PERDEBATAN, DALIL DAN ARGUMEN

PERDEBATAN, DALIL DAN ARGUMEN

Dalil

Dalil adalah sarana yang dijadikan bukti untuk menunjukkan kebenaran suatu permasalahan atau kekokohan suatu pendapat.

Dulu, ketika awal-awal keberadaan saya di Mesir, saya masih memiliki keheranan dan perasaan yang mirip dengan perasaan mayoritas kawan-kawan di Indonesia, baik masyarakat umum maupun pesantrennya. Dulu, saya merasa masygul jika dalam suatu pembicaraan sedikit-sedikit keluar dalilnya. Di Mesir, hampir setiap pembicaraan, apalagi ceramah atau halaqah ilmiah, disertai dengan dalil, baik itu dari al-Qur’ân, Hadits maupun dalil-dalil lainnya.

Akhirnya saya yang merenung, kenapa mereka suka sekali membawa-bawa dalil dalam setiap pembicaraan. Kenapa? Apa saya yang salah? Kenapa saya memasygulkan hal itu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sempat hinggap dalam kehidupan saya. Hasil perenungan saya meyimpulkan, kalau mereka tidak membawa dalil, itu berarti pembicaraannya tidak memiliki sandaran atau referensi sama sekali. Yang artinya, pembicaraannya tidak memiliki bobot secuil pun. Pembicaraan yang disampaikan tanpa menyertakan dalil hanya sepadan dengan suara yang keluar dari rongga menganga, entah itu tong, beduk, atau suara-suara lainnya yang tidak dibebani dengan sebuah makna, arti maupun tujuan.

Karena itulah, selanjutnya, saya bisa menerima dan betah mendengarkan pembicaran-pembicaraan yang di dalamnya diusung banyak dalil. Karena dari dalil-dalil itu akan dapat diketahui seberapa berat bobot pembicaraan yang disampaikan. Jika ia tepat meletakkan dalil, maka si penyampai benar-benar menyadari dan merencanakan apa yang sedang disampaikan. Jika ia tidak tepat merujukkan dalil, berarti si penyampai asal mencomot dalil, tidak teralur atau bahkan tidak paham terhadap apa yang ia sampaikan sendiri. Jika tanpa dalil, berarti si penyampai asal ngomong. Untuk pembicaraan yang asal nyeletuk atau asal ngomong, kita tidak perlu menganggapnya dengan serius. Kita boleh mengabaikan, karena itu hanyalah `abats, kesia-siaan.

Argumen

Argumen adalah alasan yang digunakan untuk mendukung atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan yang disampaikan.

Argumen bisa berupa dalil-dalil, rumus dan kaidah, postulat-postulat maupun alur pemikiran yang jelas yang bisa diterima oleh semua orang, minimal oleh pihak yang menjadi tujuan penyampaian argumen.

Argumen adalah jembatan penghubung antara dalil dengan persoalan yang kita bicarakan. Dalil dan argumen adalah peralatan wajib dalam sebuah perdebatan.

Perdebatan

Perlukah kita berdebat? Untuk apa?

Jika kita berada dalam posisi atau sikap tertentu yang kita yakini kebaikan atau kebenarannya, kemudian ada orang lain yang memprotes atau mengusili sikap atau posisi kita tersebut, maka di sini kita perlu berdebat dengan menggunakan argumentasi berdalil kuat agar pihak yang usil terhadap kita itu tidak mengusili kembali, atau bahkan, syukur-syukur, pihak yang mengusili bisa memahami dan berubah mendukung atau mengikuti sikap kita. Jika sebelumnya kita telah memiliki rujukan dan dalil yang kuat untuk mendukung sikap atau posisi kita, maka posisi dan sikap kita tak akan tergoyahkan (inilah prinsip), namun sebaliknya, jika sikap atau posisi kita sebelumnya tidak memiliki atau tanpa didasari oleh rujukan dalil atau pemikiran yang kuat, maka sikap atau posisi kita akan goyah, kita harus secara jujur mengoreksi diri, demi kebaikan kita sendiri. Kita harus merubahnya; mengganti sikap dan posisi ke yang lebih kuat atau berterima kasih dan bahkan, mungkin, mengikuti pihak yang telah mengingatkan (dengan usilnya itu) kerapuhan atau bahkan kesalahan sikap dan posisi kita semula, jika kita lihat posisi atau sikap si usil itu benar atau lebih kuat. Satu.

Jika kita memiliki suatu gagasan atau pemikiran yang ingin kita sampaikan kepada orang lain untuk diikuti (kita mengajak), dan orang lain tersebut ragu atau bahkan menolak ajakan kita dengan berbagai macam alasan/bantahan, maka pada saat seperti ini kita memerlukan bicara, beradu argumen (debat) tentang baik dan benarnya gagasan kita itu, dan bahwa gagasan itu berlandaskan dalil-dalil yang kuat serta valid. Dua.

Jadi, dalam perdebatan, yang terpenting adalah kekuatan dan kevalidan dalil serta ketepatan dan kesantunan argumentasi, bukan karena suatu masalah itu masuk dalam kategori khilafiyah atau bukan khilafiyyah.

Model kedua (ajakan, kita mengajak) inilah yang sejalan dengan makna dakwah. Jadi, perdebatan yang disertai argumentasi yang baik dengan dalil yang kuat memiliki nilai penting dalam ikut mensukseskan dakwah sebagaimana ditunjukkan oleh Tuhan; ud`uu ilaa sabiili rabbika…; wa jadilhum billati hiya ahsan. Karena alasan ini, di antaranya, maka ada ulama yang berpendapat bahwa perdebatan untuk mengajak kepada kebenaran dan kebaikan, atau kepada kesepakatan (kalimatin sawâ’) merupakan kewajiban (fardhu kifayah).

Dilihat dari ayat ud`uu ila sabiili rabbika (surat an-Nahl, ayat 125), tampak bahwa batas terakhir dari suatu prosesa ajakan (dakwah) adalah perdebatan dengan argumentasi yang lebih baik. Dakwah tidak ditempuh dengan jalan kekerasan atau peperangan. Karena jika cara kekerasan yang digunakan, namanya bukan lagi dakwah, akan tetapi pemaksaan, dan kita tahu, tidak ada pemaksaan yang dibenarkan dalam kaitannya dengan dakwah.

Mengingat perdebatan dengan cara dan argumentasi yang lebih baik merupakan senjata pamungkas dalam rentetan jurus-jurus dakwah, maka prinsip-prinsip dan tatakrama perdebatan harus dikuasai dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya agar jurus ini efesien digunakan dan jitu untuk menundukkan lawan.

Perdebatan bukan hal baru, apalagi bid`ah. Ia merupakan kebiasaan yang sudah sangat lama. Perdebatan merupakan sunnah para rasul dalam upaya mengajak kaummnya kepada keimanan, sebagaima akan kita lihat di bawah ini.

Nabi Nuh melakukan perdebatan dengan kaummnya dalam upaya mengajak mereka beriman kepada Allah. Dari susunan ayat di bawah ini, tampak Nabi Nuh berhasil mematahkan semua argumen lawan, dan menunjukkan betapa ajakannya merupakan gagasan yang mempunyai sandaran dalil sangat kuat. Akan tetapi, setelah kewalahan menghadapi jurus-jurus argumentasi Nabi Nuh, kaumnya bukannya insyaf diri, malah nekat bunuh diri. Perbuatan nekat ini adalah kesombongan dan sekaligus kebodohan, ia adalah tanggung jawab pribadi, bukan kesalahan orang lain (dalam hal ini, bukan kesalahan Nuh, orang yang menang dalam perdebatan). Kita perhatikan ayat ke 32 dari surat Hud berikut:

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Orang-orang di dalam kaumnya itu pada mengatakan, Wahai Nuh! Kau telah mendebat kami dengan panjang dan sengit, maka datangkan saja apa yang telah kamu ancamkan kepada kami itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar!.

Nabi Ibrahim juga melayani perdebatan dengan Raja Hamurabi, sebagaimana diceritakan dalam surat al-Baqarah ayat 258 berikut ini:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ آتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ إِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Tidakkah kamu melihat orang yang telah mendebat Ibrahim perihal Allah, Tuhannya, padahal Allah telah memberikan kekuasaan (kerajaan) kepada orang itu! Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan.” Orang itu berdalih: “Aku juga bisa menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim menjawab: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka kau terbitkanlah ia dari barat!” Orang yang ingkar itu pun terdiam. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Sedikit tentang raja yang mendebat Nabi Ibrahim di atas. Menurut salah satu pendapat sejarawan, ia adalah Raja Hamurabi yang di dalam buku-buku sejarah terkenal dengan Hukum atau Undang-Undang Hamurabi-nya dari Babilonia. Jika selama ini kita mengenal raja tersebut dangan nama Raja Namrudz, maka bisa jadi itu adalah nama atau gelar lain dari Hamurabi, akan tetapi nama ini tidak dikenal dalam catatan sejarah.

Masih banyak ayat-ayat lain yang menceritakan jurus-jurus ampuh perdebatan para rasul Allah lainnya, tetapi dalam tulisan ini akan saya cukupkan dengan perintah Allah melalui nabinya, Muhammad SAW. sebagaimana berikut:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Ajaklah ke jalan Tuhan-mu dengan kebijaksanaan, nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan argumentasi yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dia-lah yang paling tahu tentang siapa saja yang tersesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling tahu tentang siapa saja yang mendapat petunjuk.

Dari legitimasi kenabian, sebagaimana uraian di atas, kita juga akan mendapati legitimasi dari peradaban lainnya, peradaban para filosof Yunani. Di sana kita akan mendapati perdebatan juga menjadi senjata yang mumpuni untuk mengajak, mempertahankan atau menolak sesuatu. Perdebatan telah menjadi traktor perubahan. Kalau dalam bahasa Arab perdebatan diwakili dengan kata jadal, mujadalah atau ihtijaj, di Barat bahasa perdebatan itu berubah menjadi dialectic. Mulai dari Socrates, Plato, dan yang terkenal, istilah Dialektika Aristoteles (tolong koreksi saya jika keliru), kita melihat para ilmuwan dan motor perubahan tersebut juga membekali diri dengan jurus debat.

Saya belum memaparkan pendapat-pendapat para ulama dan fuqaha muslim tentang ilmu debat ini, lain kali saja, kalau diperlukan. Sampai di sini dulu.

Salam Hangat,

Shocheh Ha.

(Tulisan ini adalah dokumentasi posting saya di milis alumnifutuhiyyah@yahoogroups.com pada tanggal 22 Juli 2008)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s