Di dalam jiwa manusia terdapat dua kekuatan: kekuatan pemikiran dan kekuatan perasaan. Kebutuhan yang diperlukan masing-masing kekuatan tidak sama. Salah satu darinya menggali kebenaran untuk dikenalinya dan menggali kebaikan untuk dilakukan. Sementara yang satunya lagi merekam indra-indra perasanya terhadap kenikmatan dan kepedihan atas suatu hal. Penjelasan yang sempurna yang bisa memenuhi kebutuhan kedua kekuatan tersebut akan bisa membawamu terbang menggunakan kedua sayapnya, dan masing-masing akan memberikan porsinya: kemanfaatan akal dan kenikmatan perasaan secara bersamaan.

Lalu apakah Anda menemukan kesempurnaan ini pada penjelasan perkataan manusia?

Kita telah mengenal perkataan para ilmuwan dan perkataan para penguasa. Kita juga telah mengenal perkataan para sastrawan dan para pujangga, dan kita tidak menemukan dari semua orang itu selain perkataan yang berlebih-lebihan di satu sisi dan keterbatasan di sisi yang lain. Perkataan yang bisa memahamkan akal, tetapi tak bisa menyentuh perasaan; dan yang bisa mempengaruhi perasan bahagia atau sengsara, tetapi lemah penalarannya. Demikianlah jiwa manusia tidak bisa membidik dua tujuan ini menjadi satu tujuan. Kalau ada yang bisa, tentulah ia merupakan jiwa yang mampu merangsang dan merenungkan sekaligus.

Kaidah ini bisa Anda buktikan di dalam setiap perkataan lisan dan tulisan. Kekuatan mana yang menguasai saat mengucapkan atau menuliskan perkataan itu. Ketika Anda mendapatinya mengarah pada penegakan kenyataan pandangan (teori) atau mendiskripsikan cara prosedural, maka Anda mengatakan: ini buah pikiran.

Dan ketika Anda mendapatinya menghasut jiwa atau menakut-nakutinya, menahan atau melepaskannya, merangsang kesenangan atau kepedihan yang terpendam di dalamnya, maka Anda mengatakan, ini buah perasaan. Dan ketika Anda melihatnya berpindah dari satu kekuatan menuju kekuatan berikutnya, maka dengan itu Anda mengetahui rangkaian pemikiran dan perasaan pada dirinya. Adapun satu model perkataan yang menuju satu arah namun bisa menggabungkan dua kekuatan ini secara bersamaansebagaimana satu ranting pohon membawakan daun, bunga dan buah secara bersamaanhal ini tak bisa dilakukan oleh perkataan manusia, juga bukan sunnah Allah dalam jiwa manusia. Adapun Allah, Dia adalah Dzat yang tak disibukkan oleh keadaan-keadaan dan kondisi. Dia-lah yang mampu berbicara pada akal dan hati secara bersamaan. Ar-Rahman, (Yang Maha pemurah); yang telah mengajarkan Al-Qur’ân; yang telah menciptakan manusia; yang telah mengajarkannya kefasihan (Ar-Rahmân: 1-4).

Dia-lah yang mampu menyampur kebenaran dan keindahan menjadi saling bertemu; dan dari keduanya memancarkan minuman jernih-murni yang melezatkan orang-orang yang meminumnya. Inilah yang Anda dapati di dalam Kitab-Nya yang mulia, di bagian mana pun Anda membacanya.

Tidakkah Anda melihat disela-sela kisah dan berita-Nya, Dia tak melupakan hak akal untuk mendapatkan hikmah (kebijakan) dan ibrah (pelajaran)?

Tidakkah Anda melihat di dalam kegemparan bukti-bukti dan sanksi-sanksi-Nya, Dia tidak melupakan bagian hati untuk merindu, melumer, mewaspadai, membenci, menakuti, mengagumi, mencela, dan menegur? Dia menebarkan itu semua di permulaan-permulaan ayat, penggalan-penggalan ayat, dan pengulangan-pengulangan ayat.

Bacalah misalnya firman Allah,Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang makruf, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Rabb kalian. Namun barangsiapa melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih(Al-Baqarah: 178). Lihatlah ungkapan persuasif agar seseorang melakukan ketaatan di awal ayat di atas dengan ucapan,Hai orang-orang yang beriman; lalu pelumeran perasaan antara yang didekati dan yang mendekati dengan ungkapansaudaranya,cara yang makruf,cara yang baik; ungkapan terimakasih dengan katakeringanan dan rahmat dari Rabb kalian; dan ancaman di akhir ayat.

Kemudian lihat dalam masalah apa ayat ini berbicara? Bukankah dalam masalah kewajiban yang detail dan kasus berdarah?

Makna-makna semacam ini terdapat di dalam seluruh ayat hukum, bahkan hingga hukum-hukum sumpah dan zhihâr.1

Di buku undang-undang manakah terdapat ruh semacam ini?

Bahkan dalam bahasa manakah terdapat penyampuran yang menakjubkan ini? Demi Allah kalau saja seseorang berusaha menggabungkan dua kekuatan ini dalam satu penjelasannya, hingga membagi perhatian dan bagaian-bagian jiwanya, pasti orang itu hanya akan mampu membuat kilasan-kilasan berpencar, dan datang dengan baju penjelasannya yang penuh tambalan.2

Dan diantara contoh pembicaraan sempurna yang tak satu pun kuasa melakukannya—selain Allah—yang mengajak bicara akal dan perasaan sekaligus, dan yang memaparkan isu sangat sensitif tanpa melukai perasaan pembacanya, baik laki-laki maupun perempuan adalah firman-Nya: Isteri-isteri kalian adalah ladang kalian, maka datangilah ladang kalian itu dari mana pun kalian menghendaki dan dahuluilah (dengan kebaikan) untuk diri kalian. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya! Beri kabar gembira kepada mereka yang beriman (Al-Baqarah: 223).

* * *

1 zhihâr, sejenis sumpah, ia berupa perkataan suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya sendiri dengan tujuan menyakiti istri—dengan cara tidak memberi nafkah batin. Karena seorang anak tidak dibenarkan menggauli ibunya sendiri secara seksual, penerj.

2 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-Naba’ Al-`Azhîm, 143-146, dengan penyesuaian.

tulisan ini saya sunting dari salah satu buku yang telah saya terjemahkan

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (2)*

Al-Qurân menyatukan antara risalah dan mukjizat

Al-Qur’ân tidak sama dengan kitab-kitab samawi lainnya yang telah turun lebih dulu. Al-Qur’ân menyatukan antara dua hal yang agung: risalah dan mukjizat.

Risalah Qur’âniah seperti kitab-kitab suci terdahulu, menunjukkan manusia kepada Allah, menunjukkan mereka pada jalan yang menyampaikan kepada-Nya, menjelaskan rintangan-rintangan dan kelokan-kelokan yang mungkin ditemui, dan bagaimana cara menghadapinya. Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) (Al-Baqarah: 185).

Itu pula yang menjadi fungsi Kitab Injil, … dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (Al-Mâidah: 46).

Begitu pula Kitab Taurat dan seluruh kitab suci lainnya, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya (Al-Mâidah: 44).

Tetapi mengetahui jalan semata, apakah telah cukup bagi seseorang untuk menempuhnya? Tidakkah di sana, di dalam diri manusia sendiri, terdapat rintangan-rintangan yang menghalanginya menempuh jalan petunjuk?!

Tidakkah hawa nafsu dan pengaruhnya pada hati memiliki peran besar dalam menghalangi dan mengekang manusia menempuh jalan Allah?!

Dari sini tampak keagungan dan keunggulan Al-Qur’ân dibanding kitab-kitab suci terdahulu. Allah telah meletakkan kemukjizatan yang luar biasa di dalam Al-Qur’ân. Mukjizat yang jauh lebih besar dibanding mukjizat-mukjizat Isa, Musa, Saleh dan rasul-rasul serta nabi-nabi terdahulu.

Kemukjizatan Al-Qur’ân yang luar biasa tidak hanya terletak pada kefasihannya, kekekalannya, keterjagaannya dari penyimpangan, dan tidak hanya dalam kesesuaian Al-Qur’ân bagi setiap zaman dan tempat, bahkan kemukjizatannya jauh di atas itu semua. Rahasia kemukjizatan Al-Qur’ân tersimpan di dalam kemampuannya yang istimewa—dengan izin Allah—melakukan perubahan, menebarkan ruh kehidupan yang hakiki dan membangkitkan kekuatan bagi mereka yang siap menerima.Dan demikianlah Kami mewahyukan rûh (Al-Qur’ân) kepadamu dengan perintah Kami (Asy-Syûrâ: 52).

Kemukjizatan Al-Qur’ân berperan menyambungkan aliran hidup ke dalam hati sehingga menyadarkannya dari kelalaian, menghidupkannya dari kematian dan bergegas menuju Rabb-nya. Dan apakah orang yang dulunya mati, lalu Kami hidupkan dan Kami berikan cahaya kepadanyayang dengan cahaya itu ia berjalan di tengah-tengah manusiasama dengan orang yang tetap berada dalam kegelap-gulitaan yang sama sekali tak pernah bisa keluar darinya? (Al-An`âm: 122).

Dan sungguh, jika risalah Al-Qur’ân telah menjelaskan jalan kepada manusia, jalan yang mengantarkannya kepada Allah; maka kemukjizatan Al-Qur’ân berperan menggandeng tangan mereka menuju jalan ini, menjalankannya, menuntunnya, dan menjamin keberhasilan mereka keluar dari kegelapan yang merundungnya menuju cahaya Allah yang terang-benderang di dunia, di surga dan di akhirat.

Di dalam Al-Qur’ân terdapat banyak ayat yang menjelaskan dua fungsi ini, diantaranya yang terdapat di dalam surah Al-Mâidah: 15-16, Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan! Dengan Kitab itu Allah menunjukkan orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan.

Di sini ayat-ayat tersebut menjelaskan fungsi Al-Qur’ân sebagai risalah yang menunjukkan. Adapun fungsinya sebagai mukjizat dijelaskan oleh lanjutan ayat di atas, dan Allah mengeluarkan mereka dari kegelap-gulitaan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus (Al-Mâidah: 16).

Pengeluaran dari kegelapan—dari tempat yang telah menjadi kebiasaan manusia—memerlukan kekuatan pendorong dan energi yang terbangkitkan dari dalam diri manusia itu sendiri, sehingga memudahkannya mengambil keputusan bangkit dan keluar dari apa yang telah menjadi kebiasaannya. Dan inilah fungsi kemukjizatan Al-Qur’ân yang menjadi kompetensi Allah. Rasulullah Saw. bersabda, “Tak seorang pun dari para nabi, kecuali dibekali dengan sesama mukjizat yang dipercayai manusia. Adapun yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diturunkan Allah. Maka aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat.1

Al-Hâfizh Ibn Katsîr mengomentari hadis ini dengan mengatakan,

Artinya mukjizat setiap nabi padam dengan meninggalnya nabi bersangkutan. Sementara Al-Qur’ân ini menjadi bukti dan argumen yang kekal selamanya, keajaibannya tidak pupus, dan tidak menimbulkan banyak penolakan.

Sesungguhnya tak pernah ada argumentasi maupun mukjizat yang lebih berhasil dan lebih diterima akal dan jiwa melebihi Al-Qur’ân ini. Kitab yang sekiranya oleh Allah diturunkan di atas gunung, niscaya gunung itu akan kau lihat tunduk dan pecah karena takut kepada Allah.2

* * *

1 HR Al-Bukhârî, dari Abu Hurairah, 4598

KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (1)*

Al-Qurân adalah pilihan Allah untuk seluruh hamba-Nya

Allah Taala adalah pengatur (rabb) yang mengatur hamba-hamba-Nya dan mengurus mereka. Dia yang memberikan bantuan dengan semua bentuk bantuan yang diperlukan hamba-hamba tersebut, semisal makanan, minuman, undara, keamanan dan pemeliharaan. Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada-(tempat tumbuh)-nya kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan (An-Nahl: 10-11).

Rabb Yang Mahaagung ini menyintai seluruh hamba-Nya, menginginkan kebaikan dan keberhasilan mereka dalam ujian, yang mereka turun ke bumi karena untuk melaksanakan ujian ini. Dia menginginkan seluruh hamba-Nya masuk ke dalam surga. … sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya (Al-Baqarah: 221).

Bagaimana tidak begitu, orang Dia telah mengistimewakan manusia untuk Diri-Nya dan memuliakan manusia melebihi seluruh ciptaan-Nya.Dan sungguh Kami telah memuliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan (Al-Isrâ’: 70).

Dan karena Dia Yang Mahasuci yang telah menciptakan manusia, sehingga Dia jauh lebih tahu tentang manusia dibanding manusia itu sendiri. Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui, padahal Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui? (Al-Mulk: 14). Maka Dia pun telah mengetahui kebutuhan manusia akan obat yang mampu menyembuhkan; obat yang akan memperlihatkan manusia pada jalan petunjuk; yang akan membangkitkan kekuatan serta tekad manusia untuk menempuh jalan ini. Sehingga Dia pun telah menyiapkan obat khusus yang sesuai dengan kondisi manusia hingga datangnya hari kiamat. Obat itu adalah Al-Qur’ân yang: Diturunkan dari Dzat Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Fushshilat: 2).

Suatu hal yang menarik perhatian adalah terdapat banyak ayat Al-Qur’ân yang menegaskan makna ini dan memberitahukan kepada kita bahwa Al-Qur’ân “Diturunkan dari Rabb-nya seluruh semesta”.

Rabb seluruh semestalah yang mengurus seluruh umat manusia, dan Dia yang telah menurunkan Al-Qur’ânnya.

Maka, Al-Qur’ân adalah pilihan Allah untuk seluruh hamba-Nya,Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat, penyembuh penyakit-penyakit di dalam dada, petunjuk, dan rahmat dari Rabb-mu untuk orang-orang yang mukmin (Yûnus: 57).

Dia Yang Mahatahu dan Yang Mahakuasa telah menjadikan kunci-kunci bagi setiap hal yang tertutup dan kesembuhan bagi setiap penyakit. Dan dari Al-Quran Kami menurunkan apa-apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang beriman (Al-Isrâ’: 82);Sesungguhnya Al-Qur’ân ini menunjukkan pada yang lebih lurus (Al-Isrâ’: 9).

Akan tetapi kemanusiaan ini tak mau mengembalikan alat kepada Pembuat-nya, atau membawa orang sakit kepada Penyembuhnya. Juga tidak menanyakan keadaan dirinya, keadaan kemanusiaannya, keadaan kebahagiaannya atau penderitaannya seperti yang sering ia tanyakan mengenai perabotan dan peralatan material murah yang biasa digunakannya dalam kebutuhan-kebutuhan sepele sehari-hari. Orang itu tahu bahwa untuk memperbaiki perabotan ia perlu mendatangkan insinyur pabrik pembuat perabotan, akan tetapi orang itu tak menerapkan kaidah ini pada dirinya—sehingga mau mengembalikan diri kepada pabrik yang membuatnya; atau meminta arahan Sang Pembuat yang telah mencipta perabot kemanusiaan yang agung, mulia, rumit dan lembut ini. Tak ada yang mengetahui saluran-saluran dan jalan masuk perabotan yang rumit, kecuali yang telah menciptakan dan mengembangkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Tidakkah Dia yang menciptakan itu mengetahui, padahal Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?! (Al-Mulk: 13-14).

***

* tulisan ini saya sunting dari salah satu buku ang telah saya terjemahkan