1 – PENDETA PEMIKIRAN

-1-
Pendeta Pemikiran

Dengan jubah dan kopiahnya, ia benar-benar seperti pendeta. Begitulah ia berpakaian di dalam rumahnya. Dandanan inilah yang mungkin sesuai dengan warna kehidupannya. Kehidupan yang tenang di antara buku-buku dan kertas, mandek seperti dawat di dalam bak tinta! Tidak ada sesuatu pun yang bergerak mengalir pada dirinya, bahkan hari-harinya. Hari ini, kemaren, besok dan seterusnya tidak ada bedanya, seolah-olah berhenti, tak pernah berganti. Atau, seolah-olah hari-hari itu telah terkumpul dan terikat menjadi sehari tanpa henti! Meskipun begitu, di sana, di tengah-tengah kerumunan manusia terdapat banjir yang senantiasa membuncah tanpa jeda; dan ia senantiasa melontarkan gagasan ke tengah kerumunan itu. Mempengaruhi mereka. Keadaannya persis seperti orang yang tengah duduk di tepi kolam ikan, melempar remukan makanan dan menyaksikan ikan-ikan itu berkumpul mengerumun, lalu bergerak berpencar. Tulisan-tulisannya telah banyak memberi pengaruh. Pendapat-pendapatnya telah menggema ke mana-mana.

Ia merasa mengemban tanggung jawab kepada semua orang akibat pengaruh yang ditimbulkannya, maka ia pun melaksanakan pekerjaannya dengan penuh kesungguhan. Ia tidak ingin menipu orang lain dengan mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakannya. Ia mengimani kewajiban seorang pemikir dan pemegang pena adalah memasukkan keyakinan ke dalam diri manusia; keyakinan bahwa mereka mampu meraih kemuliaan. Dan kewajiban ini mengharuskannya menjalani kehidupan luhur, jauh dari hujatan dan celaan.

Ia selalu memandang rendah mereka yang menyebarkan karya sastra bermutu tinggi, indah dan mempesona, tetapi menjalani kehidupan yang semuanya kehinaan, kepicikan dan kejahatan. Penulis sejati menurutnya adalah teladan yang bisa ditiru secara lahir dan batin. Jika tidak begitu, berarti ia adalah seorang pelawak yang sedang mempertontonkan dirinya kepada khalayak dengan dandanan seorang raja, namun begitu menyendiri, ia melepaskan dandanan itu sehingga tampak kehinaannya persis seorang jembel. Inilah alasannya mengapa ia memilih kehidupan yang ketat tersebut.

Di dalam rumahnya ia hanya tinggal sendirian, ditemani seorang pembantu tua yang selalu melayaninya, mengurus makanan dan membawakan keperluan-keperluannya. Ia tidak memiliki banyak keperluan. Hal terbesar yang dimintanya setelah membaca dan merenung hanyalah duduk menghadapi rak buku. Tidak melakukan apa-apa, selain merapikan barisan-barisan buku itu, mengurutkan bagian-bagiannya dengan cara yang membuat tangan tidak mungkin keliru, meski dalam kegelapan!

Ia selalu membaca di atas pembaringannya sebelum tidur. Terkadang ia teringat untuk membawa buku dalam bidang tertentu dari raknya, ia hanya perlu mengulurkan tangan mengambil buku tersebut tanpa perlu menyalakan lampu. Jemari tangannya telah terlatih membedakan di antara buku-buku yang ada. Hanya dengan meraba, seolah-olah ia telah membaca judul buku itu dengan sentuhan tangannya. Telapak kakinya berjalan mengitari ruangan ketika ia sedang berpikir. Telapak kaki itu tidak akan berhenti di bawah tempat duduk, kecuali setelah menemukan apa yang dipikirkannya. Tentu saja kedua mata dan telinganya menjadi penopang utama dalam tugas ini, seakan-akan dua indera itu merupakan serdadu jaga dari seluruh indera yang dikonsentrasikan untuk melayani otaknya.

Ia selalu menghabiskan saat-saat senggangnya dengan melihat kubik-kubik buku yang berjejer itu, membaca nama-nama abadi para penulisnya, satu demi satu. Seakan-akan mereka adalah para prajurit pemberani yang tengah berbaris seusai berlaga. Ia terkadang tak kuasa menahan teriakan dari relung jiwanya di ruang sunyi itu, “Mereka semua telah menggerakkan dunia dan mengusung perikemanusiaan. Aku merasa berada di antara mereka dalam keterpencilan dan kemandekan ini: segala sesuatu di sekelilingku adalah gerak abadi. Segala sesuatu diam, kecuali pikiran. Tidak lain, pikiran adalah gerak yang dahsyat!”

Ungkapan yang paling mendekati keadaan lelaki ini adalah ia mengingatkan sosok sastrawan seperti yang digambarkan Karlel: “cahaya dan pendeta yang mengendalikan dunia, seakan-akan sumbu api suci dalam kegelapan, sepanjang debu zaman, di seantero angkasa.”

Begitulah lelaki itu, dan begitulah kehidupannya. Lurus bersahaja. Ia tidak pernah menatap kenikmatan-kenikmatan dunia, kecuali hanya sebagai tegukan-tegukan sporadis, sekedar untuk menyiram dahaga dan membangkitkan kekuatan-kekuatannya dalam gurun gersang kehidupan. Ia tidak menjadikan kenikmatan itu sebagai menu harian atau minuman kesukaan. Terkadang ia merindukan makanan berlemak yang lezat, akan tetapi makanan kesehariannya hanyalah sesuap, dua suap roti yang hampir-hampir tak mampu menegakkan punggungnya. Seakan-akan ia tengah menjalani diet ketat yang tak pernah dilanggarnya, kecuali ketika keadaan menuntutnya lain, atau ketika lidahnya sangat rindu pada menu spesial yang lezat, maka ia akan melahapnya dengan penuh gairah. Lalu datang hari berikutnya dan ia akan kembali pada diet lamanya yang ketat. Menu sahaja dan air putih.

Begitu pula kehidupan malam beserta segala rupa kesenangannya! Ia berangkat tidur tepat pada waktunya, diam menyendiri di dalam kamarnya. Akan tetapi hal itu tidak menghalanginya melanggar keteraturan selama barang semalam, sehingga ia akan begadang sebagaimana orang lain begadang. Berbuat seperti yang mereka lakukan. Mengenali rupa-rupa kesenangan sebagaimana yang mereka ketahui. Lalu pagi harinya mereka terbangun, dan terjadilah keajaiban dirinya, yaitu pelupaannya pada apa yang telah terjadi; penganggapannya bahwa semua kenikmatan yang terkecap kemarin hanyalah tetesan-tetesan yang, dari waktu ke waktu, memang diperlukan demi meneruskan perjalanannya yang cepat dan demi menunaikan kewajiban yang diembannya. Orang lain akan riuh bercerita. Mereka tidak memiliki alat semacam itu di dalam dirinya. Alat yang bisa menghentikan gelora tepat di saat harus berhenti.

Kekuatan terbesar pada diri lelaki ini, barangkali, adalah kemampuannya untuk melawan. Perlawanannya kepada diri sendiri. Jika suatu ketika ia mereguk dari gelas kehidupan, ia tahu persis kapan dan di mana harus berhenti. Ia dengan tegas bisa mengatakan “cukup” kepada dirinya sendiri. Karena itu ia tidak dikenal sebagai orang yang gila kehidupan. Ia tidak dikenal sebagai orang yang gemar pada dunia hiburan, bahkan tak ada yang mendengar hubungannya dengan seorang perempuan pun. Ia menjaga betul agar orang lain tidak mengetahui sisi kehidupannya itu. Ia ingin orang-orang mengetahui keasketikan dirinya dan betapa sedikitnya bersinggungan dengan hal-hal tersebut. Bahkan di sana ada sebuah keuntungan besar yang didapatnya dari pembawaan tersebut: kemampuan “melawan diri” seperti yang dinamainya!

Pola kesederhanaan yang ditempuhnya dalam menjalani kehidupan dunia ini telah menghalangi dirinya memiliki tubuh lembek dan penuaan dini! Setiap orang yang melihatnya selalu memberikan usia yang lebih muda dari usia yang sebenarnya. Raut mukanya menampakkan kesegaran seorang pemuda pada usia tiga-puluhan tahun. Andai bukan karena uban pada rambut kepalanya, sepertinya zaman tidak tahu bagaimana harus menundukkannya! Keadaannya persis seperti keadaan para pendeta Mesir kuno yang diceritakan oleh Plutarks: “Mereka menjaga pola makan dan minum dengan ketat. Karena dalam pandangan mereka, kesucian dan kesehatan berjalan seiring. Mereka tidak pernah berlebih-lebihan mengkonsumsi daging atau sebagian sayuran, bahkan air Nil. Mereka meyakini, berlebih-lebihan meminum air Nil akan menyebabkannya menjadi gemuk sebagaimana tanah menjadi subur dengannya!”

“Tubuh yang tambun, menurut mereka, merupakan sebuah aib bagi seorang pendeta. Mereka berusaha keras membungkus jiwa-jiwanya dengan tubuh yang ringan dan cekatan agar hakikat ketuhanan yang ada pada jiwa tidak terdesak ke bawah oleh beratnya materi yang fana!”

Konon, tak seorang pun pendeta Mesir yang bertubuh gemuk. Tak seorang pun dari pendeta itu yang bisa diketahui usia sebenarnya oleh orang lain. Mereka selalu bertubuh ramping sehingga tampak selalu muda, seolah-olah para dewa telah menganugerahkan kekuatan melawan zaman kepada mereka. Sebenarnya, mereka tidak mendapatkan anugerah kekuatan itu, tetapi mereka mendapat anugerah kekuatan melawan nafsu sendiri. Barang siapa yang menang melawan nafsu maka ia telah menang melawan zaman. Inilah yang telah dipahami dan diamalkan oleh “Pendeta Pemikiran.”

Begitulah lelaki itu hidup. Sebuah kehidupan yang lapang, dalam pandangannya, bersinar terang penuh warna-warni! Sinarnya bukan yang memancar dari panggung glamor dansa, klub-klub hiburan malam dan diskotik. Kehidupan malam baginya merupakan kehidupan jiwa dalam pergaulannya yang mulia bersama bacaan-bacaannya di saat hening. Kehidupan malam merupakan kehidupan jiwa dalam kekhusukan perhatiannya yang panjang pada pikiran-pikiran dan gagasan-gagasan yang membanjiri dunia diamnya.

Sementara kehidupan siangnya, pada pagi hari ia membaca koran dan membuka surat-surat dari penggemarnya baik yang berasal dari dalam maupun luar Mesir yang ditujukan kepadanya. Kemudian ia akan keluar rumah, berjalan kaki di jalanan selama beberapa saat sambil melihati bagian depan toko-toko buku. Setelah itu ia kembali ke rumah dan duduk di ruang kerjanya sembari berpesan kepada pembantunya untuk menutup semua jendela, agar kicau burung kenari di sangkar tetangga tidak mengganggu dirinya. Kemudian ia akan menulis selama berjam-jam sampai tiba saat pembantunya memanggil berkali-kali untuk makan, dan ia tenggelam dalam pekerjaannya, tidak mempedulikan. Hingga sang pembantu capai memanggilnya lalu akan mendesaknya meninggalkan kesibukan itu. Pendeta Pemikiran akan meletakkan penanya dengan kesal lalu bangkit dengan menggerutu, seolah-olah ia sedang digiring ke tempat pencambukan bukan ke tempat makan.

* * *

Hari itu, hari dimana kisah ini dimulai, sebagaimana kebiasaan paginya, Pendeta Pemikiran sedang duduk menghadapi kiriman posnya. Ia tengah membuka surat-surat yang dirikimkan para pembacanya. Saat-saat seperti itu merupakan saat yang paling menyenangkan baginya. Ia sungguh menikmati komunikasi pemikiran semacam ini, komunikasi dengan mereka yang menulis surat-surat itu. Ia bekerja keras demi mereka meski tanpa pernah melihatnya. Namun Pendeta Pemikiran jarang membalas surat-surat itu. Bukan karena merasa tinggi atau berlagak, tetapi karena merasa telah mengatakan semuanya di dalam buku-buku karangan yang telah di cetak dan dipublikasikan. Ia merasa surat-surat pembaca itu tak lain hanyalah balasan mereka atas tulisan-tulisan yang telah disampaikannya di dalam buku, tempat meletakkan intisari pemikirannya selama berhari-hari, simpanannya yang paling berharga!

Namun pagi itu ia menerima surat yang menawan pandangan dan menarik perhatiannya: sepucuk surat dari seorang gadis yang mengatakan dirinya berusia dua puluh dua tahun dan ingin berkecimpung dalam dunia sastra. Pengirimnya mendesak supaya diizinkan bertemu agar bisa menjelaskan permasalahan dan meminta pendapat dari Pendeta Pemikiran. Ia tak menyebutkan nama maupun alamatnya, tetapi mengatakan akan menghubungi Sang Pendeta lewat telepon untuk mengetahui waktu pertemuan yang diberikan!

Pendeta Pemikiran merasa penasaran dengan surat tersebut. Surat dari gadis ini tak seperti surat-surat dari perempuan yang biasa diterimanya. Ada nada kesungguhan dalam bunyi suratnya; singkat dan tak ada obrolan ngalor-ngidul seperti yang biasa digunakan perempuan-perempuan dan gadis-gadis genit. Dan, betapa banyaknya surat dan telepon yang diterima Sang Pendeta dari perempuan dan gadis genit semacam itu. Permintaan ngalor-ngidul semacam itu yang ditakutinya. Karena itu, Sang Pendeta akan menyuruh pembantunya menerima telepon-telepon mereka, dan buru-buru menyudahi setiap pembicaraan yang tak memiliki tujuan dan ngelantur. Tapi, surat yang serius ini adalah perkara lain.

Dalam dua baris, gadis ini telah lebih dulu menyampaikan tujuan dan memberitahukan keinginannya yang terpuji. Bagaimana ia akan bisa menolak maksudnya, atau menjauhkannya dari tujuan itu? Kewajiban mengharuskannya untuk menemui.

Sang Pendeta termenung di atas tempat duduknya. Di dalam benaknya, ia mulai membayangkan gadis ini: bagaimana dia? Seperti apa dia?

Sang Pendeta telah mengetahui perempuan-perempuan yang memberikan hidupnya untuk dunia pemikiran. Bisa dipastikan mereka adalah perempuan yang tak menemukan lelaki untuk diberi kehidupannya! Tetapi gadis ini, seperti yang dikatakannya, baru berusia dua puluh dua tahun. Artinya, masih dalam usianya yang paling baik dan kesegarannya sebagai seorang remaja. Jadi, kemungkinan ia adalah seorang gadis yang telah ditanggalkan alam dari pesona kecantikan yang bisa memikat hati lelaki. Jika seorang perempuan ditanggalkan dari gaun pesona kecantikan ini, maka ia tak memiliki pilihan lain, selain mengenakan baju kasar yang dipakai biarawati! Barangkali dalam baju kasar tersebut terdapat kekuatan tersembunyi atau daya pesona lain yang bisa digunakan perempuan untuk kembali mengetuk pintu harapan! Bagaimana pun juga, tak ada salahnya menemui gadis ini.

Separoh hari lebih telah lewat, dan datang waktu Asar. Dering telepon berbunyi. Pembantu Sang Pendeta bergegas mengangkat telepon. Kemudian pembantu itu memberitahukan pada majikannya bahwa seorang gadis menelepon dan menanyakan waktu pertemuan. Pendeta Pemikiran memerintahkan supaya memberinya waktu kunjungan di pagi hari pada hari berikutnya.

* * *

Hari berikutnya datang. Pendeta Pemikiran telah duduk di dalam ruangannya. Ia membungkuk, asyik menghadapi kertas dan pekerjaannya. Tiba-tiba daun pintu diketuk. Tak lama kemudian pembantunya muncul memberitahukan kedatangan seorang gadis. Tanpa acuh dan tanpa bergeming Sang Pendeta mengizinkan pembantu itu untuk membawa sang gadis masuk menemuinya. Ia tetap tenggelam dalam pekerjaannya hingga ia merasakan desir baju di dekatnya. Sang Pendeta mengangkat kepalanya dan memandang. Sekonyong-konyong lidahnya kelu karena keheranan. Begitu pandangannya menimpa sosok gadis yang ada di depannya, segala sesuatu di dalam benaknya langsung berubah. Bayangan yang sebelumnya terangkai dalam imajinasinya musnah seketika.

Perempuan yang ada di depannya adalah seorang gadis cantik, ramping dan mempesona! Ia dari tipe itu. Tipe perempuan yang biasa berlenggang pada peragaan busana, menebar aroma harum di udara di setiap langkahnya, meninggalkan ribuan pandangan dengan hati tak menentu dan decak kekaguman! Ia tipe perempuan yang biasa terlihat pada panggung utama pertunjukan teater pada malam pembukaan. Ia perempuan yang mendebarkan dada semua yang hadir dan membuat mereka saling berbisik!

Pendeta Pemikiran gugup. Di dalam hati ia berkata, “bukan di sini tempat gadis ini!” Sang Gadis melihat kegugupan Sang Pendeta, maka ia pun segera mendahului mengucapkan salam. Sang Gadis lalu duduk di kursi yang ditunjukkan oleh Sang Pendeta.

“Saya ingin mendapat semua penjelasan dari Anda, Pak!” kata Sang Gadis sambil tersenyum.

“Justeru, sayalah yang mengharapkan Anda menjelaskan semuanya!” jawab Sang Pendeta seperti berkata kepada diri sendiri dengan pandangannya terus menyelidik.

Sang Gadis sedikit menunduk. Bulu-bulu matanya tampak menggaris memberi bayangan pada pipinya.

“Saya menyukai sastra, Pak!”

“Sastra mendapat kehormatan dengan kesukaan tersebut, Nona.” Timpal Sang Pendeta ironis, namun tak bermaksud mengejek.

“Tetapi,” kata Sang Pendeta tak melanjutkan ucapannya. Tampak kebimbangan membayang pada wajahnya.

“Tetapi?”

“Apa maksud Anda yang sebenarnya, Nona? Saya harap Anda mau sedikit menjelaskan. Saya masih belum paham sepenuhnya!”

Sang Gadis kembali menundukkan wajahnya, seakan-akan tak tahu bagaimana harus memulai pembicaraan. Kemudian Sang Gadis mengangkat pandangannya, melihat tempat yang ditinggali Sang Sastrawan ini sambil merenungkannya. Di ruangan itu, Sang Gadis tak mendapati sesuatu yang ceria: tak ada bunga yang mekar, tak ada perabotan yang menarik, tak ada tembok yang berwarna cerah dan tak ada cahaya yang benderang.

Sang Pendeta merasa seolah-olah dada tamunya menjadi sesak dan ingin menghirup nafas bebas. Ia merasa kedua bibir tamunya yang bergincu merah tua itu bergetar dan seolah-olah tanpa sadar sang tamu itu nyaris berteriak,

“Beginikah suasana sastra?!”

Pendeta Pemikiran juga memperhatikan, Sang Nona melihat ke arah jendela yang telanjang, tanpa tirai. Di balik jendela, sebuah bangunan gedung berdiri tinggi menghalangi sinar matahari. Sang Pendeta merasa seakan-akan nona itu tengah mengatakan, “Apakah cahaya ini mencukupi Anda?!”

Dengan kalem Sang Pendeta mengatakan, “Cahaya yang bersinar di dalam jiwa kami selalu cukup bagi kami!”

Sang Gadis tampak tak paham dengan ucapan Sang Pendeta. Raut mukanya menunjukkan ketidak-tahuan!

Namun yang membuat Pendeta Pemikiran heran setelah itu adalah keberadaan Sang Nona yang masih tetap di tempat itu!

Apa yang membuatnya datang ke tempat ini? Apa yang mengikatnya pada kursi itu saat ini? Pendeta Pemikiran menatapnya lama.

“Nona, jika penglihatanku benar, Anda tidak diciptakan untuk dunia sastra!” katanya kemudian.

Sia-sia saja Sang Gadis mencari cermin di ruangan itu.

“Mengapa tidak?” tanyanya kemudian dengan intonasi datar, tanpa semangat.

Sang Pendeta tak menjawab. Tentu saja ia tak bisa menyebutkan alasan, karena dirinya cantik. Mungkin saja seorang sastrawan memberikan hidupnya untuk sastra, tetapi ia tak akan pernah memberikan ketampanan atau kecantikannya untuk sastra.

“Sastra apa yang Anda sukai?” tanya Sang Pendeta ingin menyibak rahasia.
Sang Gadis tampak ragu. Tapi, ia segera menyembunyikannya dengan gerakan tangan. Ia membuka tas kecilnya. Mengeluarkan cermin dan lipstik merahnya lalu berhias sambil mengatakan.

“Saya tak membeda-bedakannya.

Sang Pendeta menatapnya tajam.

“Untuk apa Anda berkenan mengunjungi saya?” tanyanya tiba-tiba kepada Sang Gadis.

“Karena saya banyak mendengar tentang Anda.” jawab Sang Gadis dengan tetap memandangi cermin kecilnya.

“Apakah Anda pernah membaca tulisanku?”

“Tentu.”

“Apa yang telah Anda baca?”

“Aahh…”

Sang Gadis pura-pura lupa dan berusaha mengingat-ingat. Pendeta Pemikiran tak ingin membuatnya malu, maka ia pun diam saja. Jemari tangannya sejenak memainkan surat yang telah dikirimkan oleh Sang Nona. Ia menyadari gadis ini tengah mempermainkan dirinya. Betapa banyak gadis penggoda yang suka mengganggu pria-pria yang menyendiri, mengolok-olok para pelaku ibadah yang tengah menjalani perilaku pendeta!

“Nona! Kenapa Anda mengirimkan surat ini kepada saya dan mengatakan bahwa Anda ingin berkecimpung dalam dunia sastra?” tanya Sang Pendeta dengan nada kurang suka.

“Karena saya menginginkan hal itu,” jawab Sang Nona sambil memasukkan kembali cermin kecil dan lipstiknya ke dalam tas, “Apakah hal itu sulit: berkecimpung dalam dunia sastra?”

Pendeta Pemikiran tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Di dalam dirinya ia merasa seperti yang dirasakan tokoh agama ketika melihat seseorang memukul mihrabnya dengan tongkat kayu. Barangkali Sang Gadis ini bisa melihat apa yang dirasakan Sang Pendeta. Dari pancaran kedua matanya, tampak gadis ini bukan orang yang tak cerdas.

“Apakah saya harus mengatakan yang sebenarnya?” kata Sang Gadis mendahului.

Sang Gadis diam sejenak. Sementara Sang Pendeta merenungkan keadaan dirinya sendiri. Merenungkan cara duduknya, jubahnya dan kopiahnya, lalu merenungkan ucapan terakhir Sang Nona itu. Ia merasa seperti Pendeta Thaïs yang tengah berbicara dengan seorang gadis cantik.

Sang Gadis mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Pendeta Pemikiran.

“Sebenarnya, saya tak menyukai sastra dan tak pernah membaca satu buku pun sejak meninggalkan bangku sekolah.” katanya. “Tak ada yang memberatkanku seperti halnya buku dan membaca. Saya tak pernah menulis sepucuk surat pun kepada seorang sahabat tanpa menelan pil espirin setelah itu! Saya menyukai sinema, pacuan kuda, dansa dan musik!”

“Jazz, tentunya!” kata Sang Pendeta menyela.

“Tentu!!” jawab Sang Gadis spontan, seperti mengatakan sesuatu yang sudah sangat maklum.

Pendeta Pemikiran mendesah.

“Bukankah sudah saya katakan, penglihatanku benar?!” katanya seperti berkata kepada diri sendiri,

“Iya. Tetapi, meskipun begitu, saya menginginkannya.” jawab Sang Nona segera, tanpa memberi kesempatan kepada Sang Pendeta melanjutkan perkataannya.

“Anda menginginkannya?!”

“Iya, saya menginginkannya. Saya ingin menyukai sastra!” jawab Sang Nona dengan intonasi suara yang naik, tegas dan mantap.

Pendeta Pemikiran ternganga, keheranan. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan kepada gadis manja ini.

“Nona, apakah Anda mengira sastra itu seorang pemuda tampan seperti para koreografer, atau seperti kuda-kuda balap yang menjadi kesayangan?”

Wajah cantik itu berubah muram. Bulu-bulu lentik matanya turun tertunduk. Pendeta Pemikiran melihat seakan-akan serangan sengit tengah menggoncang sudut-sudut jiwa Sang Gadir. Gadis itu akhirnya menggelengkan kepala dan berkata memohon.

“Tolong, tolonglah! Tolong jangan biarkan saya putus asa dan frustrasi!”

Sang Pendeta menunduk sejenak. Kemudian dengan lembut ia berkata.

“Saya siap membantu Anda, Nona. Tetapi marilah kita berbicara yang masuk akal!”

“Iya. Jadikanlah saya menyukai sastra berapa pun harganya! Meskipun harga itu berat bagi saya!”

“Nona, itu tak masuk akal. Bagaimana saya akan membuat Anda menyukainya?!”

“Mengapa Anda tak bisa?!”

“Karena cinta atau kesukaan tak bisa diminta maupun dibeli. Anda lebih tahu tentang hal itu dari pada saya!”

“Iya, itu benar! Aahh!” desah Sang Nona pedih.

Pendeta Pemikiran ikut merasakan keputus-asaan Sang Nona. Ia lalu teringat bahwa dirinya belum menanyakan alasan yang mendorong Sang Nona mengajukan permintaan aneh ini. Sang Pendeta kemudian memandang gadis itu meminta penjelasan tentang duduk perkaranya. Namun Sang Gadis buru-buru mengatakan, “Jangan menanyai saya! Apa gunanya, jika ternyata Anda tak memiliki apa-apa untuk saya?”

Sang Gadis lalu bangkit, ingin meninggalkan ruangan. Sang Pendeta ikut bangkit sambil memikirkan keadaan nona ini.

“Maaf, saya telah mengganggu Anda! Saya gadis tolol. Saya mengira segala sesuatu bisa digapai!” ucap Sang Nona sambil mengulurkan tangannya, berpamitan.

“Iya, segala sesuatu bisa digapai selama ada keinginan yang kuat dan dorongan yang luhur!” jawab Sang Pendeta sambil bersalaman, menggenggam tangan Sang Nona.

Dengan pelan Sang Nona menarik tangannya. Kemudian dengan buru-buru ia berkata.

“Jika saya memberi jaminan dengan keinginan yang kuat dan dorongan yang luhur, apakah Anda berjanji akan membantu saya?” tanyanya.

Pendeta Pemikiran melihat kilatan cahaya harapan yang baru kembali muncul pada kedua mata Sang Gadis. Ia tak tega mematikan harapan itu dengan sebuah perkataan. Tetapi, dirinya juga tak berani memberikan janji yang tak bisa ditepatinya. Ia masih belum mengetahui segala sesuatunya. Dirinya masih diselimuti kabut ketidak-pahaman. Banyak pembicaraan berlangsung dalam berbagai hal, tetapi maknanya berbeda persis seperti perbedaan orang yang berbicara itu sendiri. Kata “sastra” bagi Sang Pendeta memiliki makna yang tak sama bagi Sang Nona, sementara Sang Pendeta belum tahu apa keinginan Sang Nona; apa penyebab keputus-asaannya; dan apa yang menjadi harapannya.

“Nona, saya tak akan menjanjikan apa pun sampai saya paham. Tidakkah saya punya hak, paling tidak, untuk memahami asal-usul permasalahannya?” kata Sang Pendeta.

Sang Gadis berpikir sejenak. Kemudian ia memandang ke arah Sang Pendeta sambil berkata.

“Saya mohon Anda tak menanyakan nama kepada saya. Saya tak akan mengatakan nama saya maupun nama keluarga saya. Seluruh yang bisa saya katakan kepada Anda adalah: saya memiliki tunangan yang saya cintai dan ia menyintai saya. Ia adalah pria idaman yang selalu saya impikan! Ia tak ada celanya, kecuali satu hal, ia suka membaca buku-buku sastra! Ia membawaku ke sinema, arena pacuan kuda dan menemani saya membicarakan hal-hal yang saya sukai, tapi saya tak bisa menemaninya membicarakan hal-hal yang ia sukai! Ia menyebutku sebagai ‘gadis yang gegabah.’ Ia bisa memaklumi semua hal yang ada pada diriku, kecuali kebisuan itu. Kebisuan panjang yang merayap diantara kami, karena pembicaraan hanya akan menunjukkan apa yang disebutnya dengan ‘kedunguan dan ketololan’ saya. Ia selalu mengatakan, jurang curam yang ada dalam kehidupan perkawinan kita adalah: dirinya tak akan pernah bisa membicarakan masalah-masalah pemikiran bersama diriku!”

“Saya tak akan lupa, pada suatu hari ia pernah mengatakan: ‘hubungan sempurna yang sering kuharapkan dari isteriku tak akan pernah terjadi dalam pernikahan kita. Separoh kehidupan, yaitu kehidupan pemikiran, akan tetap berada di luar lingkup perkawinan. Kamu, ya “x” tak akan pernah memiliki diriku, kecuali hanya separoh dariku!”

“Lelaki malang itu telah berusaha memberiku bermacam-macam buku, tetapi saya melemparkannya karena bosan. Saya membenci buku-buku, tetapi saya menginginkan separoh lagi dari suamiku! Saya menginginkan seluruh dirinya menjadi milikku, tubuhnya dan pikirannya.”

“Ia juga suka bermain tenis. Dulu saya tak menyukai tenis, juga tak bisa memainkannya. Namun dengan kemauanku, saya bisa mempelajarinya, menikmatinya dan menyukainya hanya dalam beberapa bulan! Kemauan saya telah berhasil mendapatkan segala hal, kecuali buku. Karena itu saya datang meminta bantuan Anda!”

“Tunanganku menyukai buku-buku Anda. Ia mengatakan, gaya bahasanya sederhana dan akan pas buat saya. Tetapi maaf, saya mengaku kepada Anda, buku-buku itu berat buat saya, seperti buku-buku yang lainnya. Obat penawarnya pasti ada pada Anda, Pak. Saya yakin, orang yang menciptakan penyakit juga menciptakan obat. Seluruh kebahagiaan pernikahan saya, sekarang, terletak di tangan Anda! Berilah saya petunjuk! Bagaimana gadis gegabah seperti diriku bisa memperbaiki diri agar kedudukannya menjadi tinggi di mata suaminya? Adakah harapan bahwa pikiranku bisa sebanding dengan pikirannya? Katakanlah, Pak! Bukankah orang sepertiku punya harapan untuk bisa melewati ambang pintu wilayah tersebut? Wilayah tinggi dan suci yang kalian sebut dengan nama wilayah pemikiran? Ataukah selamanya diriku ditakdirkan berada di luar wilyah itu, hanya bisa melongoknya dari luar?!”

Sang Gadis terdiam membiarkan Pendeta Pemikiran berdiri bengong. Kata-kata terakhir Sang Nona yang sedih mengiang-ngiang di telinganya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sang Pendeta menemukan bahwa seorang sastrawan memiliki risalah menyerupai risalah ahli agama! Sering sudah ia menulis, menggambarkan keserupaan ini, namun belum pernah merasa yakin hal itu benar-benar nyata, kecuali hari ini. Bayangan Pendeta Thaïs kembali melayang-layang di dalam benaknya!

Thaïs, gadis cantik yang lincah itu mendatangi Pendeta Paphnus. Ia meninggalkan masa lalunya yang bergelimang dosa dan kesesatan. Ia datang mengetuk pintu sinagog Sang Pendeta mengharapkan pendeta itu membukakan cahaya kebenaran bagi dirinya! Apakah pendeta itu menolak dan membuatnya putus asa? Tidak! Seorang pendeta tak memiliki hak menolak orang yang menginginkan cahaya Allah. Begitu pula seorang pelayan pemikiran dan pendeta yang memang dibaktikan untuk menyebarkan cahaya-Nya. Atas dasar apakah ia boleh menanam keputus-asaan pada hati orang-orang yang menginginkan-Nya?

Di sini pula Pendeta Pemikiran menemukan kewajiban lain, selain kewajiban moral dan penulisan. Iya, ia harus mengulurkan tangannya—sebisanya—untuk membantu jiwa-jiwa buta yang malang itu! Lalu, perlahan-lahan membukakan jendela bagi pancaran cahaya pemikiran.

Pendeta Pemikiran mengangkat kepalanya dan menatap Sang Gadis sambil berkata.

“Percayakan kepada saya!”

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s