SALAF, SALAFIY(YAH) & SALAFI(YYUN)[2]

SALAFIYYAH*

Secara bahasa kata salafiyyah merupakan bentuk kata penisbatan kepada semua yang bernuansa lampau atau kepada pokok yang menjadi awal dan permulaan sesuatuyang paling dulu atau paling lampau (salaf).

Sebagaimana diuraikan pada tulisan sebelumnya, kata salaf berarti: yang telah lalu atau telah lewat (al-maadlii), dan kata al-saalif berarti: yang terdahulu atau yang dulu.

Sementara salafiyyah dalam terma pemikiran intelektual muslim berarti: merujukkan hukum-hukum syariat (keagamaan, Islam) kepada sumber-sumber pertama, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah serta mengabaikan selain dua sumber tersebut.

Definisi di atas sejalan dengan bunyi Hadits, ¨taraktu fiikum amrain, in tamassaktum bihimaa lan tadhilluu abada, kitaaballahi wa sunnata rasuulih

Meskipun definisi salafiyyah di atas sangat gamblang, akan tetapi dalam warisan pemikiran intelektual Islam yang kita terima, salafiyyah memiliki aneka macam kelompok dan aliran.

[untuk memudahkan, mulai dari sini kami membuat penegasan bahwa Salafi berarti orang yang mengikuti metode salaf; ia adalah orangnya atau pengikutnya; sementara Salafiyyah adalah metode yang ditempuh, ia adalah cara dan metode yang digunakan]

Semua Salafi merujukkan pemahaman keagamaan mereka kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, akan tetapi di antara para Salafi tersebut ada kelompok yang cenderung memahami teks-teks al-Kitab dan al-Sunnah berdasarkan bunyi dan bentuk literal semata. Dan, ada juga kelompok Salafi yang memahami teks-teks al-Kitab dan al-Sunnah menggunakan analisa akal. Dari kelompok yang menggunakan akal untuk memahami teks ini, ada di antara mereka yang cenderung berlebih-lebihan dalam mengedepankan akalnya, ada yang moderat, dan ada yang seperlunya saja.

Di antara para Salafi, ada kelompok yang cenderung rigid, kaku dan hanya mau meniru (taklid) atau mengulang dari contoh yang telah ada. Namun, ada juga di antara para Salafi itu kelompok yang terbuka, lentur dan siap melakukan pembaruan, bukan hanya meniru dan mengekor. Kelompok kedua ini merujuk sumber-sumber awal untuk dijadikan ilham dalam ijtihad-ijtihad baru yang lebih sesuai dengan realita masanya.

Di antara para Salafi, ada yang masa lalunya memiliki latar belakang gagasan dan pemikiran peradaban berkembang (baca: maju), padat karya dan penuh terobosan. Sementara ada juga di antara para Salafi itu yang masa lalunya diwarnai dengan berbagai gagasan dan pemikiran peradaban yang sedang surut (baca: mundur), penuh kekakuan, kejumudan dan hanya bisa meniru serta kurang inovatif.

Di antara para Salafi ada yang aktifitasnya hanya memfotokopi semua warisan yang dimiliki tanpa membedakan antara gagasan ideal dan pengalaman. Ide-ide pemikirannya mencampur-adukkan antara prinsip-prinsip pokok dengan nilai-nilai temporal. Namun, ada juga di antara para Salafi itu yang menjadikan prinsip-prinsip pokok yang mereka terima dari warisan (baca: turats) sebagai ilham yang memandu untuk dimulainya percobaan-percobaan dan pengalaman-pengalaman baru yang diselaraskan dengan pasang surutnya sejarah.

Di antara para Salafi ada yang hidup di masa lalu atau melestarikan kehidupan masa lalu. Namun, di antara para Salafi juga ada yang mengharmonikan kehidupan masa lalu dengan kehidupan masa kini serta kehidupan modern.

Keragaman kelompok Salafi yang terkadang nyaris menyerupai kubu yang saling berlawanan itu, merekalah yang tercakup di dalam istilah salafi ini. Terutama dalam arena pemikiran kita saat ini. Sebuah istilah yang penuh dengan ambiguitas, mudah disalahpahami dan bahkan menjadi ajang untuk berburuk sangka!!

Di antara madrasah pemikiran yang paling getol berusaha memonopoli istilah salafiyyah ini—dalam khazanah intelektual kita (baca: turast)—adalah Sekolah Hadits (madrasah ahl hadits) yang ketakutan terhadap kedatangan sekolah Yunani—Filsafat dan Logika—serta kaget terhadap rasionalitas Yunani yang jauh dari teks-teks agama. Mereka (madrasah ahl hadits) lantas berlindung di balik kesucian teks-teks agama dengan cara mengedepankan pemahaman literal. Bahkan mereka rela berlindung di balik teks agama yang lemah dan rapuh sekalipun, demi menentang argumentasi akal, kias, takwil dan tafsir serta jenis-jenis penalaran lainnya. Madrasah inilah yang tampuk kepemimpinannya dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal (164 – 241 H./780 – 855 M.). Sehingga, ada sebagian dari umat ini yang mengira bahwa merekalah salafiyyah sejati! Padahal, sebenarnya, mereka hanyalah satu bagian dari berbagai kelompok aliran salafiyah yang ada.

Kurikulum sekolah ini sangat mengutamakan naskah dan bunyi-bunyi teks sebagai sumber rujukan ketimbang sumber-sumber pengetahuan lainnya. Bahkan, hampir-hampir, teks sajalah yang merupakan sumber satu-satunya. Bagi aliran ini hanya teks yang bisa diterima sebagai dasar argumentasi. Tak ada celah bagi sumber lainnya. Urutan naskah teks yang mereka gunakan adalah: teks-teks dari al-Kitab dan al-Sunnah, Fatwa Sahabat, Fatwa Pilihan jika ada perbedaan dalam fatwa-fatwa sahabat, Hadits Mursal dan Hadits Dlaif (lemah), lalu baru Kias jika terpaksa. Itulah lima fondasi yang ditentukan oleh Imam Ahmad sebagai pilar kurikulum Sekolah Hadits seraya menolak argumentasi pemikiran akal seseorang (baca: pendapat ulama, ilmuwan, pakar, ahli dan sejenisnya). Mereka juga menolak Kias, Takwil, Tafsir, Intuisi, Logika dan hukum kausalitas dalam pemikiran keagamaan.

Salah seorang tokoh sekolah ini, Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah (691 – 751 H./1292 – 1350 M.) mempertegas kurikulum sekolah salafiyyah tektualis ini, sebagaimana telah di-blue print-kan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dalam pernyataannya:

Dasar Pertama: Teks-Teks al-Kitab dan al-Sunnah.

¨Jika sebuah perkara tertera di dalam nash/teks, maka itulah yang dijadikan fatwa. Tidak ada lagi sumber lain yang akan dilirik, apa pun yang terjadi.”

Dasar Kedua: Fatwa Sahabat

“Jika sebuah permasalahan dijumpai di dalam Fatwa para Sahabat dan tak ada seorang sahabat pun yang menentang fatwa itu, maka itulah yang dijadikan fatwa. Tidak ada rujukan lain yang akan dilirik.”

Dasar Ketiga: Jika Fatwa Sahabat Berbeda

“Jika sebuah permasalahan diperselisihkan dalam pendapat para sahabat, maka dipilih pendapat yang paling mendekatial-Kitab dan al-Sunnah. Jika masing-masing pendapat tidak ada yang lebih dekat kepada al-Kitab dan al-Sunnah, maka masing-masing pendapat disebutkan tanpa merekomendasikan salah satunya.”

Dasar Keempat: Menggunakan Hadits Mursal dan Hadits Dlaif

“Jika sebuah kasus tidak ditemukan dasar rujukannya selain di dalam Hadits Mursal atau Hadits Dlaif, maka yang tertera di dalam kedua teks sumber itu yang akan digunakan.”

Dasar Kelima: Kias jika Terpaksa

“Jika suatu perkara tidak ditemukan sumber rujukannya di dalam teks-teks al-Kitab, al-Sunnah, Fatwa Sahabat, atau salah satu pendapat Sahabat, juga hal itu tidak ditemui di dalam Hadits Mursal atau Dlaif, maka terpaksa menggunakan Kias.”

***

Sementara kurikulum pembaruan, sekolah salafiyyah rasionalis terangkum dalam ucapan Imam Muhammad Abduh (1265 – 1323 H./1849 – 1905 M.) ketika mengatakan:

“Dengan lantang saya telah mengajak umat ini untuk membebaskan akal kita dari belenggu taklid. Saya mengajak agar umat ini memahami agama sebagaimana cara yang telah ditempuh oleh para Salaf (ingat! Salaf tidak sama dengan Salafi) sebelum munculnya perbedaan dan pertentangan. Saya mengajak umat ini agar menggali pengetahuan dari sumber-sumber awalnya serta menghormatinya (baca: menghormati teks) sebagai bagian dari penyelaras akal kemanusiaan yang telah dianugerahkan Allah untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan akal, juga sebagai alat kendali yang akan menghambat terjadinya benturan dan kerancuan pemikiran agar hikmah dan kebijakan Allah dalam memelihara harmoni kehidupan manusia terlaksana dengan sempurna. Dengan begitu, agama akan menjadi kawan bagi ilmu pengetahuan, ia akan menjadi energi pembangkit bagi munculnya eksplorasi-eksplorasi rahasia semesta. Agama juga akan menjadi penyeru bagi penghormatan terhadap realita-realita baku serta menerimanya dengan penuh ketenteraman jiwa dan semangat berkarya.”

Dalam kurikulum salafiyyah rasionalis ini ditemukan persaudaraan antara teks-teks agama dengan akal kemanusiaan, persahabatan antara ilmu pengetahuan dengan doktrin keagamaan, serta di sini pula ditemukan salafiyyah berkelindan dalam satu baju dengan pembaruan.

*) diambil dan dikondisikan dari tulisan Dr. Muhammad Imarah dalam al-Mausu`ah al-Islamiyyah al-`Ammah, terbitan Kementrian Wakaf, Majlis A`la li al-Syuun al-Islamiyyah, Republik Arab Mesir.

tulisan sebelumnya: Salaf
tulisan mendatang, insyaallah, tentang: Salafiyyun

Salam,
Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi posting saya di milis alumnifutuhiyyah@yahoogroups.com pada medio sekitar bulan Mei-Juni tahun 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s