YANG MANA ISLAM (1)

YANG MANA ISLAM (1)

Islam muncul sebagai pengakuan Nabi Ibrahim ketika tidak menemukan ketuhanan pada semua benda, semisal bintang, bulan, matahari dan makhluk-makhluk lainnya. Islam adalah kepasrahan Beliau kepada Dzat yang maha tinggi, maha besar, maha kuasa dan serba maha lainnya. Di hadapan dzat yang semacam itu, yang serba maha, tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain tunduk dan pasrah.

Selanjutnya, semua rasul diutus dengan satu pesan, “la ilaha illa Allah“, tak ada tuhan selain Allah. Hal ini tak lain, karena dzat yang serba maha itu menamakan dirinya Allah untuk merujuk suatu dzat yang spesifik, dzat yang serba maha. Asal kata Allah itu sendiri adalah gabungan dari definite article “al” dan kata “Ilah” dalam bahasa Arab.

Kata ilah sebelumnya sudah dikenal oleh semua orang, tapi maksud kata itu dipakai oleh manusia bukan untuk merujuk pada satu dzat atau ilah yang serba maha. Melainkan untuk menyebut segala sesuatu yang mereka anggap berjasa untuk memberi kebaikan atau keburukan dalam kehidupannya. Sesuatu itu bisa matahari yang berjasa memberi penerangan, sesuatu itu bisa air yang berjasa memberi kesuburan, bisa ruh dlsb… Jadi, kata ilah masih bersifat umum dalam pemahaman manusia. Penambahan “al” pada kata tersebut untuk menunjukkan bahwa ilah yang ini, yang serba maha, tidak sama dengan ilah-ilah yang telah dikenal sebelumnya, ilah yang ini tidak umum seperti pemahaman sebelumnya.

Dan ilah yang serba maha inilah ilah yang hakiki, Allah dalam bahasa Arabnya. Tetapi sebenarnya, nama apa pun jika hal itu dimutlakkan untuk menyebut dzat yang serba maha, yang menguasai semesta raya, maka pada intinya ia telah menyebut tuhan yang benar. Karena itulah, Allah juga memberikan banyak nama dan disebut dengan banyak nama pula, bahkan Dia bisa saja mengilhamkan kepada siapa saja yang dikehendaki untuk menyebut-Nya dengan sebuah nama yang belum pernah kita tahu sebelumnya.

Karena semua rasul diutus dengan sebuah kalimat pengenalan dan penetapan “la ilah illa Allah”–Allah adalah Dzat yang serba maha itu sendiri—maka sebagaimana Ibrahim, tak ada apa pun yang bisa dilakukan oleh makhluk di hadapan Dzat yang serba maha ini selain tunduk dan pasrah. Dan itulah Islam atau Muslim, kata yang mewakili sikap tunduk dan pasrah ini dalam bahasa Arab.

Dzat yang serba maha, yang ditemukan oleh Ibrahim, ini tidak pernah dilihat oleh Ibrahim atau makhluk mana pun sebelumnya. Dzat itu ditemukan bukan dengan indera melainkan dengan perenungan dan pemikiran terhadap bukti-bukti yang terdapat di sekeliling kita, betapa agungnya semesta, karena itu Ibrahim berkeyakinan betapa maha agungnya pencipta semesta ini, dan selanjutnya pasrah pada Dzat yang maha agung tersebut (aslamtu li rabbil `alamin).

Dari sini kita bisa mulai menarik benang merahnya. “la ilaha illa Allah” atau pengakuan dan kepasrahan kepada Dzat yang serba maha adalah sebuah keyakinan, akidah.

Pengakuan dan kepasrahan seperti itu disebut dengan islam atau muslim dalam bahasa Arab. Jadi, muslim dan juga agama Islamyuthlaqu `alal `aqidah” bukan syariah. Islam digunakan untuk menunjukkan keyakinan monoteisme yang dibawa para rasul, bukan untuk menunjukkan syariah yang dibawa para rasul. Karena itu, ungkapan “agama disisi Allah hanyalah Islam” adalah benar belaka dan tak belawanan dengan apa pun. Sementara untuk syariahnya, setiap rasul memiliki syariah yang berlainan, (likullin ja`alna minkum syir`atan wa minhaja). Ibrahim punya syariat sendiri, Musa punya syariat sendiri, Isa punya syariat sendiri dan Muhammad juga punya syariat sendiri.

Nah, bagaimana bisa disebut Islam adalah akidah dan juga syariah sekaligus, artinya keduanya tidak bisa dipisahkan?!

Hal ini bisa terjadi jika kita menerima pendapat yang mengatakan, “setiap syariat rasul yang datang kemudian menghapus syariat rasul yang sebelumnya.” Pendapat ini didasarkan pada kenyataan yang bisa kita temui dalam al-Qur’an ketika menceritakan Isa yang mengatakan “aku datang kepada kalian untuk menghalalkan sebagian makanan yang sebelumnya diharamkan bagi kalian”. Dari sini tampak, syariat Isa merubah syariat yang ada sebelumnya.

Nah, bagaimana dengan syariat Muhammad saw?!

(tulisan berikutnya: Yang Mana Islam 2)

Salam,

Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi diskusi saya di milis JIL pada medio bulan Oktober – November 2005. Sudah pernah saya blogkan di: http://fakraa.wordpress.com/2007/10/16/yang-mana-islam-1/ yang saya lupa passwordnya, dan saya buat lagi blog ini http:fakra.wordpress.com.

TANGGAPAN ANGGOTA MILIS

1. Tanggapan Adli Usuluddin:

Salam,
Setuju. Secara generik memang demikian, cuma saja Islam yang dipahami mainstream sekarang berbeda dengan pengertian Islam yang disebut Al-Quran. Pengertian Islam yang berbeda inilah sumber masalah……. (jadi tafsir kan?….. semua orang kembali ke al-Quran,…dan untuk memengertinya perlu tafsiran…..tafsiran berbeda-beda……)

***

2. Tanggapan Ulil Abshar Abdallah:

Ochie,
Poin kamu bagus sekali. Saya belum belum pernah memikirkan seperti yang anda utarakan itu. Benar, Islam yang disebut sebagai “agama yang diridlai” Allah itu adalah terkait dengan sisi akidah. Pada aspek inilah terjadi titik temu antara Islam dengan agama-agama lain di lingkungan tradisi Abrahamik.

Pada level syariah, agama berbeda-beda.

Suatu ketika, saya pernah mendengar seseorang bicara seperti ini. “Sesuai dengan kaidah ushul fiqh, bahwa hukum dasar dalam ibadah adalah mengikuti contoh Nabi (ittiba’). Jika ibadah dilakukan dengan tidak mengikuti contoh Nabi, maka ibadah itu batal atau tidak diterima oleh Allah.”

Oke, itu semua benar. Tapi, dengarkan kelanjutan keterangan orang itu. “Karena orang Kristen dan Yahudi beribadah tidak sesuai denga aturan yang dicontohkan Nabi Muhmmad, maka ibadah mereka tidak diterima oleh Tuhan.”

?????

Saya terbengong-bengong mendengar pendapat seperti ini. Saya tentu tak merasa perlu menanggapi orang itu (dalam suatu diskusi), karena pendapat itu sendiri hanya bisa diucapkan oleh seseorang yang memang belum tahu apa-apa.

Ya sudahlah.

Sedih, tradisi membaca di kalangan umat Islam begitu buruknya saat ini. Karena tradisi membaca lemah, dengan sendirinya tradisi berfikir juga lemah. Sebab, tradisi berfikir berjalan beriringan dengan tradisi membaca.

***

3. Tanggapan Tasning:

Mas Shocheh dan Ulil yang budiman,

Secara amat gamblang tentulah bisa kita katakan konsekuensi dari sikap islam sebagai kategori akidah; pasrah, berserah diri dan ketauhidan, dalam pengertian “yuthlaqu `alal `aqidah” membawa juga konsekuensi kepasrahan lainnya yakni kepasrahan menerima titah Allah atas turunnya rasul pembawa dan penggenap risalah (yang tentu saja didalamnya turut serta menyempurnakan
syariat atas manusia sebelumnya).

Likullin Ja`alna Minkum Syir`atan wa Minhaja sebagai aktivitas pembawa syariat, konon telah Allah genapkan dan sempurnakan pada kerasulan Muhammad. Setelah itu Allah tetapkan fungsi kerasulan sebagai pembawa syariat ditutup sampai disitu (“agama disisi Allah hanyalah
Islam”).

Sampai disitu jalan “islam” sebagai konsekuensi kepasrahan dan pengakuan ternyata berliku-liku dan mengakibatkan sejumlah firqah. Ada kelompok yang cuma mau mengakui “islam” ala Zaman Musa dan Isa saja ada yang mengakui “Islam” Muhammad namun tidak mengakui
Islam Musa dan Isa (ini aneh, mengingat sebagai evolusi kepasrahan “islam Muhammad” datang belakangan menyempurnakan yang sebelumnya, mana bisa yang menyempurnakan menolak eksistensi yang disempurnakan sebelumnya) terakhir, ada golongan yang menerima semuanya dan meyakini kebenaran Muhammad sebagai last messanger sesuai apa yang dinginkan tuhannya. (sebenarnya yang golongan ini yakininya adalah Allah semata; sebagai konsekuensi world-view nya).

Sesuai dengan doktrin Lex Specialis Derogat Legi Generalis; Yang khusus dan kini menggantikan yang umum dan lampau, hal seperti itu terjadi pula dengan para rasul-rasul Allah dalam ber-risalah. Jika tidak demikian pertanyaan paling mendasar adalah; lantas apa fungsi dan faedahnya bagi manusia risalah yang datang belakangan itu? Amatlah tidak mungkin inefisiensi serta kesia-sia-an dilakukan Allah yang maha adil dan sempurna itu. Karenanya diktum bahwa “Setiap syariat rasul yang datang kemudian menghapus/menyempurnakan syariat rasul yang sebelumnya” sungguhlah bersesuaian dengan prinsip akal.

Akidah yang mengajarkan prinsip ushul berupa tauhid dan keimanan tak perlu berganti dengan bergantinya rasul, syariat-lah yang berubah dan menyempurna. Sebagaimana Isa menghalalkan yang diharamkan sebelumnya, Muhammad pula menyempurnakan dan menganulir syariat yang sebelumnya (mengambil contoh Mas Ulil; berpaling kiblat dari Yerussalem ke Ka’bah–meskipun saya tak setuju motif politik kekuasaan pada perubahan itu seperti yang disampaikan Mas Ulil, agak aneh rasanya menerima nalar bahwa Allah menyuruh Muhammad pindah haluan kiblat disebabkan alasan political envy semacam Mas Ulil sampaikan). Lebih jauh dari itu semua secara fundamental, Muhammad yang belakangan ini mendeklarasikan kesempurnaan wahyu yang turun sebelumnya seraya berseru “saat ini telah sempurna evolusi risalah islam sebagai pengakuan dan kepasrahan kepada tuhan yang tunggal yang monoteis. Anehnya sejak saat itu pula banyak golongan “islam” sudah tidak menjadi “islam” setia lagi.

***

4. Tanggapan Hilman Latief:

Assalamu’alaikum

Islam yang mana yang dikritik dan apa itu al-Islam nampaknya kini menjadi salah satu topik hangat di sini. Saya tidak tahu, apakah ini bisa dijembatani oleh penggunaan terminologi lain yang cukup bisa memisahkan Islam “generik” dan yang “non-generik.” Saya hanya akan ikut sumbang pikiran melalui sudut yang lain.

Ketika menulis The Veture of Islam (3 Volumes), Marshall G. S. Hodgson, sejarahwan cukup berpengaruh dari Universitas Chicago, menjelaskan berbagai istilah penting dan teknis pada bab awal bukunya. Tentang kata “Islam” misalnya, yang memang multi-interpretasi baik secara akademis maupun ideologis, Hudgson mencoba menawarkan terminologi-termonologi alternatif.

Dalam konteks studi Islam, misalnya, ia menuliskan: “Though I use the term ‘Islamics’ I feel it does not distinguish clearly enough between studies as Islam as such and studies as Islamdom.”

Menurutnya, dalam konteks kesarjaanaan modern, menggunakan term ‘Islam’ atau ‘Islamic’ terlalu sederhana (too casually) untuk menyebut ‘agama’ atau untuk menyebut keseluruhan masyarakat dan budaya yang secara historis diasosiasikan dengan istilah tersebut.

Jadi, ketika kritik disampaikan oleh Mas Ulil terhadap islam, akhirnya secara terminologis, banyak mengundang keberatan dari pihak lain.

Hodgson lagi2 mengungkapkan bagaimana kita membedakan islam sebagai faith (Islamic faith) dengan term Islam dalam konteks yang lain, misalnya ‘Islamic literature,’ ‘Islamic art,’ ‘Islamic philosopy,’ atau mungkin saja seseorang bisa mengatakan “Islamic despotism”. Tapi tentu ini lain dengan Islam sebagai sebuah ‘faith.’ Benard Lewis, scholar yang lain, menggunakan adjective Islam dalam konteks “the cultural sense”, sedangkan adjective Muslim dalam konteks “the religious sense”. Tentu ini masih bisa diperdebatkan.

Anyway, Hodgson kemudian menawarkan beberapa terminologi sebagai “jembatan” khususnya dalam konteks studi Islam, yakni:

‘Islamdom’ (dari Cristendom): yang ia definiskan “the society in which the Muslims and their faith are recognized as prevalent and socially dominant, in one sense ot another–a society in which, of course, non-Muslims have always formed an integral, if subordinate, element, as have Jews in Christendom.”

Terminologi lain yang menarik adalah ‘Islamicate’ “would refer not directly to the religion, Islam, it self, but to the social and cultural complex historically associated with islam and the Muslims, both among Muslims themselves and even when found among non-Muslims.”

Nah, boleh jadi bahwa istilah “ada yang salah dalam Islam,” terminologi yang diperdebatkan beberapa hari ini, bisa dijembatani dengan istilah “ada yang salah dalam Islamicate,” sehingga yang ‘berkeberatan’ pun mungkin dapat sedikit lega…..

Ya..itu saja

***

(tulisan selanjutnya: Yang Mana Islam 2)

One response to “YANG MANA ISLAM (1)

  1. Reblogged this on Himpunan Usahawan Muda and commented:
    posted : Hilmi Husada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s