SALAF, SALAFIY(YAH) & SALAFI(YYUN)[1]

SALAF*

Dalam bahasa Arab, kata salaf berarti yang telah lalu atau yang telah lewat atau yang lebih dulu, pendahulu. Kata itu merujuk segala sesuatu yang telah lampau.

Sebagai terma spesifik dalam kancah pemikiran, kata salaf merujuk pada: masa keemasan pemikiran dalam memahami dan menerapkan sumber-sumber keagamaan secara murni sebelum munculnya sekte-sekte dan aliran-aliran (madzahib), akibat dari meluasnya ekspansi, dan sebelum masuknya filsafat-filsafat non-Islam ke dalam cara memahami para pendahulu yang saleh (al-salaf al-shalih). Kata Salaf juga merujuk pada segala amal baik yang telah dilakukan oleh manusia.

Sementara dalam terma ekonomi kata salaf merujuk pada pinjaman finansial yang didasari rasa keikhlasan (pinjaman cuma-cuma), tanpa diiringi pamrih apa pun yang bersifat keduniaan.

Meskipun segala sesuatu yang telah lampau sah disebut sebagai salaf, akan tetapi istilah salaf telah meluas dipahami sebagai terma yang merujuk pada generasi pendiri agama yang mempraktekkan metode-metode ajaran Islam. Mereka adalah para sahabat Nabi yang telah menerjemahkan semua ajaran yang ada dalam risalah wahyu Qur’ani ke dalam praktek-praktek kehidupan tertentu, sesuai realita yang dihadapi. Istilah salaf ini berlaku untuk semua sahabat secara umum dan mutlak, lalu pada perkembangan selanjutnya istilah ini meluas mencakup para generasi yang dalam kehidupannya menjalani praktek keagamaan sesuai petunjuk dan ajaran para sahabat tersebut. Generasi berikutnya ini biasa disebut dengan istilah tabiin dan tabiu tabiin.

Jadi, dalam hal ini, salaf berarti setiap orang (dari generasi-generasi di atas) yang jejak perilaku keagamaannya ditiru dan dijadikan acuan. Pembatasan acuan pada tiga generasi di atas bisa disimpulkan dari Sabda yang mengatakan, “khairu qarnin qarnii tsumma alladzi yaliih, tsumma alladzi yaliih,” dan hadits-hadits lainnya yang senada dengan hal itu.

Setelah generasi pertama, salaf (para sahabat Nabi), generasi kedua, tabiin (para pengikut/murid Sahabat Nabi) dan generasi ketiga, tabiu tabiin (para pengikut/murid dari Murid/Pengikut Sahabat Nabi—dimana pada masa ini muncul imam-imam agung pendiri mazhab-mazhab besar), generasi berikutnya adalah mereka yang biasa disebut dengan istilah khalaf, yaitu yang hidup setelah masa tiga generasi pertama. Setelah generasi khalaf datang generasi selanjutnya yang biasa disebut dengan istilah generasi belakangan, mutaakhirin.

Ungkapan yang mendukung bahwa salaf memiliki arti yang telah lalu atau telah lewat diantaranya adalah:

1. Alqur’an, surat al-Baqarah, 2 : 275, “fa man jaa-ahu mau`idhatun min rabbihi fan-tahaa falahuu maa salaf.” (… barangsiapa mengindahkan  peringatan Tuhan-nya setelah peringatan itu datang kepadanya maka baginya apa yang telah lewat [sudah terlanjur dilakukan sebelum datang aturan Tuhan])

2. Alqur’an, surat an-Nisaa’, 4 : 22, “wa laa tankihuu maa nakaha aabaa-ukum min an-nisaa’i illa maa qad salaf” (dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita (ibu tiri) yang telah dinikahi oleh bapak-bapak kalian, kecuali apa yang telah terjadi di masa lampau).

3. Hadits riwayat Fatimah dari Rasul, “…. ni`ma al-salafu ana laki” (sebaik-baik masa lalu/pendahulu bagimu adalah aku); Hadits riwayat Ibn Abbas yang menceritakan bahwa ketika Zainab (putri Rasulullah) meninggal, Rasulullah mengucapkan, “ilhaqii bi salafina al-shaalih al-khair, utsmaan ibna madh`uun.” (bergabunglah dengan pendahulu kita yang saleh dan baik, Utsman bin Madh`un)

4. Sementara ungkapan yang mendukung bahwa salaf dalam istilah ekonomi berarti pinjaman tanpa pamrih duniawi adalah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Saib ibn Abi Saib, partner bisnis Rasulullah sebelum datangnya Islam, “ya saaib qad kunta ta`malu a`maalan fil jaahiliyyah laa tuqbalu minka, wa hiya al-yaum tuqbalu minka. kaana dzaa salafan wa shillatan.” (Wahai Saib, di masa Jahiliyyah dulu kau telah melakukan amal yang tidak diperhitungkan (diterima) sebagai kebaikanmu, tetapi hari ini amal tersebut diperhitungkan (diterima) sebagai kebaikanmu. Amalmu dulu itu memiliki nilai (diperhitungkan) sebagai pinjaman dan pemberian).

*) diambil dan dikondisikan dari tulisan Dr. Muhammad Imarah dalam al-Mausu`ah al-Islamiyyah al-`Ammah, terbitan Kementerian Wakaf, Majlis A`la li al-Syuun al-Islamiyyah, Republik Arab Mesir.

tulisan mendatang, insyaallah, tentang: *Salafiyyah*

Salam,

Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi posting saya di milis alumnifutuhiyyah@yahoogroups.com pada medio sekitar bulan Mei-Juni tahun 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s