Khutbah Idul Adha 1433

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلآ وأنتم مسلمون
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر.
الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر.
الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر.
لا اله إلا الله، والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا     وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز     جنده وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

أما بعد،

عـبـــــاد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله هي خير وسيلة نتقرب بها إلى خالقنا يوم القيامة، يوم لا تملك نفس لنفس شيئا والأمر يومئذ لله.

عـبـــــاد الله، إن يومكم هذا يوم عيد الأضحى، وهو يوم ضيافة الله عباده، أحل الله لكم فيه الطعام وحرم عليكم فيه الصيام. وما من أيام، العمل الصالح أحب إلى الله عز وجل من هذه الأيام.

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Adha yang berbahagia,

Mari, kita merenung sejenak. Sudah sejauh mana kita mampu menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama yang kita anut. Karena sungguh bukan perilaku yang tepat kalau kita mengamalkan ajaran-ajaran agama, tetapi tidak pernah mengetahui dan memahami makna pengamalan itu sendiri. Memang, mungkin, sudah cukup kalau kita memahami bahwa apa pun yang kita lakukan dari ajaran agama tidak lain adalah wujud ketaatan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Tetapi, tidakkah kita ingin mendapatkan makna yang lebih jauh, lebih mendalam dan lebih nikmat dari sekedar ketaatan dan kepatuhan yang batas-batasnya sering kita lupakan? Tidakkah kita ingin sampai pada tahapan dimana hati kita berdegup gemuruh ketika nama Allah disebut?

Tahapan semacam itu bisa digapai melalui perenungan dan penghayatan. Karena dengan perenungan dan penghayatan, segenap perasaan dan indra terlibat, dan dengan itu keimanan semakin menebal dan ketakwaan semakin matang dan kukuh.

Dan pada hari ini, Hari Raya Idul Adha ini, dimana semua bentuk amal kebaikan mendapatkan kecintaan yang berlebih dari Allah, terdapat satu kesempatan yang sangat tepat untuk merenungi dan menghayati ajaran agama yang kita anut ini.

Mengenai hari-hari ini, yakni hari raya Idul Adha ini (hari ke sepuluh di bulan Dzul Hijjah dan sembilan hari sebelumnya), Rasulullah SAW diantaranya pernah bersabda:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

Tidak ada hari dimana amal kebaikan lebih dicintai oleh Allah azza wa jalla dari pada hari-hari sepuluh ini! (yang dimaksud hari-hari sepuluh adalah sepuluh hari di bulan Dzul Hijjah sejak tanggal pertamah hingga hari Idul Adha ini).

Para sahabat lantas bertanya, “Bagaimana dengan jihad/berperang di jalan Allah, apakah juga kalah dicintai dibanding amal kebaikan, wahai Rasulullah?”

Nabi menjawab, “Iya, kecuali jika seseorang pergi berjihad dengan membawa seluruh kekayaannya lalu tak pernah kembali lagi (alias gugur syahid).”

Jadi pada hari-hari tersebut, berkurban lebih dicintai oleh Allah dibanding berjihad. Berdzikir membaca takbir, tasbih, tahmid dan tahlil lebih dicintai oleh Allah dibanding berjihad. Sedekah, puasa dan amal-amal kebaikan lainnya lebih dicintai oleh Allah dari pada jihad/perang.

Selain itu, Nabi juga bersabda:

عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ، فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّحْمِيدِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّهْلِيلِ

Tidak ada hari yang lebih agung di sisi Allah, dan tidak ada amal yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal-amal pada hari-hari sepuluh ini. Karena itu, perbanyaklah membaca tahmid (alhamdulillah), takbir (allahu akbar) dan tahlil (la ilaha illa allah) pada hari-hari ini.

Berdasarkan hadits ini berarti, hari raya Idul Adha lebih besar/agung di sisi Allah dibandingkan hari raya Idul Fitri. Karena itu, usahakan rayakan hari raya ini dengan cara yang lebih meriah (dengan cara menyembelih kurban dan melakukan amal kebaikan) dari pada hari raya Idul Fitri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, la ilaha illa Allah wa Allahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamd.

Hadirin, Jamaah Shalat Id yang berbahagia,

Menilik awalnya, hari raya Idul Adha bermula dari ketaatan Nabi Ibrahim memenuhi nadzarnya untuk mempersembahkan putranya sebagai kurban yang dihidangkanan, jika memang dirinya memiliki putra. Saat mengatakan nadzarnya itu Nabi Ibrahim sudah berusia senja dan belum memiliki anak. Maka ketika selanjutnya Nabi Ibrahim memiliki putra, Allah pun menagih janji nadzarnya tersebut. Dan demi mendapatkan kerelaan Rabb Yang Maha Kuasa, Ibrahim pun melaksanakan nadzarnya, menyembelih putra semata wayang yang tercinta. Akan tetapi kelanjutannya berubah, pengorbanan karena memenuhi nadzar itu beralih menjadi jamuan kehormatan dan kegembiraan. Berkat ketaatan dan ketulusan Nabi Ibrahim, Allah menjadikan pengorbanannya menjadi jamuan agung dari Yang Maha Mulia.

Itu Nabi Ibrahim. Lalu, bagaimanakah kita bisa memahami bahwa pengorbanan yang kita lakukan juga merupakan jamuan Allah Yang Maha Mulia, sementara tampak jelas kita sendiri yang mengeluarkan uang atau ternak, menyembelih dan menghidangkannya dalam rupa-rupa daging kurban?

Hadirin yang berbahagia, bagaimanakah kita memahami dan merasakan kurban yang kita lakukan? Atau yang akan kita lakukan? Apakah kita memahami dan merasakannya sebagai semacam upeti atas nama agama yang ditarik dari harta-harta yang kita miliki? Apakah kita merasakannya sebagai beban berat yang ditimpakan ke pundak kita? Apakah kita merasakannya sebagai bentuk penghambur-hamburan dan penyia-nyiaan harta?

Ataukah kita merasakannya sebagaimana perasaan orang yang tengah menerima hadiah, atau orang yang tengah menerima hidangan lezat dalam jamuan yang agung? Apakah kita melakukan dan menerima pengorbanan dengan penuh rasa sukacita? Apa yang kita rasakan? Bagaimana perasaan kita saat mengeluarkan harta demi mempersembahkan hewan kurban?

Sebagai muslim yang mengimani Allah, yang meyakini adanya kehidupan kekal setelah kehidupan yang kita jalani saat ini, pernahkah kita merenungkan dan menghayati bahwa diri kita sudah bukan lagi milik kita. Pernahkah kita merenungkan bahwa harta-harta yang kita miliki, bukan lagi milik kita!

Ketika kita telah berserah diri kepada Allah, ketika kita dengan sepenuh hati dan kesadaran mengikrarkan keislaman kita, itu berarti kita telah siap untuk tunduk dan patuh kepada Allah. Itu berarti kita sudah siap untuk hidup dan mati di jalan Allah. Kita telah siap mencintai dan menjalani hidup sesuai aturan-aturan Allah. Kita telah siap mencintai dan menerima kematian dengan sukacita.

Kita siap menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, karena kehidupan adalah anugerah yang telah diberikan oleh Allah. Kita siap menghadapi kematian dengan penuh kerinduan, karena dengan kematian berarti kita akan segera menikmati harga yang dibayarkan oleh Allah kepada kita.

Hadirin yang berbahagia, ketika Allah berpesan, jangan sekali-kali kalian mati, meninggalkan dunia ini, kecuali dalam keadaan muslim—seperti bunyi ayat yang telah kami kutipkan di pembukaan khutbah ini—pesan Allah itu bukan pesan dari sponsor, tetapi pesan dari Pemilik diri kita ini. Pesan dari Penguasa semesta raya.

Kita dan kekayaan kita sudah bukan lagi milik kita! Kenapa? Karena kita telah menjualnya. Kita telah menjualnya dengan harga yang sangat tinggi, sangat mahal.

Siapakah yang telah membelinya? Yang membelinya adalah Allah SWT.

Allah telah membeli diri orang-orang yang beriman dan kekayaan orang-orang beriman. Orang-orang yang beriman telah menjadi milik Allah, juga kekayaan mereka.

Bukankah kita termasuk orang yang beriman itu? Bukankah kita termasuk orang yang muslim itu?

Mau tahu, berapa harga yang dibayarkan oleh Allah untuk membeli diri kita?

Di dalam surat at-Taubah ayat ke 111, Allah menceritakan peristiwa jual-beli ini.

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ (التوبة: 111)

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri mereka dan kekayaan mereka, bahwa bagi mereka (harga berupa) surga.

Harganya adalah surga. Itu berarti, harganya berupa dirikita yang kekal (diri kita yang fana saat ini dibayar oleh Allah dengan diri kita yang kekal nanti) beserta segalakenikmatandankenyamanan yang belum pernah terbayangkan. Kenikmatan dan kenyamanan yang melebihi seluruh kenikmatan dan kenyamanan yang paling nikmat dan paling nyaman yang ada di dunia ini. Itu berarti, kita dihargai dengan harga yang sangat tinggi, tiada bandingannya. Seorang mukmin telah menjual dirinya yang penuh kekurangan dan fana, dan Allah membelinya dengan harga yang tiada bandingannya dan kekal. Harga itu berupa kesempurnaandiridan kenyamanan tiada tara. Bukankah sebuah jual-beli yang sangat menguntungkan?!

Jika kita memahami akad kesepakatan jual-beli tersebut, maka kita akan menyadari bahwa: kita harus siap hidup dan siap mati demi Allah. Kita telah dibeli oleh Allah dan telah menjadi milik Allah. Itu artinya, kita harus siap berusaha, bekerja dan mendapatkan kekayaan sesuai cara-cara yang telah ditentukan oleh Allah. Dan cara yang telah ditentukan oleh Allah itu berupa mencari kekayaan harus dengan cara yang baik dan benar serta menjauhi cara-cara yang batil dan curang.

Setelah kekayaan diperoleh, kita juga akan menyadari bahwa kita harus siap membelanjakan kekayaan itu sesuai jalur-jalur pembelanjaan yang telah ditentukan oleh Allah: karena kita dan kekayaan kita telah menjadi milik Allah.

Dari kesadaran tersebut kita bisa menarik benang merah untuk memahami: bahwa pengorbanan yang kita lakukan merupakan jamuan Allah Yang Maha Mulia. Dari situ kita juga bisa memahami, mengapa kita harus bersenang hati dan bergembira ketika membelanjakan harta untuk menghadirkan hewan kurban dan menghidangkannya. Karena yang akan menerima hidangan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah diri kita sendiri juga.

Padahal, bukankah kita membelanjakannya dari harta Allah. Dari harta kita yang telah menjadi milik Allah! Bukankah itu sama halnya dengan: Allah tengah mentraktir kita dengan hidangan daging, meskipun kita yang membayarnya, tetapi kita membayar menggunakan harta milik Allah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Hadirin, Jamaah Shalat Id yang berbahagia,

Allah telah membuat jalur-jalur pembelanjaan bagi harta-Nya. Di antara jalur atau pos ini adalah agar kita membelanjakan harta untuk keperluan penyembelihan kurban dan penghidangan daging. Untuk siapakah Allah melakukan itu semua? Untuk siapakah Allah menyediakan daging-daging itu? Jawabannya tentu saja untuk diri kita masing-masing. Kita yang menikmatinya, kita yang membaginya dan kita yang mendapatkan pahalanya. Betapa pemurahnya Allah! Betapa pemurahnya Allah! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Karena itulah, hari raya kurban, atau hari raya haji, atau hari raya Idul Adha ini disebut sebagai Hari Jamuan Allah, yaumu dhiyaafatillah. Hari dimana Allah menjamu hamba-hamba-Nya yang tengah mengunjungi Rumah Suci-Nya, mengunjungi Masjidil Haram di Makkah Al-Mukarramah dan hamba-hamba-Nya yang beriman lainnya dengan hidangan daging. Daging-daging terbaik dari hewan-hewan kurban itu adalah jamuan dan suguhan dari Allah. Maka tidak layak bagi hamba yang beriman menolak jamuan Allah. Tidak layak bagi hamba yang beriman enggan membelanjakan hartanya yang telah menjadi milik Allah untuk keperluan penyembelihan kurban. Juga tidak layak bagi hamba yang beriman berpuasa dan berpantang makan dari jamuan yang tengah dihidangkan oleh Allah.

Hari ini, hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya adalah hari-hari dimana Allah menjamu hamba-hamba-Nya. Karena itu haram berpuasa, karena berpuasa pada hari-hari ini sama artinya dengan menolak jamuan Allah. Betapa Maha Pemurahnya Allah yang telah menjamu hamba-hamba-Nya dengan hari raya ini!

Demikianlah sekelumit pemahaman dan penghayatan mengenai hari raya Idul Adha ini, semoga bermanfaat dan selamat hari raya Idul Adha.

تقبل الله منا ومنكم

وأقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين والمؤمنات

========================================

الحمد لله رب العالمين، والعاقبة للمتقين، ولا عدوان إلا على الظالمين، نحمده ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، ونسأله التقوى والهدى إلى صراطه المستقيم. نشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. ونشهد أن سيدنا وشفيعنا محمدا عبده ورسوله، إمام المتقين، وسيد المجاهدين. اللهم صل وسلم وبارك عليه وعلى آله وأصحابه وأتباعه الذين آمنوا وكانو يتقون

الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر.

لا اله إلا الله، والله أكبر. الله أكبر ولله الحمد. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده، ونصر عبده، وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

***

اللهم، يا الله، الواحد الأحد الصمد الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد، نسألك أن تغـفر لنا ذنوبنا وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات إنك أنت الغفور الرحيم، وإنك سميع قريب مجيب الدعوات، اللهم اشف مرضانا وارحم موتانا يا شافي يا أرحم الراحمين.

اللهم اصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا واصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا واصلح لنا آخرتنا التى فيها معادنا، واجعل الحياة زيادة لنا في كل خير واجعل الموت راحة لنا من كل شر.

اللهم اجعل عيدنا عيدا مباركا، وتقبل منا صالح أعمالنا، يا الله، يا مجيب السائلين.

اللهم اصلح ولاة أمورنا ووفقهم لما تحبه وترضاه. اللهم اجعل إندونيسيا بلدتنا هذه سخاءا رخاءا وسائر بلاد المسلمين. اللهم لا تدع لنا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة إلا قضيتها ويسرتها يا أرحم الراحمين. اللهم اجعلنا من الذين يستمعــون القول فيتبعــون أحسنه.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه الأخيار وسلم تسليما كثيرا. آمين

عبــــاد الله، إن الله يأمركم بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى واليتامى وينهاكم عن الفخشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون، أذكروا الله يذكركم.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s