PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (2)

PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (2)
sebuah komentar agamis

“Mengapa mereka tidak dalam siksaan Tuhan?”

Dalam pengalaman gaibnya (http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/), Ki Sabdalangit menceritakan:

Konon menurut cerita orang tua kami, leluhur-leluhur yang namanya tersebut dalam silsilah, dan pernah kutemui di dalam dimensi gaib itu, ada yang beragama Hindu Syiwa, Kabuyutan, Budha, Katolik dan juga eyang saya lainnya yang dulunya seorang penghayat nilai-nilai hakekat Islam. Termasuk eyang canggah yang seorang penghayat ajaran Kejawen. Aku mulai berfikir dan bertanya, mengapa beliau masih bisa kutemui dalam keadaan baik-baik semua? Jika agama di dunia ini yang benar hanya satu, mengapa beliau semua tetap dalam kondisi baik. Sebab waktu itu bayanganku sebagai “anak kemarin sore” yang masih awam, jika si A tidak memeluk agama ini, itu … berarti salah dan menjadi orang tersesat, maka mereka tak akan diterima di sisi Tuhan. Tetapi kenyataannya kok demikian adanya?! Walau mereka dari berbagai latar-belakang keyakinan yang berbeda-beda kok tidak dalam siksaan Tuhan?

Mengenai hal ini ada beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa Allah tidak berlaku sewenang-wenang dalam menyiksa hamba-Nya.

Ayat pertama terletak di dalam surat Al-Isra’, surat ke 17, ayat ke 15. Terjemahannya kira-kira begini: Barangsiapa melakukan perbuatan dengan mengikuti petunjuk maka sesungguhnya ia tengah memberikan petunjuk untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa melakukan perbuatan tanpa berdasarkan petunjuk (sembarangan, ngawur, asal-asalan) maka sesungguhnya ia tengah menyesatkan dirinya sendiri. Seseorang tidak akan menanggung dosa yang dilakukan oleh orang lain. Dan Kami tidaklah memberikan siksaan hingga Kami mengutus rasul (penyampai petunjuk).

Pointnya terletak pada bunyi ayat: wama kunna mu`adzdzabina hatta nab`atsa rasula… (Dan Kami tidaklah memberikan siksaan hingga Kami mengutus rasul).

Dari situ barangkali Ki Sabdalangit bisa menanyakan kepada arwah yang ditemui, apakah semua orang yang pernah dikenal oleh leluhurnya semasa hidup–entah orang yang baik maupun orang yang jahat—mendapatkan kehidupan yang sama seperti yang dialami oleh para leluhur itu, ataukah tidak.

Jika jawabannya iya (semua sama, mendapatkan kehidupan damai di alam sana), maka rasul yang dimaksudkan oleh ayat al-Qur’an diatas adalah sosok manusia yang berperan menyampaikan petunjuk-petunjuk kebenaran dan kebaikan dari Tuhan. Dan itu berarti, belum pernah ada sosok manusia rasul yang diutus kepada mereka sehingga mereka pun tidak menerima siksaan, sebagaimana firman Allah di atas berlaku, “Kami tidaklah memberikan siksaan hingga Kami mengutus [seorang] rasul.”

Dan memang sejauh pengetahuan kita, tidak ada sosok manusia yang secara resmi menjadi utusan Tuhan–yang diberi tugas menyampaikan petunjuk kebenaran dari Tuhan–dari bumi Nusantara. Karena itu kita anggap tidak ada utusan Allah di bumi Nusantara. Dan oleh karenanya, semua orang berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Entah orang ini baik maupun tidak baik. Semua berhak mendapatkan kehidupan tanpa siksaan di alam gaib. Kenapa? Karena tidak ada petunjuk Tuhan mengenai kebaikan atau keburukan; tidak ada petunjuk Tuhan mengenai kebenaran atau kesalahan yang sampai kepada mereka. Berarti memang tidak ada aturannya. Dan karenanya, sudah seharusnya firman Allah berlaku atas mereka, yaitu tidak mendapatkan siksaan–karena tidak ada utusan yang dikirim untuk mereka.

Namun jika jawabannya tidak (dimana terdapat perbedaan perlakuan antara orang yang berperilaku buruk dengan orang yang berperilaku baik, sehingga orang yang berperilaku buruk tidak bisa masuk ke dalam kelompok kehidupan eyang-eyang yang mendapatkan kebahagiaan di alam gaib), berarti telah ada rasul Tuhan di tengah-tengah kehidupan mereka. Hanya saja, kita yang tidak mengenalnya.

Atau,

Jika dalam kenyataannya terbukti memang tidak pernah ada rasul berwujud manusia yang menyampaikan petunjuk-petunjuk kebenaran dan kebaikan Tuhan, maka rasul dalam ayat tersebut bisa dipahami—menurut pendapat sebagian ulama—sebagai akal. Akal merupakan rasul atau utusan Tuhan untuk menyampaikan pesan kebaikan dan kebenaran kepada manusia. Dengan akal, Tuhan memberi kemampuan kepada manusia untuk berpikir, menilai, menimbang dan menemukan bahwa ada Dzat Tunggal yang maha tinggi dan maha berkuasa yang mencipta dan mengatur semesta. Bahkan dengan akal manusia mampu menentukan suatu perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah (seperti yang terjadi pada Nabi Ibrahim saat masa-masa pencariannya).

Jadi, kata ‘rasul‘ menurut pendapat sebagian ulama bisa berwujud akal yang mampu menemukan Dzat Tunggal yang paling berkuasa, dan juga mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, lalu mengikuti yang baik darinya.

Ayat kedua terletak di dalam surat al-Baqarah, surat ke 2, ayat ke 62. Di dalam ayat ini Allah menyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa pun dari mereka yang benar-benar mengimani Allah, Hari Akhir, dan berbuat kebajikan, niscaya mereka memiliki pahala di sisi Tuhannya; dan tidak ada ketakutan maupun kesedihan bagi mereka. (al-Baqarah, 2: 62)

Penjelasan istilah:
orang-orang mukmin (dalam ayat ini): adalah orang-orang yang mengimani risalah Nabi Muhammad dengan kitab sucinya, al-Qur’an (sama dengan kata Muslim atau pemeluk agama Islam saat ini).
orang-orang Yahudi: adalah orang-orang yang mengimani risalah Nabi Musa dengan kitab sucinya, Taurat, Zabur dan lainnya, yang biasa dikenal dengan Perjanjian Lama (sama dengan pemeluk agama Yahudi saat ini).
orang-orang Nasrani: adalah orang-orang yang mengimani risalah Nabi Isa dengan kitab sucinya, Injil yang biasa dikenal dengan Perjanian Baru (sama dengan pemeluk agama Kristen saat ini).
orang-orang Shabiin adalah orang-orang yang: menyembah planet atau bintang; atau menyembah malaikat; atau tidak memiliki agama (bukan mengingkari agama, lho); atau mereka yang mengesakan Allah dengan tanpa memiliki kitab suci, tanpa memiliki nabi dan tanpa memiliki ritual peribadatan tertentu (uraian ini bisa dilihat di dalam kitab al-Mafahim al-Islamiyyah).

Semua orang itu—baik dari kelompok pemeluk agama tertentu maupun bukan pemeluk agama mana pun—dengan tiga syarat:
1. Benar-benar mempercayai Allah dari lubuk hati yang paling tulus.
2. Mempercayai Hari Akhir (bahwa segala sesuatu akan berakhir dan tiba saat pembalasan atas semua perbuatan yang pernah dilakukan)
3. Berbuat kebaikan dan kebajikan.
… jika ketiga syarat tersebut terpenuhi maka semuanya akan memiliki pahala di sisi Tuhan dan tidak perlu bersedih, juga tak perlu mengkuatirkan apa pun.

Ini secara mendasar. Namun perkembangannya, kenapa ada pernyataan bahwa agama di sisi Allah hanya Islam?

Karena Islam-lah yang secara resmi dinyatakan oleh Allah sebagai agama. Dan karena hanya Islam-lah yang memiliki dan mengakui nilai-nilai sempurna tersebut. Nilai-nilai yang merangkul keberadaan orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Kristen, dan orang-orang Shabiin yang tak beragama, hanya ketulusan pengakuan akan Tuhan yang maha Esa.

Adakah agama selain Islam memiliki nilai-nilai semacam itu dan mengukuhkannya secara resmi dan permanen di dalam kitab sucinya?! Betapa agama Islam mampu mencakup mereka semua!

Secara mendasar semua orang yang tulus mengesakan Allah, meyakini hari akhir, dan mengamalkan kebajikan akan mendapatkan pahala, kebahagiaan dan ketentraman, tetapi di alam kebahagiaan yang abadi di sana juga terdapat derajat kehormatan yang berbeda-beda. Salah satu kehormatan itu misalnya, surga tidak akan dimasuki oleh umat lain sebelum umat Muhammad memasukinya. Ini berarti pengakuan adanya umat-umat lain yang masuk surga, hanya saja derajat kehormatan yang lebih tinggi diperuntukkan bagi umat Muhammad (kaum Muslimin). Bukan berarti umat lain tidak ada yang masuk surga, tetapi hanya tingkat kehormatannya yang berbeda. Di alam keabadian terdapat perbedaan yang sifatnya prestige, bukan perbedaan yang sifatnya asasi. Secara asasi semua orang yang mengesakan Allah bisa memasuki surga, tetapi tingkatan tertinggi diduduki oleh siapa, ini yang saya maksudkan dengan prestige dan derajat kehormatan.

Ayat yang lain senada dengan ayat di atas. Di dalam surat Al-Maidah ayat ke 69 dinyatakan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, Hari Akhir, dan berbuat kebajikan, niscaya tidak ada ketakutan maupun kesedihan atas mereka. (al-Maidah, 5: 69)

Perbedaan ayat ini dengan ayat sebelumnya: di dalam ayat ini urutan kelompok Shabiin berada sebelum kaum Nasrani, dan tidak disebutkan bahwa mereka memiliki pahala di sisi Tuhan.

Ayat ke 17 dalam surat al-Hajj menyebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shabiin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memisahkan (memberi keputusan yang berbeda-beda kepada) mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu. (al-Hajj, 22:17)

Sebagaimana uraian di atas, meskipun masing-masing mendapatkan pahala dan ketentraman tetapi mereka tetap memiliki perbedaan–diantaranya dalam derajat yang diperolehnya, kelak pada Hari Kiamat. Karena itu mereka dipisahkan. Keputusan Allah tidak sama untuk semuanya, dan tentu orang yang musyrik bukan termasuk peraih surga. Inilah diantaranya pemisahan itu.

Penjelasan istilah:
orang-orang Majusi: adalah orang-orang yang mengikuti ajaran Zarathustra atau Zoroaster (zoroastrianisme) yang ritual ibadahnya dilakukan di Kuil Api. Disebut Kuil Api karena di dalam kuil, api dibiarkan terus-menerus menyala sebagai lambang kehadiran Tuhan dan sekaligus sebagai simbol kesucian. Karena itu mereka sering disebut sebagai penyembah api. Dalam sejarahnya, Majusi muncul dan dianut oleh bangsa Persia, Iran hingga Islam datang yang membuat keyakinan ini surut.
orang-orang musyrik: adalah orang-orang yang mengakui keberadaan Tuhan lebih dari satu, atau mengakui Tuhan memiliki rekan sepadan dalam menjalankan urusan ketuhanan.

Dari semua kelompok yang ada (mukmin, yahudi, nasrani, shabiin, majusi, musyrik) yang disebut di dalam ayat-ayat Al-Qur’an di atas, mereka semua adalah kelompok orang-orang yang mengimani dan mengakui keberadaan Tuhan, meskipun berbeda pada detail dan rincian sifat-sifat Tuhan yang disembah. Adapun kelompok yang tidak mengimani dan tidak mengakui keberadaan Tuhan (ateis), mereka tidak pernah disebut di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Karena pada hakikatnya kelompok ini tidak pernah ada. Orang yang menyatakan bahwa Tuhan tidak ada adalah orang-orang yang tidak jujur kepada dirinya sendiri. Mereka adalah orang yang menyalahi fitrah dan kenyataan.

Mengimani dan mengakui Tuhan bisa dilakukan dengan cara menganut agama, maupun tanpa menganut agama. Hal ini tercakup dalam istilah shabiin atau shabiah sebagaimana uraian di atas.

Jadi, kalau leluhur Ki Sabdalangit yang secara lahiriah menganut aneka macam sistem kepercayaan dan tidak mendapatkan siksaan, hal itu bisa dipahami dan dijelaskan dengan uraian di atas: bahwa intinya keselamatan itu ada pada pengakuan hati secara tulus akan keberadaan Tuhan yang Maha Esa; meyakini adanya masa akhir kehidupan dan pembalasan bagi setiap amal yang dilakukan; serta senantiasa melakukan amal kebajikan.

Lantas kenapa ada ayat yang menyebutkan, Barangsiapa menjadikan selain Islam sebagai agama maka hal itu tidak akan diterima dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi?

Kata Islam oleh para ulama dipahami dengan dua hal:

Pertama, Islam dipahami sebagai bentuk pengesaan dan kepatuhan kepada Tuhan, at-tauhid wal inqiyad. Dengan pemahaman ini Islam berarti ketulusan hati menyerahkan diri hanya kepada Allah serta tunduk dan patuh pada kehendak-Nya. Ini berarti tidak pandang bulu, apa pun nama agama atau kepercayaannya asalkan berintikan penyerahan diri hanya kepada satu Tuhan Yang Maha Kuasa dan taat menjalaninya maka ia termasuk beragama Islam.

Dan orang yang tidak beragama seperti itu (tidak Islam dalam artinya ketulusan hati menyerahkan diri hanya kepada satu Tuhan yang serba maha dan patuh kepada-Nya) akan mendapatkan kerugian di alam baka. Kerugiannya total, ia akan terhalangi mendapatkan pahala-pahala kebaikan yang seharusnya ia dapatkan jika tetap mengikuti agama fitrah (agama fitrah adalah agama Islam dengan perngertian di atas, at-tauhid wal inqiyad). Dan dengan begitu ia tidak memiliki kebaikan, ia hanya akan mendapatkan kerugian dan kesengsaraan.

Kedua, Islam dipahami sebagai ajaran dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Disini Islam telah memiliki bentuk formal dengan penyangga-penyangga yang harus dipenuhi. Islam dalam arti ini berarti:
1. Memberikan kesaksian dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah sang penyampai ajaran, utusan-Nya (syahadatain).
2. Mendirikan shalat, yaitu melakukan ritual peribadatan sebagai bentuk komunikasi dengan Tuhan.
3. Berpuasa pada bulan Ramadan, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya yang membimbing kita agar mampu mengontrol dan menguasai diri untuk terus berada di jalan-Nya, takwa.
4. Membayarkan zakat sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya agar kita peduli kepada saudara dan sesama, dan
5. Melaksanakan haji, sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya agar kita melakukan kunjungan fisik ke tempat yang telah menjadi lokus dan saksi keberlangsungan penurunan risalah Tuhan yang dengan itu diharapkan menjadi penyempurna keislaman, keimanan dan keyakinan kita.

Kenapa ajaran dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad, bukan nabi yang lain? Hal itu karena ajaran dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad merupakan puncak ajaran dan syariat yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya. Ajaran dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah penyempurna ajaran dan syariat sebelumnya. Allah yang telah menyempurnakannya dengan firman: alyauma akmaltu lakum dinakum, wa atmamu `alakum ni`mati, wa radhitu lakumul islaama diina (Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku kepada kalian, dan telah Aku restui kalian menjadikan Islam sebagai agama).

Dan, produk yang telah sempurna inilah yang dikeluarkan untuk dikonsumsi oleh seluruh umat manusia. Sehingga orang yang tidak mengikuti agama sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad akan mendapatkan kerugian di alam baka berupa, bisa kerugian total atau kerugian parsial berupa perbedaan derajat yang diraih.

Kenapa Islamnya Nabi Muhammad? Karena hanya produk yang telah sempurna yang berhak mendapatkan lisensi untuk beredar secara luas. Dan kaitannya dengan agama formal, hal itu adalah Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad. Islam ini adalah agama yang telah sempurna, lengkap dan mencakup keseluruhan. Maka jika ada orang yang lebih memilih sesuatu yang tidak sempurna maka bersiap-siaplah untuk kecewa dan merugi. Kerugian ini akan bertambah besar manakala Dzat yang kita tuju hanya mau menerima sesuatu yang telah sempurna.

Sementara sesuatu yang tidak sempurna, berarti masuk kategori cacat. Dan sesuatu yang cacat tidak akan dipasarkan, tidak akan ditampilkan dalam etalase kebanggaan. Dan mungkin pula malah dimusnahkan. Sesuatu yang cacat akan diperlakukan sesuai kadar kecacatannya.

Barangsiapa melakukan kebaikan sekecil debu pun ia akan melihat kebaikan itu untuk dirinya. Dan barangsiapa melakukan keburukan sekecil debu pun ia akan melihat keburukannya itu menimpa dirinya.

* Berkaitan dengan “petunjuk” maka petunjuk bisa didapatkan darimana saja, dari nasehat, ilham, inspirasi, pengalaman, pengetahuan, dan yang paling penting dimana semua orang memilikinya adalah dari pemikiran akal. Namun begitu ada petunjuk yang memberikan jaminan bahwa ia merupakan petunjuk yang paling tepat dan paling lurus (tidak mbulet dan berliku-liku) yaitu petunjuknya Kitab Suci Al-Qur’an. Di dalam salah satu ayatnya Al-Qur’an menegaskan bahwa dirinya adalah Kitab Petunjuk yang menunjukkan kepada jalan yang paling lurus, tidak ada yang lebih lurus darinya (yahdi lillati hiya aqwam).

[bersambung]

tulisan sebelumnya:
PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (1)

tulisan berikutnya:
PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (3)

7 responses to “PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (2)

  1. jawabn yang bagus, mudah2an tidak terselip ego pribadi.
    selamat mencari kebenaran dijalan Tuhan

  2. Beri hamba petunjukmu gusti

    Jawaban dan pemaparan yang sangat bijaksana saudaraku, tapi akan lebih bijak lagi jika kita tidak hanya memandang ayat2 suci al-Qur’an dan sabda2 ILLAHI hanya dengan makna yang tersurat(arti secara bahasa), tapi coba fahami juga makna tersiratnya(arti kebenaran dibaliknya). Syaratnya buka hati, fahami diri sendiri, maka anda akan memasuki alam ILLAHI.
    Ketika anda memasuki alam ILLAHI anda akan dengan sangat mudah menemukan makna2 dari semua ayat2 al-Qur’an dalam diri anda tanpa harus mengartikan dalam bahasa manusia, karena kita sedang dalam alam ILLAHI maka andapun akan memahami bahasa ILLAHI. Tidak ada kesalahan arti disana, karena bahasa ILLAHI adalah bahasa kebenaran.
    Ibarat buah jeruk, Syari’at adalah kulitnya. ketika anda melihat kulit buah jeruk anda akan tau bahwa kulit yg mulus, warna yg bagus, wangi yg harum mengindikasikan buah jeruk itu baik. Tapi bagaimana anda bisa tau isinya baik, manis rasanya, tidak berbiji, banyak airnya, jika hanya mengenal dari kulitnya.? Maka andapun harus mengenal cara membuka kulitnya yaitu melalui tarekat, lalu membuka isinya yaitu melalui hakikat, dan mecicipi nikmat isinya yaitu melalui tahap ma’rifat.
    _SALAM MENCARI KEBENARAN SEJATI SAUDARAKU, KARENA SAMPAI SAAT INI SAYAPUN SEDANG MENCARI_

  3. 1. Memberikan kesaksian dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah sang penyampai ajaran, utusan-Nya (syahadatain).
    aku yakin TUHAN semesta alam tidak mempunyai nama, manusialah yang memberi DIA nama.

  4. Yupz…
    Intinya, TUHAN itu adalah DALANG

    • TUHAN menciptakan segalanya dengan landasan kasih dan sayang. Entah dengan DALANG. Kita tahu dalam pagelaran wayang, dalang tidak menyiapkan debok sendiri, tidak membuat wayangnya sendiri, tidak mengangkut kotak wayang sendiri, bahkan tidak bisa semena-mena membuat ceritanya sendiri atau, paling tidak, tidak bisa keluar dari pakem yang lazim. Dengan begitu kemampuan dan kekuasaan dalang tidak mutlak. Dalang tidak memberi rizki kepada wayang, yang ada justru sebaliknya, wayang menjadi media mencari rizki dalang🙂. Jadi, saya tidak mau menyamakan TUHAN dengan DALANG. Tuhan Maha Tinggi dan Maha Mulia. Tidak layak bagi-Nya atribut-atribut yang bertentangan dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

  5. Artikelnya Bagus Banget
    Merasuk Ke Dalam Akal dan Qalbu

  6. alhamdulillah
    terima kasih artikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s