SALAF, SALAFIY(YAH) & SALAFI(YYUN)[3]

SALAFIYYUN*

Secara bahasa salafiyyun berarti orang-orang yang mengikuti langkah salaf. Sementara salaf itu sendiri berarti orang-orang terdahulu yang telah berlalu.

Dalam terma pemikiran Islam, salafiyyun berarti mencakup mayoritas aliran-aliran pemikiran yang ada, dengan berbagai sekte dan aliran sekolah yang dianutnya meskipun dengan kadar yang berlainan dan makna yang berpautan. Karena, mayoritas aliran-aliran tersebut memiliki masa lalu (baca: latar belakang atau sejarah, al-maadlii, salaf) yang menjadi rujukan dan model teladan yang dianut. Mereka menisbatkan dirinya kepada salaf, mengikuti kurikulum (metode) mereka dan senantiasa menjunjung prinsip-prinsipnya.

Dengan sendirinya, terma salafiyyun tidak mencakup mereka yang tidak memiliki keterkaitan epestemik (kesadaran) dengan khazanah yang diwarisinya, masa lalu (baca:salaf).

Jika salaf berarti yang telah lalu, maka kita semua adalah salafiyyun. Akan tetapi salafiyyun (baca: salafi/salafy—orang yang mengikuti jejak salaf) bermacam-macam rupa:

[untuk memudahkan, dari sini kami membuat penegasan bahwa Salafi berarti orang yang mengikuti salaf, ia adalah pengikut; sementara Salaf adalah generasi awal yang dijadikan acuan, ia adalah teladan yang diikuti]

Ada Salafi yang langkahnya hanya meniru para Salaf, mereka inilah biasanya orang-orang yang kaku, jumud dan hanya bisa menjadikan dirinya sebagai imitasi, mengkilap namun sebatas kulit luar.

Dalam realita praktis kita bisa melihat sekeliling kita, kepada kawan-kawan dan saudara-saudara kita sendiri yang mungkin telah memilih menjadi bagian dari salafi ini. Mereka berteriak lantang, bahkan menawarkan diri sebagai tumbal hanya untuk menegakkan nilai-nilai yang, entah, mereka sadar atau tidak, hanya nilai imitatif. Nilai yang kurang atau bahkan sama sekali tidak menyentuh kemaslahatan umat. Seperti teriakan harus memanjangkan jenggot, berjubah atau bercelana cekak dan sejenisya itu.

Ada Salafi yang langkahnya merujuk kepada para Salaf, namun mereka bekerja keras mempelajari dan mengolah warisan, peninggalan para Salaf itu untuk dipilah antara nilai prinsip dengan nilai temporal, antara nilai yang baku dengan nilai yang bisa atau bahkan harus berubah. Memilah sesuatu yang layak dipertahankan dan mencari inspirasi baru melaui warisan lama yang sudah tak sesuai dengan perkembangan zaman, kebiasan dan adat-istiadat yang beragam. Memilah dan memilih demi kemaslahatan yang lebih sesuai dengan realita baru.

Mungkin salafi kedua ini yang sesuai dengan semboyan kita, semboyan Futuhiyyah dan, sepertinya, semboyan NU juga: al-muhaafadhah`ala al-qadiim al-shaalih wa al-akhdzu bi al-jadiid al-ashlah (menjaga nilai-nilai lama yang bagus dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih bagus). Dengan memproklamirkan semboyan ini, berarti Futuhiyyah menegaskan diri berada pada barisan umat yang lentur dan kreatif demi menuju pembaruan terus menerus untuk kebaikan umat sampai akhir hayat. Dengan semboyan itu, berarti Futuhiyyah tidak akan merasa alergi dengan berbagai ujicoba dan pengalaman-pengalaman baru untuk diambil berkah kemaslahatannya yang lebih besar. Nilai lama akan tetap dipertahankan selama nilai itu harmoni dengan realita yang dihadapi dan membawa kemaslahatan untuk umat. Namun pada saat yang sama tak segan-segan mengambil nilai baru jika dirasa nilai baru itu akan membawa kemaslahatan yang lebih besar (dan tentunya jika nilai baru ini tidak berlawanan dengan prinsip-prinsip pokok yang menjadi dasar).

Di antara para Salafi ada yang menjadikan pemahaman Salaf sebagai inspirasi menuju pemahaman baru yang sesuai dengan realita baru. Namun, di antara para Salafi, juga ada yang berusaha lari dari realita hidup yang kini dihadapi dengan dalih mengajak (mundur) kembali ke realita Salaf yang telah lampau. Lari menuju pengalaman dan percobaan lama milik Salaf yang telah dilipat zaman.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa masa kemajuan dan kreatifitas dalam sejarah peradaban kita. Namun, ada juga di antara para Salafi yang masa lalunya berupa masa kemelaratan, ketakberdayaan dan kemunduran dalam sejarah peradaban kita.

Di antara para Salafi ada yang warisan peninggalannya berupa budaya dan peradaban milik sendiri, kekayaan sendiri, serta wawasan keislaman yang original (untuk membedakan dengan Islam yang telah diterapkan oleh suatu masyarakat/bangsa tertentu di wilayah atau masa tertentu). Namun, ada pula di antara para Salafi yang warisan peninggalannya berupa budaya dan peradaban milik orang lain. Kekayaan orang lain.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran tektualis dalam sejarah turats kita. Namun, di antara para Salafi ada juga yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran rasionalis dalam sejarah turats kita, bahkan ada di antara para Salafi yang masa lalunya berupa kecenderungan sufistik dalam warisan peradaban kita.

Di antara para Salafi ada yang masa lalunya berupa mazhab dan aliran turast itu sendiri (hanya menerima pengetahuan lama, bahkan ada yang menentukan siapa penulisnya) disertai kefanatikan terhadap mazhab ini. Namun, ada juga di antara para Salafi yang rujukannya berupa seluruh khazanah warisan umat dari berbagai aliran dan mazhab, merangkul semuanya dengan bangga lalu memilah yang terbaik di antara mutiara-mutiara yang ada.

Dengan penuh kejujuran, semua aliran yang tersebut di atas memang tercakup dalam terma salafi. Akan tetapi, masyhur diketahui, ada kelompok yang ingin mengklaim terma ini, sehingga hanya berlaku untuk kelompok mereka. Bahkan, hampir-hampir, mereka memonopoli istilah ini. Mereka adalah kelompok yang meletakkan dirinya dalam barisan tektualis literalis, yang memahami teks-teks berdasarkan pemahaman permukaan serta menolak Kias dan pendapat ahli. Kelompok ini lebih sering memperhatikan riwayat-riwayat dibanding mengolah dan menganalisa teks. Teks-teks yang ada dimandulkan dari upaya melahirkan inspirasi penerapan yang sesuai realita. Kelompok inilah yang dari dulunya mengharamkan seorang muslim mempelajari Ilmu Kalam (sering dibaca dengan Ilmu Tauhid) dan, tentu saja, Ilmu Filsafat yang notabenenya merupakan pendatang dalam ranah keilmuan Islam. Mereka menolak ilmu-ilmu penalaran, teoritis dan analitis. Merekalah kelompok yang sering disebut dengan Ahl al-Hadits karena kesibukannya menekuni ilmu-ilmu riwayat serta proses transmisinya.

Guru besar sekolah ini adalah Abu Abdullah, Ahmad Ibn Hanbal (164 – 241 H./780 – 855M.), di samping deretan nama lainnya yang tak asing bagi kita, yaitu para imam agung yang memilih lebih mendalami ilmu-ilmu riwayat, semisal Ibn Rahawaih, para pakar Jarh wa Ta´dil dan para Imam Hadits seperti Imam Bukhari, Abu Daud, al-Darimi, al-Thabrani, al-Baihaqi dan lain-lainnya. Akan tetapi, pada masa Ibn Taimiyyah (661 – 728H./1263 – 1328 M.) dan Ibn Qayyim al-Jauziyyah (691 – 751 H./1292– 1350 M.) sekolah ini mengalami sedikit perubahan. Pada masa mereka berdua ilmu nalar sedikit diberi tempat, meskipun mayoritas dan prioritas rujukannya tetap pada bunyi literal teks dan transmisi riwayat.

Belakangan Ibnu Qayyim mengatakan: “teks-teks al-Qur’an dan al-Sunnah sudah mencakup seluruh hukum dari semua permasalahan yang ada. Allah dan Rasul-Nya juga tidak membenarkan kita melakukan pengkiasan maupun perujukan pada pendapat akal. Syariat sama sekali tidak membutuhkan Kias. Syariat sudah kenyang dari sekedar pendapat akal, Kias dan kebijakan serta kebajikan pengalaman manusia, akan tetapi hal itu semua baru bisa dicapai jika didasari dengan pemahaman yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya.”

Bagi Salafi jenis ini, teks tetap merupakan satu-satunya rujukan. Meskipun pada perkembangan selanjutnya, mereka merasa tidak cukup dengan hanya melihat teks-teks tersebut secara literal.

Keberpihakan Salafi Tekstualis terhadap superioritas dan hegemoni teks yang berlebih-lebihan ini diakibatkan oleh banyak faktor, diantaranya: ketakutan yang berlebihan terhadap fanatisme kelompok lawannya, yaitu para filosof rasionalitas Yunani yang terlepas dari kontrol teks-teks keagamaan. Faktor lainnya adalah kecenderungan sufistik kelompok Iluminasi Batiniah yang memilih inklinasi dan intuisi (al-dzauq wa al-hads) sebagai sumber inspirasi hukum syariat, tanpa ada kawalan dari teks dan pertimbangan akal.

Namun karena semua kecenderungan kelompok yang ada, baik yang tekstualis, rasionalis maupun intuitif batiniyyah—sedikit banyak—telah terjebak pada fanatisme berlebih-lebihan, maka kelompok-kelompok tersebut tetap tak kuasa mengkutubkan mainstream umat ke dalam kubu mereka. Mainstream umat akhirnya mengkutub pada kecenderungan salafiyyah moderat, yaitu salafiyyah yang menggabungkan antara teks dan akal, lalu mengharmonikan antara keduanya. Salafiyyah inilah yang dikenal dengan nama asy`ariyyah. Salafiyyah moderat yang dibangun oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy`ary, Ali bin Ismail (260 – 324 H./874 – 936 M.)

Dalam sekolah asy`ariyyah ini, teks-teks keagamaan dan transmisi riwayat menyatu dengan pemahaman akal. Salafi kelompok ini terbuka menerima pelajaran Ilmu Kalam (sering dibaca dengan Ilmu Tauhid) yang diharamkan oleh Salafi Tekstualis. Salafi Asy`ariyyah juga mempelajari Ilmu Ushul Fiqh yang merupakan filsafat rasionalitas Islami dalam perundang-undangan.

Sekolah Asy`ariyyah ini selanjutnya berkembang di tangan imam-imam besarnya, terutama ditangan Imam al-Baqillani, Abu Bakr Muhammad bin Abi al-Thayyib (453H./1013 M.), Imam al-Haramain, al-Juwainy (Abu al-Maali Abd al-Malik bin Abdullah Ibn Yusuf [419 – 478 H./1028 – 1085 M.]) dan Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali (450 – 505 H./1058 – 1111 M).

Dalam perjalanan sejarah peradaban Islam, tampak bentuk dan perimbangan sekolah-sekolah salafi sebagaimana urutan (baca: kuantitas) di atas terekam dalam catatan sejarah yang panjang. Pada masa modern sekarang, kecenderungan salafi tekstualis tampak diwakili oleh seruan Syaikh Muhammad bin Abd al-Wahhab (1115 – 1206 H./1702 – 1792 M.) yang biasa kita kenal dengan nama Wahabiyah. Sementara sekolah Asy`ariyyah tetap merupakan salafi tekstualis rasionalis yang menjadi kubu mainstream umat Islam, kubu jumhuur al-ummah (kubu mayoritas).

tulisan sebelumnya: Salafiyyah

tulisan yang lalu: Salaf

*) diambil dan dikondisikan dari tulisan Dr. Muhammad Imarah dalam al-Mausu`ah al-Islamiyyah al-`Ammah, terbitan Kementrian Wakaf, Majlis A`la li al-Syuun al-Islamiyyah, Republik Arab Mesir. walhamdulillah, bini`matihi tatimmu al-shaalihah.

Salam,

Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi posting saya di milis alumnifutuhiyyah@yahoogroups.com pada medio sekitar bulan Mei-Juni tahun 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s