2 – THAïS DI LAPANGAN TENIS

-2-
Thaïs di Lapangan Tenis

Tujuh malam telah berlalu. Pendeta Pemikiran terus memikirkan gadis itu. Ia telah berjanji kepadanya akan membantu dan agar mempercayakan permasalahan ini kepada dirinya. Sang Gadis telah pergi untuk kembali lagi. Keduanya telah bersepakat, Sang Gadis akan mengunjungi Sang Pendeta. Sekali setiap minggu. Tapi, sampai saat ini, Pendeta Pemikiran belum menemukan jalan bagaimana cara menunjukkan gadis itu pada “agama pemikiran.” Ia mulai ragu akan keberhasilan misinya.

Pendeta agama bisa membimbing seorang gadis cantik yang tersesat menuju pangkuan langit tanpa banyak kesulitan, karena indahnya kebaikan dan keluhuran tampak di pelupuk mata. Gagasan tentang baik-buruk itu sendiri, pada dasarnya, tak memerlukan dalil sebagai bukti. Bahkan prinsip-prinsip keimanan kepada Tuhan itu sendiri bisa dijangkau oleh akal dan meresap menembus kalbu tanpa memerlukan kesiapan yang panjang, atau pembuktian dan penjelasan yang rumit. Akan tetapi, masalah pemikiran dan sastra tak bisa langsung tumbuh dengan mudah di setiap saat. Pemikiran dan sastra merupakan kecenderungan yang mungkin muncul atau tak muncul pada diri seseorang.

Bagaimana seorang pendeta pemikiran akan bisa menyemaikan benih pada tanah yang tak dipersiapkan oleh Tuhannya bagi tumbuh dan berkembangnya kedua hal itu? Tetapi sebentar. Dalam keyakinannya, Pendeta Pemikiran mempercayai semua jiwa manusia telah dipersiapkan Tuhannya untuk menerima benih-benih yang baik dan menyambut cahaya keindahan. Permasalahannya tergantung pada penyemai. Keberhasilannya tergantung pada kemampuan orang yang menyibakkan rahasia kebaikan yang tinggi itu. Tak seharusnya, dirinya kembali merasa ragu akan risalah yang diemban pendeta pemikiran. Setelah hari ini, tak selayaknya ia menghabiskan waktu memikirkan masalah tersebut. Tapi yang harus dilakukannya adalah fokus memikirkan cara yang akan ditempuhnya guna membantu gadis tersebut.

Malam itu, lama sekali Pendeta Pemikiran mencari cara, namun sia-sia. Dadanya menjadi sesak. Lalu terbersit di dalam benaknya untuk mengikuti cara yang pernah ditempuh Pendeta Thaïs. Pendeta Pemikiran mengulurkan tangannya, mengambil buku karya Anatole France. Telah sekitar dua puluh tahun ia belum pernah membukanya lagi. Ia telah lupa apa yang ada di dalamnya.

Selama dua malam Pendeta Pemikiran tenggelam di antara lembaran-lembaran buku itu. Heran! Seakan-akan ia baru pertama kali membacanya. Sang Pendeta belum selesai membacanya, tetapi telah membaca lebih dari separohnya. Banyak hal yang telah ditemukan pandangannya. Ia lalu berseru kepada dirinya sendiri:

“Betapa menderitanya manusia! Mereka ditakdirkan buta, tetapi mereka mengira memiliki mata yang awas. Kita tak bisa melihat hakikat sesuatu, kecuali dengan mata batin kita. Kita tak bisa menemukan hakikat permasalahan, kecuali dengan menghubungkan dan membenturkannya pada esensi-esensi perasaan kita. Meskipun aku telah mencapai ketinggian akal dan puncak pemikiran, tetapi aku belum pernah menyelam sedalam penyelaman Pendeta Paphnus, kecuali hari ini. Iya, hari ini. Karena aku bisa merasakan apa yang dirasakannya. Aku merasa keadaan telah meletakkanku pada situasi yang telah aku bikin sendiri. Meskipun begitu, banyak perbedaan yang ada di antara Pendeta Paphnus dengan diriku.”

“Pendeta Paphnus-lah yang meninggalkan sinagognya di tengah gurun. Dengan telanjang kaki ia berjalan menyusuri malam-malam yang panjang, menginjak bermacam serangga dan memakan dedaunan demi menemui seorang gadis cantik bernama Thaïs di kota Alexandria. Ia ingin menunjukkan cahaya langit kepada gadis itu. Demi gadis itu, Pendeta Paphnus menempuh marabahaya dan melawan berbagai macam ketakutan. Apa yang membuatnya nekat melakukan itu?”

“Hal semacam itu tak pernah muncul dalam benak Pendeta Paphnus, kecuali secara tiba-tiba pada suatu sore. Sekonyong-konyong bayangan Thaïs yang cantik hinggap di dalam benaknya. Pendeta Paphnus lalu teringat saat pertama kali melihatnya di kota Alexandria, sebelum dirinya membaktikan hidup demi agama. Saat itu, Pendeta Paphnus teringat kerinduannya yang membara kepada gadis itu, seperti kerinduan para pengagumnya yang lain. Namun cintanya pada keimanan telah melipat cintanya pada perempuan. Paphnus lalu pergi menyendiri ke tengah gurun hingga muncul bisikan aneh pada hari itu. Bisikan untuk melakukan mukjizat, mengajak gadis cantik itu menuju agama.”

Pendeta Pemikiran mulai melahap lembar-lembar buku itu lagi. Ia ingin segera sampai di halaman yang mengisahkan saat-saat Paphnus berdiri di hadapan Thaïs. Ia ingin mengetahui sarana-sarana yang digunakan Paphnus. Ia ingin memahami ucapan-ucapan sang pendeta yang telah mampu menggetarkan jiwa yang menyimpang tersebut. Ucapan yang telah menyilaukan mata sayu dan mengantuk lalu membukakan hati yang pekat penuh noda kemaksiatan dan pembangkangan untuk kemudian menerima keindahan agung. Sarana dan ucapan yang sebelumnya tak pernah dijelajah oleh Pendeta Pemikiran!

Ucapan-ucapan yang mengalir dari mulut Pendeta Paphnus saat berhadapan dengan Thaïs, gadis cantik itu adalah berikut ini:

“Thaïs, aku mencintaimu. Aku mencintaimu lebih dari cintaku pada hidupku. Lebih dari cintaku kepada diriku sendiri! Demi dirimu aku meninggalkan saharaku! Demi dirimu, kedua bibirku ini yang seharusnya diam mengatakan ucapan yang tak sepantasnya didengar. Demi dirimu jiwaku bergetar, hatiku terbuka dan berbagai pikiran memancar darinya seolah-olah mata air yang selalu dikunjungi burung dan merpati. Demi dirimu aku berjalan siang dan malam mengarungi belantara debu yang ditinggali dedemit! Demi dirimu aku berjalan di atas kedua telapak kakiku tanpa alas, menginjak kalajengking dan ular! Iya!”

“Aku mencintaimu, bukan seperti para lelaki yang datang kepadamu. Mereka datang kepadamu dengan membawa kobaran nafsu, menuntut jasad seakan-akan serigala. Aku mencintaimu karena Allah, untuk selama-lamanya! Yang kubawa kepadamu bukanlah yang dibawa para serigala buas, atau banteng yang mengamuk. Sungguh, dirimu telah dicintai oleh orang-orang seperti itu, tetapi itu adalah cintanya binatang buas kepada rusa! Cinta mereka yang buas akan mencabik-cabik dirimu hingga ke tulang-belulang. Adapun aku, wahai Perempuan! Aku mencintaimu dengan cintanya jiwa, cinta yang hakiki! Cinta di dalam dadaku adalah denyut kebenaran. Ia adalah kebaikan ilahi! Aku menjanjikan sesuatu yang lebih nikmat dari pada orgasme yang hanya sekilas! Aku menjanjikanmu kebahagiaan dan kegembiraan langit! Kenikmatan yang datang kepadamu tak akan pernah berakhir, selamanya! Ia adalah keajaiban dari segala keajaiban! Ia adalah mukjizat di atas mukjizat! Andai orang yang berbahagia di dunia ini diberi kesempatan melihat bayangannya saja, pasti mereka akan langsung tersungkur, tewas karena rasa kekagumannya!”

“Wahai, Langit! Saksikanlah! Aku tak akan meninggalkan perempuan ini sampai kuletakkan jiwa seperti jiwaku ke dalam jasadnya. Berilah saya ilham, berilah saya kata-kata yang membara yang bisa mencairkannya seperti cahaya lilin yang akan padam dengan hembusan nafasku!”

“Wahai, Perempuan! Tidakkah jari-jariku ini mampu menciptamu kembali? Mencetakmu dengan cetakan kecantikan yang baru, agar setelah itu kau bisa memekik dan berlinang air mata karena saking gembiranya. Agar kau memekik: ‘Hanya hari ini, aku benar-benar dilahirkan. Hanya hari ini aku melihat cahaya!”

Pendeta Pemikiran tak meneruskan bacaannya. Ia telah mengetahui hasilnya! Lelaki yang bisa melontarkan kata-kata seperti ini di telinga perempuan pastilah mendapatkan hasil yang diinginkannya! Perempuan, bunga tanah dan bunga langit sekaligus ini, pasti akan segera membukakan kelopaknya begitu kata “cinta” membasahinya. Meski apapun selubung yang dikenakan oleh cinta dan apapun maksud serta tujuan cinta itu! Iman seorang perempuan adalah cinta. Di sinilah jalan itu menjadi mudah dan lancar, sehingga akan bisa membawa perempuan menuju keimanan, seluruh keimanan. Apa pun bentuknya.

Saat itu hati Pendeta Pemikiran bergetar. Keadaan dirinya bersama Sang Gadis berbeda. Sudah seharusnya kalau ia mengambil sikap berbeda dengan sikap Pendeta Paphnus bersama gadis cantiknya. Bukan karena hatinya tak bisa diisi dengan cinta kepada Sang Gadis, tetapi karena hal itu tak pantas dilakukannya. Selain itu, karena cinta pulalah Sang Gadis itu tertuntun datang ke tempat pengasingannya. Karena cintanya, ia menyeberangi gurun pemikiran dengan kedua telapak kakinya yang mungil. Telapak kaki yang mengenakan sepatu ber-heel tinggi yang tak pernah menapaki selain lantai-lantai datar dan nyaman, marmer mengkilap dan bebungaan yang jatuh di atas rerumputan taman. Iya, cintanya kepada tunangan yang berpendidikan itulah yang telah membawanya datang, meninggalkan dunianya sendiri menuju dunia Sang Pemikir ini.

Pagi harinya, pada jam yang telah disepakati, Pendeta Pemikiran menunggu kedatangan Sang Gadis, namun ia tak datang. Sambil menarik nafas panjang Pendeta Pemikiran berkata kepada diri sendiri,

“Dunianya yang gemerlap telah memanggilnya kembali. Dunianya yang berkilau telah menariknya kembali. Sementara aku cukup dijadikan perangkap, boneka dari tanah liat dan debu!”

Meskipun begitu, Pendeta Pemikiran tak bisa menyembunyikan gejolak perasaan yang terjadi di dalam dirinya. Ia tak tahu, entah apa sebab dari gejolak itu. Ia tak bisa memahami alasannya, tetapi hal itu adalah sejenis perasaan menyesal yang mendalam: atas apa? Dan kenapa? Pendeta Pemikiran tak mampu memberikan jawaban. Masalah ini berada di luar jangkauan kesadarannya!

Tiba-tiba pintunya diketuk. Lalu muncul seorang lelaki Nubia berbaju bersih yang memperkenalkan diri sebagai sopir Sang Gadis. Ia datang memberikan sepucuk surat, lalu pergi. Dalam suratnya, Sang Gadis meminta maaf atas keterlambatannya dari waktu yang telah disepakati. Ia juga mengatakan, dirinya saat ini sedang mengenakan baju tenis. Ia malu menampakkan diri dan muncul di hadapan seorang “pendeta pemikiran” dengan pakaian seperti ini. Ia masih belum menemukan ketegaran diri untuk mengorbankan pagi yang cerah dan indah seperti pagi ini untuk apapun, meski hal itu adalah sastra dan pemikiran. Ia saat ini tengah menghirup udara sebanyak-banyaknya, untuk memenuhi paru-parunya. Ia tengah memamerkan rambutnya yang tergerai dan kedua lengannya yang telanjang pada matahari musim dingin yang indah ini. Dirinya sedang memperhatikan sungai Nil yang berkilau pada alirannya yang hijau, seakan-akan sebuah pedang yang tersangkut di atas pepohonan taman, atau seperti sebuah pita perak di atas topi berwarna hijau.

Sampai di situ sang gadis meminta maaf karena menyebutkan kiasan-kiasan tersebut. Ia masih belum lupa bahwa dirinya seorang perempuan; di mana saja, pandangan matanya selalu tergoda pada bermacam model topi baru. Ia mengakhiri suratnya dengan mengulang permintaan maaf serta mengharap agar Pendeta Pemikiran menjauhkan prasangka buruk yang mungkin hinggap pada dirinya. Ia juga meminta agar Sang Pendeta mempercayai keteguhan hatinya pada kesepakatan. Mempercayai kuatnya keinginan yang dimilikinya, juga mempercayai keyakinannya pada kekuatan tekadnya. Lalu akhirnya, mempercayai keberhasilannya dalam melabuhkan jiwa dan pemikiran yang tinggi yang sebanding dengan tingkat tunangannya!

Tentu saja Sang Gadis menuliskan suratnya itu dengan tergesa-gesa; bentuk tulisannya jelek, ungkapan-ungkapan yang digunakan tak lepas dari kesalahan tulis, susunan kalimatnya primitif mendekati susunan orang yang berbicara ketimbang susunan orang yang menulis. Tetapi, angin segar macam apa yang muncul dari perkataannya ini? Hembusan nafas kehidupan yang harum macam apa yang tengah menari-nari dalam baris-baris tulisan ini?

Jika dugaan Pendeta Pemikiran benar, gadis ini merupakan mata air jernih yang hanya memerlukan penggalian lebih dalam agar airnya yang segar dan tawar bisa memancar, mengaliri jiwa dan menyegarkan kalbu. Inti jiwa sastra telah bersemayam dalam diri gadis ini, namun ia tak menyadarinya! Bagaimana pun juga, sebelum segala sesuatunya, sastra adalah jiwa. Adapun corak atau gaya penulisan hanyalah alat yang bisa dipelajari kemudian, dengan banyak latihan dan kesabaran. Yang diperlukan gadis ini, dalam dugaan Pendeta Pemikiran, bukanlah kemahiran corak atau gaya dalam pembuatan sastra, tetapi penjiwaan yang bisa menerangi bola kristal di dalam dirinya. Penjiwaan yang bisa membuat lidahnya fasih mengungkapkan perkataan-perkataan bermutu dan membuat dadanya mampu menetaskan harapan-harapan mulia serta pemikiran-pemikiran yang luhur!

Aahh! Kini jalan Pendeta Pemikiran telah terang-benderang. Garis-garis dan sudut-sudut yang mengarahkan tugasnya telah jelas! Dirinya juga ingin menciptakan gadis ini menjadi makhluk baru. Ia ingin menjadikannya sebagai mempelai yang gemulai memainkan rambutnya yang tergerai, sementara jiwanya bersinar di padang pemikiran yang luas, berbunga. Ia ingin menjadikannya sebagai ratu persidangan yang kisahnya tertulis dalam catatan-catatan sejarah. Ia ingin menjadikannya sebagai wanita yang mampu menyentuh jiwa para lelaki dengan tongkat kebesaran jiwanya, sebagaimana ia mahir merias matanya dengan sentuhan pensil celaknya. Sehingga tiba-tiba, jiwa-jiwa itu terbuka, melihat keindahan yang sebelumnya tak terlihat. Sehingga tiba-tiba, kekuatan itu bergerak di dalam dirinya, membuahkan kesanggupan dan membangkitkan cita-cita. Sehinga tiba-tiba kebaikan melimpah dan kehidupan berdenyut dalam semua benda dan ciptaan.

Aahh! Sungguh perempuan merupakan harta karun, tetapi ia terpendam di dalam lapisan bumi yang paling dalam. Lalu siapakah yang bisa mengeluarkannya, selain sihir pendeta yang paling mahir?! Bahkan perempuan adalah mukjizat yang terlipat di atas langit yang paling tinggi. Lalu siapakah yang mampu menurunkannya, selain seorang pendeta yang sangat ikhlas, yang imannya sangat kuat?!

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s