3 – SI JELITA MEMBACA

-3-
Si Jelita Membaca

Seminggu kembali berlalu. Pagi itu Pendeta Pemikiran telah duduk menunggu. Hari itu adalah hari yang telah disepakati untuk kedatangannya. Sebuah bayangan muncul dalam benak Sang Pendeta. Ia lalu berdiri, melangkah menuju jendela mencari matahari. Sang surya sedang bersembunyi di balik awan. Hari suram dan hawa dingin. Jadi, tak ada hal yang akan menghalanginya datang. Dugaan Sang Pendeta tak meleset. Begitu jam tepat menunjukkan saat pertemuan, terdengar suara ketukan dari pintunya. Sang Gadis pun memasuki ruangan dengan mantel bulunya yang mahal masih menempel. Ia menyapa Pendeta Pemikiran dengan senyum ceria yang mengembang. Lalu melepas sarung tangannya.

“Ini, saya datang tepat pada waktunya!” katanya.

Pendeta Pemikiran menoleh ke arah jendela. “Tenis pagi ini tak menyenangkan?!” selorohnya mengejek tanpa kentara.

“Iya, dunia penuh debu dan matahari tak muncul!” jawab Sang Gadis serius.

“Kalau begitu, saatnya sastra tersenyum dan menyinari Anda!” sambung Sang Pendeta di dalam hati. Ia menyembunyikan jawabannya ini.

Sang Gadis lalu duduk di hadapan Sang Pendeta, seperti seorang bocah penurut yang menunggu buah apel yang akan diberikan kepadanya, sebentar lagi. Sesaat berlalu tanpa Sang Pendeta mengatakan apa pun. Sebenarnya, ia tak tahu harus mengatakan apa atau berbuat apa! Kedua matanya memandangi mantel bulu Sang Gadis, lalu mukanya dan rambutnya. Tampak kemahiran tangan-tangan tukang cukur dan tukang keriting pada rambut itu!

Saat itu, entah mengapa, Pendeta Pemikiran teringat kata-kata berkobar yang diucapkan Pendeta Paphnus kepada Thaïs. Hatinya menjadi berdegup lebih cepat, tetapi ia segera dapat menguasainya. Pendeta Pemikiran tertawa sendiri karena membanding-bandingkannya dengan Thaïs dan Pendeta Paphnus. Ketawanya ringan, dibuat-buat, yang tentu saja dipahami keliru oleh Sang Gadis.

“Apakah Anda melihat saya tak serius?!” tanya Sang Gadis segera. Perkataannya masih dengan mimik seorang bocah yang takut kehilangan hadiah yang telah dijanjikan.

Pendeta Pemikiran menunduk, berpikir. Lalu berkata seperti orang yang tengah menyeru dirinya sendiri.

“Anda benar-benar serius agar saya menjauhkan obat pahit ini dari Anda. Anda tak menyukai buku, dan saya tak tahu bagaimana menyuguhkan sastra tanpa buku. Saya tak tega memaksa Anda melakukan sesuatu yang tak Anda sukai!”

Pendeta Pemikiran lalu diam. Ia mengangan-angan apa yang baru saja diucapkannya. Ia merasa telah melakukan kesalahan. Tak ada sesuatu di muka bumi ini yang bisa diperoleh tanpa usaha keras, tanpa memaksakan diri, memeras keringat. Semakin besar keinginan, semakin berat pula usaha yang harus dilakukan! Dirinya di hadapan gadis ini seperti seorang ayah di hadapan anak perempuannya yang masih kecil. Karena itu, tak sepantasnya berkecil hati jika harus memperlakukannya dengan keras, kalau memang keadaan menuntut begitu. Gadis ini perlu menyukai buku jika menginginkan pikirannya menjadi tinggi. Tak ada cara yang lain, selain itu.

Lebih baik dirinya berkata tegas dan final. Gadis ini tinggal menerima dan menjinakkan diri agar suka membaca. Ia perlu mendengar nasehatnya, lalu menjalankan nasehat itu dengan sungguh-sungguh. Paling tidak, ia harus menunjukkan persiapan yang baik demi membantu terlaksananya langkah-langkah yang telah direncanakannya. Atau, gadis ini bisa pergi sekarang juga tanpa mengharapkan apa pun, karena dirinya tak bisa menciptakan kemustahilan. Raut muka Sang Pendeta berubah, rona mukanya berwarna lain, seluruhnya keras. Ia mulai membuka mulut untuk mengatakan itu semua, tetapi sesuatu menahan mulutnya. Gejolak yang tadi bergelora menjadi diam! Ada rasa ketakutan yang aneh menggelayut di dasar jiwanya!

Iya, Sang Pendeta takut kalau burung mungil yang cantik ini terbang, lari menjauh dan menolak belajar berkicau dari dirinya. Ia takut kalau burung mungil ini merasa sudah puas dengan bisa mengerik kering di atas cabang pohon. Pendeta Pemikiran berkali-kali melihat ke arah Sang Gadis dengan bimbang dan bingung.

“Nona!”

Dengan kecerdasannya, Sang Gadis bisa menyadari hal-hal yang tengah berkecamuk di dalam diri Sang Pendeta. Ia pun segera mengatakan.

“Jangan kuatir! Saya akan melakukan apa saja yang Anda perintahkan. Saya telah mengatakan kepada Anda bahwa keinginan saya kuat!”

“Apakah Anda mau membaca?!” tanya Sang Pendeta memberanikan diri.

“Saya akan membaca semua tulisan yang Anda suruh untuk membacanya!” jawab Sang Gadis segera.

“Dan, mau menulis?!” tanya Sang Pendeta bersemangat.

“Semua yang Anda perintahkan untuk menulisnya!” jawab Sang Gadis tanpa berhenti.

“Berarti masalahnya sudah terpecahkan!” teriak Sang Pendeta gembira.

“Iya, saya selalu punya waktu yang cukup untuk membaca dan menulis sebelum tidur, di atas tempat tidur, di bawah cahaya lampu berwarna merah mawar. Tetapi ada satu masalah,” kata Sang Gadis sambil berpikir.

“Apa itu?” tanya Sang Pendeta cemas.

“Anda tentu akan menguji yang saya baca. Biar saya katakan sejak sekarang, saya akan gagal dalam ujian itu!” jawab Sang Gadis seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

“Anda mengecilkan kemampuan Anda sendiri!” kata Sang Pendeta sambil tertawa.

“Tidak. Kelemahan saya yang paling besar adalah saya sama sekali tak bisa berdiri dalam posisi sebagai orang yang diuji,” timpal Sang Gadis dengan tersenyum. “Saat itu, semua yang telah saya baca akan terbang dari kepala seperti asap. Saya tak akan pernah bisa membuktikan bahwa saya benar-benar telah membacanya.”

Keraguan tampak menghinggapi rona muka Sang Pendeta. “Nona! Apakah Anda tengah membenci saya dan sejak sekarang telah berencana untuk lari?”

“Percayalah, pemikiran untuk lari itu jauh dari benak saya! Tetapi, saya hanya menjelaskan titik-titik kelemahan saya, agar Anda bisa berhati-hati!” jawab Sang Gadis dengan tawa indah di mulutnya.

Sang Pendeta termenung sejenak, memikirkan ucapan Sang Gadis. Kemudian ia berteriak seperti orang yang telah menemukan jalan keluar.

“Dengarlah, Nona! Saya menemukan cara yang tepat untuk Anda.”

“Apakah itu?”

“Bagaimana jika saya saja yang berdiri dalam posisi sebagai orang yang diuji?”

“Anda? Saya menguji Anda?” kata Sang Gadis sambil tertawa terbahak-bahak hingga air matanya hampir meleleh.

“Mengapa tidak?”

Sang Pendeta lalu mengambil sebuah buku yang tergeletak dekat tangannya. “Anda akan membaca buku ini,” kata Pendeta Pemikiran kepada Sang Gadis.

“Pada kunjungan rutin, minggu depan, Anda akan mengajukan pertanyaan apa saja kepada saya, dan saya tak akan mengajukan satu pertanyaan pun kepada Anda.”

Sang Gadis memandang Sang Pendeta dengan tatapan seperti orang yang mengatakan, “Dasar akal bulus!”

Namun Sang Gadis tak mampu berbuat apa-apa, selain menurut. Ia lalu mengambil buku itu dari tangan Sang Pendeta dan menimbang-nimbangnya sejenak dengan tangan kanannya.

“Saya harus membaca semua ini dalam seminggu?” tanyanya.

“Bacalah sebagiannya! Baca sepuluh atau lima lembar. Saya tak meminta Anda membaca seluruh buku itu.” jawab Sang Pendeta, “Saya sendiri jarang membaca buku hingga seluruhnya.”

“Aneh! Lantas bagaimana Anda bisa mengetahui isi bukunya?” tanya Sang Gadis dengan tatapan heran.

“Bagi saya, tidak selalu penting mengetahui apa yang tertulis di dalam sebuah buku!” jawab Sang Pendeta sambil tersenyum.

“Orang seperti saya adalah seperti juru masak yang memasuki dapur orang lain. Ia tak perlu menghabiskan seluruh makanan setiap saat, hanya untuk mengetahui kualitas makanan. Ia cukup mengambil satu-dua sendok dari setiap hidangan dan langsung akan tahu bagaimana membuat warna makanannya, apa saja yang digunakan dalam penyajian dan bahan apa yang diraciknya.”

“Tetapi saya.” kata Sang Gadis.

“Iya, Anda juga. Saya cukupkan dengan porsi itu,” kata Sang Pendeta memahami maksud ucapan Sang Gadis,

“Pertanyaan-pertanyaan yang akan Anda ajukan dari lembar-lembar buku itu kepada saya, akan menunjukkan seberapa jauh Anda menyelami dunia makna. Jumlah halaman yang Anda baca tak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini, kecuali dari sisi enak atau tak enaknya tulisan yang Anda baca.”

Sang Gadis diam sejenak. Lalu menurunkan pandangannya dan membuka buku di tangannya. Ia membalik-balik halaman buku sambil merenung. Sambil membaca judulnya, ia kemudian bertanya dengan lugu, tanpa dibuat-buat.

“Thaïs. Siapakah Thaïs? Biar minggu depan saya bisa datang dengan kepala tegak!”

“Anda akan tahu ketika telah membacanya!” jawab Sang Pendeta dengan senyum penuh teka-teki.

* * *

Iya. Buku yang ada di tangan gadis itu adalah bukunya Anatole France. Apa sebenarnya yang membuat Pendeta Pemikiran melakukan hal ini? Apakah karena saat itu, buku tersebut yang dekat dengan jangkauan tangannya? Atau, karena ia memiliki maksud tertentu yang direncanakan? Pada kenyataannya adalah kedua-duanya!

Buku tersebut telah selesai dibacanya kemarin. Sang Pendeta tak membaca buku itu lagi, kecuali demi Sang Gadis ini, dan ia menginginkan Sang Gadis juga membacanya. Di dalam buku tersebut terdapat banyak sikap dan pendirian yang harus diketahui, dan seberapa jauh pemahaman Sang Gadis terhadap sikap-sikap dan pendirian itu? Lagi pula, siapa tahu. barangkali pemilihan buku tersebut memang sejak semula merupakan penyamaan kondisi oleh Sang Pendeta. Melalui buku tersebut, barangkali dengan akal atau perasaannya, Sang Gadis bisa menemukan kesucian dari kecantikan yang luhur itu. Kecantikan yang diperoleh Thaïs dengan cara membuang segala gemerlap dunia, kemewahan dan kesenangannya.

Itulah, di antaranya, yang diinginkan Pendeta Pemikiran dari Sang Gadis. Ia ingin memenuhi hati Sang Gadis dengan cahaya baru yang bersumber dari langit, bukan dari bumi. Ia ingin agar Sang Gadis mengimani kecantikan-kecantikan maknawi yang saat ini tak diketahui dan tak dijangkaunya dengan tulus. Semua itu, obatnya bisa ditemukan dengan membaca Thaïs.

Namun Pendeta Pemikiran juga merasa takut kalau kecerdasan Sang Gadis mampu menyingkap tabir kepribadian Pendeta Paphnus. Ia takut kalau mata Sang Gadis bisa menatap dengan jeli pada kedalaman perasaan Pendeta Paphnus, sehingga malah akan melihat sesuatu yang saat ini tak ingin ditampakkan oleh Pendeta Pemikiran. Kenapa? Sampai di sini, jiwa Sang Pendeta kembali bergetar. Tidak! Jauh sekali untuk membandingkannya. Dan, sudah seharusnya selalu jauh!

Jika gadis ini merasakan adanya kesamaan antara dirinya dengan Pendeta Paphnus, maka saat itu segala sesuatu telah berakhir di antara mereka berdua. Sejak saat itu ia tak akan ragu-ragu lagi memintanya pergi tanpa kembali!

* * *

Sang Gadis bangkit dengan membawa buku itu. Ia mengenakan kembali sarung tangannya, lalu mengulurkan tangan. Berpamitan.

“Saya berharap tak ada sesuatu yang akan menggangguku dari membaca buku ini. Sehingga minggu depan saya bisa kembali menemui Anda dengan kepala tegak!”

Sang Gadis tersenyum. Tetapi masih ada sesuatu di dalam benak Sang Pendeta yang mengganggu. Ia pun mengulurkan tangannya, bukan untuk menerima salaman Sang Gadis, melainkan untuk mengambil kembali bukunya.

“Saya takut telah salah memilih buku. Kembalikan buku ini dan ambillah buku yang lain.” kata Sang Pendeta.

Nada kekuatiran dan perasaan tak enak tampak kentara dalam getar suara Sang Pendeta.

Dengan tatapan matanya yang berkilau, Sang Gadis melihat semua itu pada rona wajah Sang Pendeta. Tetapi, dengan mantap ia menjawab.

“Tidak. saya ingin mengetahui siapa itu, Thaïs!”

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s