YANG MANA ISLAM (2)

YANG MANA ISLAM (2)

Kasus utusan Raja Habsyah ke Nabi saw. barangkali bisa dilirik. 30-an utusan mewakili umat Kristen Habsyah datang ke Nabi bersama Ja`far bin Abu Thalib ketika kembali ke Mekah, dari negeri “suaka”, Habsyah.

Setelah meneliti ciri-ciri dan keadaan Nabi serta mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi, mereka semua lantas mengimani kebenaran Muhammad.

Bagaimanakah bentuk keimanan mereka? Apakah sama dengan keimanan orang yang keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang? Tidak, keimanan mereka hanya sebatas melanjutkan keimanan yang sebelumnya. Keimanan mereka tidak berupa perpindahan “agama” dari Kristen ke Islam karena salah satu lebih unggul dari yang lain, keimanan mereka hanya melanjutkan keimanan yang sebelumnya telah mereka dapatkan dari Isa. Mereka hanya mengimani bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Isa dengan Injilnya sebelum ini. Sepulang mereka ke Habsyah mereka tetap beribadah dan bermuamalat sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Ayat ke 52 – 55 dari surat al-Qashash/28 barangkali bisa kita renungkan bersama.

Jika umat “Islam” ingin memandang kafir umat Kristen atau Yahudi, itu “bisa” juga karena ada ayat yang menyebut mereka begitu. Hal tersebut sebagai konsekuensi dari kepercayaan Trinitas atau Tuhan beranak yang menyalahi monoteisme. Namun sebutan kafir untuk Ahl Kitab di sini hanya sama dalam sebutan, tetapi berbeda dalam esensi. Mereka memang kafir dari sisi cakupan makna kafir itu sendiri, tapi bukan kafir dalam makna istilahi, makna yang lebih khusus. Dalam makna yang lebih khusus/istilahi ini, mereka bukan kafir, mereka bagian dari umat-umat yang sebelumnya telah mendapatkan syariat dari Tuhan (ahl kitab).

***

Jika kita menerima pendapat yang mengatakan, “Setiap syariat rasul yang datang kemudian menghapus/menyempurnakan syariat rasul yang sebelumnya” maka tidak salah jika Islam bukan saja Akidah, melainkan juga syariat.

Tapi, menurut saya, pendapat ini tidak harus diterima secara rigid. Dengan alasan, masih melanjutkan ayat, “wa likullin ja`alna minkum syir`atan wa minhajan” dalam lanjutannya disebutkan, “walau sya’a Allahu laja`alakum ummatan wahidatan, walakin liyabluwakum fi ma atakum, fastabiqul khairat. Ila Allahi marji`ukum jami`a (al-Maidah/5: 48) Dari sini kita bisa memahami bahwa syariat-syariat tersebut merupakan semacam “rule of game” dalam perlombaan berbuat baik. Yang Islamnya mengikuti Syariat Nabi Muhammad aturannya memakai aturan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., yang Islamnya mengikuti Syariatnya Isa, Musa atau yang lainnya maka aturan mainnya mengikuti aturan yang dibawa oleh masing-masing rasul. Dengan aturan-aturan ini perlombaan berbuat baik bisa dimulai. Juri utamanya bukan kita, tapi Yang Di Sana! Maka kita tak bisa saling menyalahkan sampai bertengkar sendiri-sendiri. Ayat-ayat surat al-Maidah sebelum itu, yakni ayat nomer 43 – 47 mendukung pemahaman model begini, silakan rujuk, dan jika saya keliru memahami, tolong dikoreksi.

Jika syariat yang datang kemudian menghapus yang sebelumnya, mengapa al-Qur’an masih memuji-muji para rahib yang tekun membaca ayat-ayat Allah (bisa jadi Injil, atau lagu-lagu pujian, atau lainnya, orang Kristen yang lebih tahu apa tahajudnya di malam hari:-) di tengah malam yang disertai keimanan kepada Dzat Yang Maha Besar. Jika syariat yang lalu terhapus, mengapa masih diperbolehkan “mencicipi” bagian dari syariat terdahulu itu dalam makanan dan perkawinan?! Sekali lagi, jika syariat terdahulu terhapus, mengapa orang Kristen disebut dengan nada memuji sebagai orang yang paling dekat dengan orang-orang yang mengimani Muhammad, hal itu dikarenakan di dalam Kristen ada pendeta-pendeta dan rahib yang saleh.

(Mungkin, bisa saja, kita menemukan fenomena lain ketika menengok ke ranah lain, yang berbau politis/nafsu ingin menjadi umat yang superior, misalnya, di sana akan disebut, “walan tardla `ankal Yahud wa al-Nashar …”, dengan disebutkannya mereka ini saja, bisa jadi, mengindikasikan keberadaan mereka, bukan keterhapusan mereka)

(tulisan sebelumnya: Yang Mana Islam 1)

Salam,

Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi diskusi saya di milis JIL pada medio bulan Oktober – November 2005. Sudah pernah saya blogkan di: http://fakraa.wordpress.com/2007/10/16/yang-mana-islam-2/ yang saya lupa passwordnya, dan saya buat lagi blog ini http:fakra.wordpress.com.

TANGGAPAN ANGGOTA MILIS

1. Tanggapan Ulil Abshar Abdallah:

Ochie,
Penjelasan anda ini sangat bagus sekali. Terima kasih anda telah menyumbangkan gagasan yang sangat penting.

Saya menunggu sumbangan-sumbangan anda yang lain yang cerdas.

***

2. Tanggapan Ading:

Shocheh menulis:

Jika syariat yang datang kemudian menghapus yang sebelumnya, mengapa al-Qur’an masih memuji-muji para rahib yang tekun membaca ayat-ayat Allah (bisa jadi Injil, atau lagu-lagu pujian, atau lainnya, orang Kristen yang lebih tahu apa tahajudnya di malam hari) di tengah malam yang disertai keimanan kepada Dzat Yang Maha Besar.

Jawaban saya:

Lho, apa kaitan pujian Allah terhadap mereka itu dengan masalah syariat lama dan syariat baru? Kalau yang Anda kutip itu adalah QS 3:113 (mudah-mudahan saya tidak keliru), maka serangkai dengan beberapa ayat sebelum dan sesudahnya, Allah berbicara kira-kira begini: Hai Muhammad, sebagian besar Ahli Kitab itu adalah orang-orang yang fasik meskipun ada juga yang beriman (ayat 110). Mereka mendapat kemurkaan Allah karena kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi (ayat 112). Nun di sana, ada segolongan Ahli Kitab yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, mereka juga bersujud, mereka beriman kepada Allah, mereka menyuruh kepada perbuatan ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar, mereka bersegera dalam melakukan kebajikan, dan mereka adalah orang-orang saleh (ayat 113 dan 114). Untuk mereka itu pahala pasti diberikan oleh Allah (ayat 115).

Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjuk kepada objek umum. Nabi Muhammad sendiri tidak tahu satu per satu orang yang dipuji oleh Allah itu. Kalau orang-orang semacam itu ada di hadapan Nabi dan mereka mendengar seruan Nabi Muhammad, maka bisa kita pastikan mereka akan beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikuti syariat yang baru seraya meninggalkan yang lama.

Kita tentunya masih ingat kisah seorang pendeta Bukhaira yang bertemu dengan Muhammad kecil dalam perjalanan beliau berdagang ke Syam bersama pamannya, Abu Thalib. Saya kira jenis Ahli Kitab semacam itulah yang dimaksud oleh QS 3:113 itu. Dalam peristiwa itu si pendeta berkata kepada Abu Thalib, bahwa jika kelak Muhammad telah dewasa dan diangkat menjadi Nabi, maka ia pasti akan beriman dan mengikuti ajarannya. Sekali lagi, pujian itu tidak bermakna bahwa syariat mereka boleh diberlakukan secara umum walaupun sudah datang syariat Nabi Muhammad.

Kalau Anda berbicara tentang pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang nun jauh di sana, yang tidak mendengar seruan Nabi Muhammad, atau mereka yang hingga kini tidak punya akses untuk tahu dan mempelajari Islam, maka it’s oke; syari’at mereka masih boleh berlaku khusus bagi mereka sendiri. Saya termasuk orang yang percaya bahwa jika amal mereka baik, maka Allah pasti akan memasukkan mereka ke dalam surga.

Shocheh menulis:

Jika syariat yang lalu terhapus, mengapa masih diperbolehkan “mencicipi” bagian dari syariat terdahulu itu dalam makanan dan perkawinan?!

Jawaban saya:

Lalu apakah dengan kebolehan itu berarti syariat mereka secara umum masih sah untuk tetap diberlakukan walaupun sudah datang Nabi Muhammad yang membawa syariat baru? Kita belum bisa mengetahui persis apa hikmah di balik keputusan Allah itu. Tapi yang pasti, kebolehan itu hanya menyangkut sebagian saja dari syariat mereka saja, tidak semuanya. Saya hanya menduga, bahwa barangkali makan daging sembelihan mereka dan menikahi wanita-wanita mereka tidak akan menimbulkan konsekuensi yang fatal bagi seorang Muslim. Di lain pihak, hal itu akan mendekatkan hubungan sosial dan kekeluargaan antara kaum Muslim dan Ahli Kitab.

Shocheh menulis:

Sekali lagi, jika syariat terdahulu terhapus, mengapa orang Kristen disebut dengan nada memuji sebagai orang yang paling dekat dengan orang-orang yang mengimani Muhammad, hal itu dikarenakan di dalam Kristen ada pendeta-pendeta dan rahib yang saleh.

Jawaban saya:

Bahwasanya di dalam Ahli Kitab ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang saleh, Al-Quran sudah menyebutkannya. Dan bahwasanya Al-Quran juga menyebut orang-orang Nasrani itu lebih dekat dengan umat Muhammad, maka itulah faktanya. Bukankah mereka adalah pengikut Nabi Isa yang diutus persis sebelum Nabi Muhammad? Artinya, dibandingkan umat nabi-nabi lain, maka umat Nabi Isalah yang terdekat dengan umat Nabi Muhammad (kira-kira 570 tahun). Saya pribadi berpendapat, bahwa pernyataan Al-Quran ini boleh jadi mengandung aspek politis, untuk membangkitkan rasa hormat dan simpati kaum Nasrani kepada Islam. Dengan begitu, diharapkan mereka mau mendekati dan mempelajari ajaran-ajaran Islam. Wallahu a’lam.

3. Jawaban Shocheh atas Tanggapan Ading:

Buat Mas Ading, (thanks atas responnya).

Untuk melihat keterkaitannya, ada baiknya kalo kita memulai dari ayat 93 sampai yang Anda sebut, 115. Di sana akan ditemukan, “maka ikutilah millah Ibrahim yang hanif, ia bukan orang musyrik” (saya garis bawahi kata millah dikaitkan dengan musyrik. Kita tahu musyrik adalah urusan akidah, maka millah sebagaimana din/agama yuthlaqu `ala aqidah.)

Yang tepat, ayat 110 berbicara tentang umat terbaik. Pada ayat 112 jangan digeneralisir, karena di situ ada “illa/pengecualian” yang kurang diperhatikan. Pada ayat selanjutnya, 113-115 merupakan ayat yang secara implisit saya utarakan. Menurut saya, kurang tepat jika mereka diasumsikan sebagai “nun di sana”, tetapi lebih dekat jika ayat ke 113 ini dipahami sebagai penjelasan dari ayat sebelumnya yang berupa “illa/pengecualian”.

Permasalahannya: kita tidak tahu person-person. Lantas, apakah kita akan menggeneralisir? Jika kita melakukan generalisir, apakah manfaat/tujuan dari ayat ini? Ayat ini tentu saja bukan untuk disia-siakan. Minimal, menurut saya, ayat tersebut untuk menyentuh dan menggugah hati kita agar berlaku bijak dan toleran (kita tak mungkin toleran terhadap sesuatu yang tidak ada, bukan?)

Kedekatan yang dimaksud, saya kira, bukan kedekatan dalam interval waktu. Kedekatan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kedekatan “perasaan”. Karena alasan yang digunakan dalam kedekatan ini adalah kesalehan para pendeta dan rahib (qissisin wa ruhban) yang menjalani hidup suci. Perasaan itu adalah kedamaian dan ketenteraman. Ajaran Isa masyhur sebagai ajaran kedamaian,
demikian pula ajaran Muhammad yang kemudian memakai nama Islam adalah ajaran damai–sebagaimana cakupan makna dalam nama Islam itu sendiri.

Terus selanjutnya, saya ajukan “bukti” lain. Kita bisa merenungkan ayat berikut ini: “Andai Allah tidak membuat imbangan di antara manusia maka tentu “sinagog-sinagog”, “gereja-gereja”, “tempat-tempat memuja” dan “masjid-masjid” yang banyak disebut nama Allah di dalamnya akan dihancurkan …” (al-Hajj/22:40)

Bukankah ini sebuah pengakuan akan eksistensi mereka, bukan keterhapusan salah satunya. Andai yang diinginkan keterhapusan, tentu lebih tepat untuk mendukung satu saja dan menghapuskan/menghancurkan yang lainnya.

Ayat berikut juga sangat menarik untuk direnungkan karena meskipun melakukan koreksi agama (baca: akidah), tetapi tidak melakukan koreksi (apalagi penghapusan) syariat agama sebelum Muhammad: “Wahai Ahl Kitab, mari kita sepakati satu ungkapan saja, “kita tidak akan menyembah tuhan selain Allah, tidak akan menyekutukan-Nya dengan apa pun juga, dan tidak akan mengangkat tuhan selain Allah.” Jika kalian menolak, saksikanlah kami “muslimun” (Alu Imran/3: 64). (bukankah pemahaman kata “muslimun” disini lebih tepat jika kita gambarkan sebagaimana “aslama/muslim”nya Ibrahim?! Dan bukan syariat Muhammad!)

***

4. Tanggapan Ading atas Jawaban Shocheh:

Sdr. Shocheh,

Kenapa kata daf’u dalam QS 22:44 Anda terjemahkan sebagai “membuat imbangan”? Saya pastikan terjemahan itu keliru, sebab daf’u berasal dari dafa’a yang artinya “menolak”. Jadi terjemahan yang benar dari QS 22:40 adalah: … Seandainya Allah tidak menolak (kejahatan; keganasan) sebagian manusia terhadap manusia yang lain, niscaya telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, sinagog-sinagog dan masjid-masjid yang di dalam banyak disebut asma Allah

Kesimpulan yang bisa kita petik dari ayat di atas adalah, bahwa Allah tidak menghendaki adanya kejahatan atau keganasan seorang manusia terhadap manusia lainnya, atau satu umat terhadap umat lainnya. Kalau itu dibiarkan terjadi, maka akan ada saling penghancuran tempat-tempat ibadah semua golongan (Yahudi, Nasrani, Islam, dsb). Bukan cuma tempat-tempat ibadah, bahkan seluruh bumi ini bakal hancur kalau Allah tidak mencegah keganasan sekelompok manusia terhadap manusia yang lain (QS 2:251).

Huddimat” (=dihancurkan) dalam ayat itu adalah kata-kerja pasif yang pelakunya bukanlah Allah melainkan manusia itu sendiri. Dalam banyak ayatnya, Al-Quran menggunakan kata-kerja pasif tak bersubjek, untuk menggambarkan bahwa meskipun semua akibat itu terjadi atas izin Allah, tapi
penyebabnya adalah manusia itu sendiri -itulah yang disebut sunnatullah.

***

5. Jawaban Shocheh Atas Tanggapan Ading:

Tentu saja “daf`u” secara harfiah memiliki makna sebagaimana yang Anda sebut, Mas Ading. Dalam terjemahan sebelumnya saya tidak menggunakan makna harfiah tersebut, melainkan hasil yang dicapai “daf’u” nantinya. Pemahaman dari “daf`ullahi al-nasa ba`dlahum bi ba`dl” (garis bawah pada kata ba`dlahum bi ba`dl). Artinya, ada manusia yang kuat, yang lemah, yang lebih
kuat, yang lebih lemah, yang biasa-biasa… dst. Jika yang kuat berbuat melampaui batas, lambat atau cepat, yang semula lemah dan tertindas, bisa saja muncul harga diri dan kekuatannya. Kekuatan itu bisa saja tumbuh dari persatuan orang-orang lemah tertindas atau mendapat “belas kasihan” dari orang/kelompok lain yang lebih kuat yang membantu mereka melawan kekuatan lalim yang menindas, sampai kondisi berubah. Perubahan itu bisa saja berupa hancurnya kekuatan lalim atau berkurangnya kelaliman sampai pada batas wajar. Hasil ini yang saya tuju, dan hasil terakhir ini pasti terjadi karena hal itu merupakan bagian dari sunnatullah (baca: begitulah cara Allah menjaga/membuat keseimbangan kekuatan-kekuatan dalam ciptaan-Nya untuk eksistensi makhluk itu sendiri).

Ya, begitulah “huddimat“, dan itu bisa dipahami: andai Allah tidak membuat “imbangan” (boleh juga, “menolak”) kejayaan suatu kelompok yang melampaui batas (bisa kelompok mana saja) dengan kejayaan yang lain, niscaya kelompok yang melampaui batas tersebut akan menghancurkan “sinagog2″ … dst. Bisa ambil contoh, Israel (yang lemah dalam jumlah & mental) dengan kejayaan ekonomi dan lobinya bisa mengikat Amerika yang kuat untuk melindunginya dan membackingnya. Begitu pula Palestina. Andai Israel tanpa Amerika (atau negara kuat lainnya) entah bagaimana bentuknya, kok berani macam-macam di tengah orang-orang Arab “yang suka tengkar”. Begitu pula Palestina, andai tidak di tengah-tengah Arab, atau andai tidak membawa Islam, entah sudah seberapa jauh Israel semakin berani berlagak!

***

6. Tanggapan Tasning:

Salam,
Saya memiliki beberapa “keluhan” pikiran membaca posting anda di bawah ini. Terus terang saya tidak sedang ingin membela klaim berpikir atau ajaran apapun selain lebih kepada keinginan untuk bersikap “adil” dan bertanggungjawab dalam berpikir. Hebat sekali yah!

Kasus utusan sejumlah umat kristiani dari Raja Habsyah yang mengunjungi Nabi saw apakah bisa kita sebut sebagai upaya mencari tahu ataukah upaya mencari kebenaran yang kemudian menerbitkan iman?

Anda mengatakan seperti di dua paragraf dibawah ini:

Setelah meneliti ciri-ciri dan keadaan Nabi serta mendengarkan apa yang diturunkan kepada Nabi, mereka semua lantas mengimani kebenaran Muhammad.”

Bagaimanakah bentuk keimanan mereka? Apakah sama dengan keimanan orang yang keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang? Tidak, keimanan mereka hanya sebatas melanjutkan keimanan yang sebelumnya. Keimanan mereka tidak berupa perpindahan “agama” dari Kristen ke Islam karena salah satu lebih unggul dari yang lain, keimanan mereka hanya melanjutkan keimanan yang sebelumnya telah mereka dapatkan dari Isa. Mereka hanya mengimani bahwa apa yang dibawa Muhammad adalah benar sebagaimana yang telah dibawa oleh Isa dengan Injilnya sebelum ini. Sepulang mereka ke Habsyah mereka tetap beribadah dan bermuamalat sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Ayat ke 52 – 55 dari surat al-Qashash/28 barangkali bisa kita renungkan bersama.

***

Ochie. Tidakkah sebaiknya kita perlu menyelesaikan dulu beberapa soal tentang apa yang kita anggap sebagai iman itu? Dan apa yang bisa kita definisikan tentang agama.

Bagaimana mungkin akal anda tidak sedikitpun “terusik” menghadapi sejumlah keganjilan yang terjadi pada khabar sejarah yang anda sodorkan itu. Saya tidak tahu keganjilan itu bersumber secara intrinsik dari kesalahan menerima keutuhan riwayat ataukah kesalahan memahami riwayat itu. Keganjilan itu biarlah saya urai secara sederhana berikut ini.

1. Pengetahuan sebelum meneliti (sesuai dengan istilah yang anda gunakan) nabi dan setelah meneliti, tentu harus kita asumsikan terjadi dua kondisi pengetahuan yang berbeda. Keadaan tidak cukup pengetahuan dan berkecukupan pengetahuan. Kehendak untuk meneliti oleh utusan kristiani itu secara sederhana kita andaikan sebagai upaya untuk membenarkan atau menafikan sesuatu (nantilah dulu tergesa-gesa menyebut itu sebagai keimanan). Bagaimana mungkin anda mengatakan mereka lantas mengimani kebenaran Muhammad sekaligus mempercayai tidak ada yang berubah dengan utusan itu setelahnya? Kalaulah tetap begitu adanya, masih bisakah kita menyebut apa yang terjadi pada utusan itu sebagai sebentuk keimanan? Bukankah keimanan mensyaratkan penerimaan kepada “sesuatu”? Peralihan dari kondisi tidak mengetahui menjadi mengetahui.

Dengan kata lain, keimanan selalu meniscayakan terjadinya perubahan kesadaran akan sesuatu. Agak lucu bilamana seorang murid tidak melakukan hal-hal yang diperlukan seorang murid terhadap guru yang ia tahu persis (iman) kadar keilmuannya dan kebenaran perannya sebagai guru. Padahal ia tahu persis kebutuhannya sebagai murid dan kemampuan memberi sang guru. Jika begitu masihkah layak murid itu disebut sebagai murid? Benarkah murid telah benar-benar mengetahui jati-diri sang guru?

2. Saya tidak tahu persis apa yang ingin anda sampaikan dengan kalimat:

Bagaimanakah bentuk keimanan mereka? Apakah sama dengan keimanan orang yang keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang? Tidak, keimanan mereka hanya sebatas melanjutkan keimanan yang sebelumnya”.

***

Kita perlu menyelesaikan dua jenis persoalan yang berbeda disitu. Yakni; Apakah yang bisa kita pahami dengan pernyataan “keimanan yang membawa orang keluar dari kegelapan menuju cahaya” dan keimanan yang tidak berkonsekuensi seperti itu. Apakah lantas bisa kita andaikan ada keimanan yang tidak membuahkan cahaya dan tidak bermula dari kegelapan? Ataukah urusan kegelapan dan cahaya harus kita kesampingkan ketika sedang menyoal keimanan yang anda perbincangkan itu. Yang kemudian anda sebut sebagai “keimanan yang sekedar melanjutkan keimanan yang sebelumnya”.

Saya meng-imani Pluto sebagai planet terjauh sekaligus mengimani penemuan terakhir saintis; bahwa telah ditemukan X sebagai planet terjauh setelah Pluto. Untuk semakin membuat runyam saya menyatakan pula keimanan saya ini bukan seperti kegelapan dan bukan pula cahaya. Ochie. Kenapa terasa “berbunyi” seperti itu logika anda. Maafkan ketidaksopanan kesimpulan saya.

Keluhan nomer 3 dan 4 terutama tentang keunggulan agama biarlah saya tunda dulu demi menjaga emosi dan keterjagaan logis saya dari banalitas dan kehendak ego untuk asal beda yang tiba-tiba muncul.

Terus terang saya pusing dengan pujian Mas Ulil pada posting-an anda (tanpa bermaksud meremehkan kelebihan yang anda miliki yang sudah ada). Saya kok tidak dapatkan “feel” seperti yang Mas Ulil rasakan sebagai cerdas dari posting-an anda. Mas Ulil tolong “deliver” esensi posting itu. Apa yang “nampak” untuk anda dan “tersembunyi” bagi saya. Soalnya saya merasa cukup “tersihir” secara ad hominem untuk mempelajari apa yang Mas Ulil anggap baik dan cerdas.

***

7. Jawaban Shocheh atas Tanggapan Tasning:

Sebab kedatangan delegasi Habsyah tentu berkaitan erat dengan kedatangan para sahabat Nabi ke Habsyah yang hendak mencari tempat aman demi mempertahankan keimanan mereka dan menghindari kejaran orang-orang kafir Qurasy. Namun rupanya, orang-orang kafir Qurasy mengejar pula ke Habsyah dan berhasil menghadap raja menenteng oleh-oleh. Orang-orang tersebut meminta agar sahabat Muhammad diserahkan kepadanya. Sang Raja (yang terkenal adil itu) dengan tegas menjawab tidak akan menyerahkan pihak mana pun sebelum mendengar alasan dari masing-masing pihak. Pada kesempatan inilah para sahabat menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan yang mereka alami.

Setelah mendengar alasan masing-masing, Raja mengambil sikap untuk melindungi para pengikut Muhammad dan meminta pulang orang-orang kafir Qurasy.

Dari uraian yang disampaikan para sahabat Muhammad, tentu saja Raja Habsyah yang juga seorang pemeluk Kristen taat itu tertarik hatinya. Hal ini dikarenakan keimanannya pada ajaran yang dianutnya—yang kita tahu juga terdapat dalam ajaran Yahudi—menubuwatkan ‘akan datangnya seorang nabi atau mesiah’. Ajaran yang mereka anut menyebutkan itu dengan menyertakan
ciri-ciri dan ajaran yang menjadi risalahnya. Al-Qur’an dengan tegas membenarkan penubuwatan ini ketika mengatakan, “orang-orang yang telah Kami beri Kitab (Ahl Kitab) mengetahuinya sebagaimana mereka mengetahui anak-anak mereka.”

Jadi, kunjungan tersebut bukan dalam ‘upaya mencari tahu’ dan juga bukan dalam ‘upaya mencari kebenaran’, melainkan mencocokkan realita yang ada dengan keimanan yang telah ada dalam diri mereka, juga membuktikan kemukjizatan ajaran mereka yang telah dengan benar menubuwatkan realita tersebut. Maka, ketika ciri-ciri dimaksud ditemukan pada realita, mereka mengakui dan menyatakan kebenaran realita tersebut (iman).

Sekarang tentang iman yang mensyaratkan.

Mari kita renungkan ayat ke 136-137 dari surat al-Baqarah/2 atau ayat ke 84 dari surat Alu `Imran/3, “Katakan! Kami beriman kepada Allah dan mengimani apa yang telah diturunkan kepada kami, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya`kub, Asbath dan (pointnya, mengimani) apa yang telah diberikan kepada Musa, Isa dan nabi-nabi lainnya ….”

Kita renungkan, bagaimanakah bentuk iman semacam ini (iman kita terhadap rasul-rasul dan risalah-risalah sebelum Muhammad) dan apa tuntutan serta syaratnya? Bandingkan dengan keimanan delegasi Habsyah, haruskah dibikin berbeda?!

* Biasanya, orang yang sudah tahu lebih dulu ketika ingin membuktikan sesuatu dari orang lain, ia tidak akan bertanya bertele-tele. Ia cukup berbekal pertanyaan singkat tapi langsung pada pokok pembahasan yang sekiranya tak akan bisa dijawab, kecuali oleh orang yang benar-benar khabir dalam hal tersebut. Model seperti itulah pertanyaan Hirakleus kepada Mu`awiyah, dan sangat mungkin, begitu pula model investigasi delegasi Habsyah. Artinya, mereka tidak mempelajari secara rinci ajaran yang dibawa oleh Nabi dan karena itu, tentu saja, mereka bukan pengikut apalagi murid Nabi saw., namun begitu mereka mengimani. Iman mereka bukan berangkat dari titik nol, melainkan sebagai konsekuensi (kelanjutan) dari iman mereka terhadap ajaran yang telah mereka anut sebelumnya.

Saya merasa telah berusaha menetralkan keterusikan Anda, semoga saya tidak gagal.

***

8. Tanggapan Tasning atas Jawaban Shocheh:

Ochie terimakasih. Saya menghargai renungan dan perspektif anda akan sejarah. Mengenai kontinuitas keimanan saya setuju sepenuhnya.

Saya hanya perlu mempertanyakan sejumlah hal yang elementer berdasarkan posting anda terdahulu.

Karena kita mengerti setiap hal penciptaan tuhan pasti memiliki tujuan, maka apa sebenarnya maksud dengan nubuat yang terdapat dalam kitab umat musa dan isa mengenai kedatangan seorang rasul di kemudian hari yang membawa risalah dan membawa kitab allah? Mungkinkah itu bermakna menambah ramai perlombaan keimanan yang telah berlaku sebelumnya terhadap ajaran Musa dan Isa? Kalau yang dibawa oleh Musa atau Isa sudah cukup, maka untuk apa lagi kiranya tuhan mengutus rasul dan menyematkan qur’an di “dada”-nya? Apakah yang terakhir itu datang untuk sekedar membenarkan yang terdahulu ataukah pula menyempurnakan?

Sori, jika terkesan agak “fundamentalis” karena memang fundamental.

***

9. Jawaban Shocheh atas Tanggapan Tasning:

Sebelumnya, Selamat Idul Fitri untuk semuanya. Mohon maaf lahir dan batin. Amma ba`du,

Berbicara tentang nubuwatan, kita akan banyak menemukan hal semacam itu, tak terkecuali di dalam Islam. Ada Imam Mahdi, Dajjal, turunnya Isa as., dst.

Qabla kulli syai’, nubuwatan tersebut akan kita percayai (imani) kebenarannya, meskipun kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap syariat-syariat yang telah ada sekarang ini. Ada diriwayatkan Nabi Isa akan datang dan menghancurkan salib-salib, tapi hal itu tak bisa dipahami bahwa Nabi Isa mendukung pendapat yang mengatakan syariat yang datang belakangan menghapuskan yang sebelumnya. Hal itu justru bisa dipahami karena Nabi Isa ingin meluruskan syariat yang penyimpangan akidahnya dimulai dari kisah penyaliban. (Lagi-lagi, inti masalahnya ada pada akidah)

Maha suci Tuhan untuk melakukan sesuatu yang sia-sia. Segala ciptaan-Nya mempunyai hikmah, tujuan dan tanda-tanda (ayat) bagi kebesaran dan keagungan-Nya. Namun begitu, kita tak selalu bisa menangkap maksud yang dikehendaki-Nya, sebagaimana para malaikat tak bisa menangkap maksud penciptaan Adam dan menjadikannya sebagai khalifah, kecuali jika Dia yang
Maha Agung memberitahukan maksud tersebut.

Kalau kita rujuk ke dalam al-Qur’an, disana akan banyak ditemukan kata “mushaddiqun” atau “mushaddiqan“, yang memiliki arti “membenarkan/mendukung” rasul atau kitab yang telah ada sebelumnya dan, sependek tahu saya, tidak ditemukan kata yang memiliki arti “menghapus”, “mengganti” atau “menyempurnakan” rasul atau kitab sebelumnya. Ada kata yang berarti “mengganti” tapi didahului dengan penegasian sehingga menjadi “tak akan kau temukan perubahan/penggantian atas sunnatullah”, ungkapan ini tentu saja mendukung pemahaman arti “membenarkan/mendukung” bukan “menghapus atau menyempurnakan”.

Barangkali ayat ke 81 dari surat Ali `Imran bisa kita renungkan, “Ketika Allah mengambil mitsaq (janji setia) para nabi, Dia berkata: ‘sungguh yang Ku-berikan kepada kalian adalah kitab dan hikmah, kemudian datang seorang rasul yang membenarkan (mushaddiqun) apa yang ada pada kalian …”

Fenomena lain, kita tahu tidak semua nabi atau rasul hidup saling menggantikan (maksud saya, satu meninggal datang yang lain secara berurutan), melainkan tak sedikit nabi dan rasul yang hidup dalam satu masa yang sama, tetapi berbeda lokasi penyeruan. Apakah ajaran masing-masing saling mengoreksi, saling menyempurnakan?! Yang pasti, mereka saling membenarkan/mendukung.

Hanya dengan dasar, syariat masing-masing benar sajalah ungkapan “perlombaan berbuat baik” (sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Maidah: 48, yang telah saya sebut ketika menjelaskan tentang syariat, dan masih terdapat ayat-ayat lain di surat lainnya) bisa dimulai. Kalau syariat yang lain sudah jelas salah maka tidak akan ada artinya perlombaan ini. Tak ada lomba, yang ada cuma satu melejit, yang lainnya terperosok sebelum naik gelanggang perlombaan.

Termasuk fundamental adalah agar semua orang yang mengimani Tuhan juga mengimani firman-firman-Nya. Firman-Nya lebih layak didahulukan sebelum ucapan-ucapan selain-Nya.

Firman Tuhan selalu konsisten (karena Dia Maha Tahu segala hakikat), berbeda dengan ucapan selain-Nya (yang hanya meraba-raba mencari hakikat) yang sangat mungkin berubah-rubah bahkan berlawanan, “walau kana min `indi ghairillahi lawajadu fihi ikhtilafan katsiran.” Dan kita tak mungkin bisa memahami sesuatu itu konsisten atau saling berlawanan, kecuali jika kita bisa
menempatkan segala sesuatu tersebut pada tempatnya. Jika masing-masing ditempatkan pada tempatnya yang tepat, maka tak perlu terjadi saling silang apalagi sampai benturan dan tabrakan.

***

(tulisan sebelumnya: Yang Mana Islam 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s