4 – APAKAH SUDAH ANDA BACA?

-4-
Apakah Sudah Anda Baca?

Seminggu kemudian Sang Gadis kembali lagi. Ia meletakkan buku itu di hadapan Sang Pendeta, lalu menarik nafas dalam-dalam seakan-akan habis menurunkan beban berat.

Sambil menatapnya was-was, Pendeta Pemikiran mendahuluinya bertanya.

“Apakah Anda sudah membacanya?”

“Beberapa halaman dan dada saya terasa sesak,” jawab Sang Gadis sambil menjauhkan pandangannya.

Pendeta Pemikiran ikut menarik nafas dalam-dalam. Tenang. Berarti Sang Gadis belum tahu apa-apa tentang isi buku tersebut. Tetapi perasaan nyaman itu tak berlangsung lama. Keadaannya segera berubah. Ia merasa menyesal, marah dan kecewa atas apa yang telah terjadi. Ia menatap Sang Gadis dan berbicara kepadanya dengan suara berat.

“Berarti Anda gagal dalam percobaan ini!”

“Bukan salah saya!” jawab Sang Gadis sambil menghias bibirnya dengan gincu merah.

Jawabannya tak memuaskan Sang Pendeta. Begitu pula, banyak perilaku Sang Gadis yang tak disukainya. Ia hendak mencacinya, memintanya berhenti berdandan dan berulah di depannya. Ia menginginkannya sedikit memberi rasa hormat pada pemikiran. Tetapi Pendeta Pemikiran segera teringat bahwa dirinya tak memiliki hak-hak tersebut. Lagi pula, sebenarnya, kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri karena terlalu banyak mengharap dari gadis seperti ini. Ia juga telah salah karena memberikan buku kepada orang yang tak bisa menghargai nilai buku itu.

Sang Gadis telah selesai dengan kepura-puraannya. Ia lalu memandang ke arah Sang Pendeta dan membaca semua perasaan itu pada muka Pendeta Pemikiran. Ia lalu tersenyum.

“Apakah Anda marah?” katanya. “Bukankah Anda mengatakan, saya cukup membaca beberapa lembar saja? Ini, saya telah membacanya!”

Iya, benar. Pendeta Pemikiran telah mengatakan hal itu kepadanya. Lalu apa yang membuatnya marah? Tak diragukan, pasti ada hal lain di dalam dirinya yang tak diketahuinya, yang memancarkan perasaan-perasaan yang saling berlawanan ini.

Sang Pendeta memandang Sang Gadis. Ketenangannya telah kembali. “Iya!” katanya.

Pendeta Pemikiran kemudian berpikir sejenak. Sambil mempermainkan halaman-halaman buku ia menanyai Sang Gadis. “Lantas apa yang menghalangi Anda untuk melanjutkan membaca?”

“Bosan!” jawab Sang Gadis sambil menunduk.

“Ini bukan buku yang membosankan. Demi Allah, buku ini telah membangunkanku di tengah malam untuk membaca setiap barisnya. Rasa kantuk tak mampu memaksaku tidur ketika buku ini berasamaku!!”

“Pantas. Anda menyukai perilaku para pendeta dan para pertapa yang mengasingkan diri!” komentar Sang Gadis dengan senyum misterius.

“Sementara saya, apa yang menarik bagi saya untuk meneruskan membaca lembaran-lembaran buku yang seluruhnya menceritakan pertapa gurun yang hidup di tengah-tengah debu bersama kalajengking dan ular, yang menghabiskan masa muda dan seluruh umurnya bersama fantasi malaikat dan bayangan dedemit?!”

Sekonyong-konyong, Sang Gadis memandang ke sekeliling. Tatapan matanya meneliti setiap sudut ruangan itu. Pandangannya segera beralih melihat buku-buku kuno yang bertumpuk, seolah-olah pekuburan yang berisi bermacam-macam pikiran tanpa tengkorak. Ruh-ruh tanpa jasad. Lalu pandangannya tertuju pada jendela yang tertutup, yang menghalangi udara dan sinar surya, seperti mulut sumur atau lobang di biara. Ia juga memandangi lampu hijau yang dengan sayap-sayap cahayanya telah menerangi saat-saat gelap Sang Pendeta, seperti malaikat yang lembut dan buas pada saat yang bersamaan. Lampu itu telah meramaikan malam-malam indah Sang Pendeta, malam demi malam, seakan-akan hantu atau dedemit yang menakutkan!

Setelah menatap berkeliling ke seluruh penjuru ruangan, pandangan Sang Gadis kembali menatap wajah Sang Pendeta. Pendeta Pemikiran merasa sinar mata Sang Gadis menembus jiwanya. Sang pendeta pun menunduk.

Diam menyelimuti suasana ruangan.

“Saya mulai ragu.” kata Sang Gadis memecah kesunyian. Ia mengatakannya dengan pelan, seakan-akan sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Pendeta Pemikiran mengangkat kepalanya. Gemetar menjalari tubuhnya. Ia ingin minta penjelasan maksud ucapan Sang Gadis, tetapi gadis itu telah lebih dulu mengatakan.

“Apakah Anda ingat saat pertama kali saya datang, dan melihat cahaya matahari tak memasuki ruangan ini?” tanya Sang Gadis.

“Iya, ingat!” jawab Sang Pendeta seperti orang yang tak memahami maksudnya.

“Apakah Anda ingat, apa yang Anda katakan saat itu kepada saya?” lanjut Sang Gadis.

“Tidak. saya tak ingat!”

“Jawaban Anda ketika itu adalah: kami selalu merasa cukup dengan cahaya yang bersinar di dalam jiwa kami!” jelas Sang Gadis segera.

“Itu benar!” jawab Sang Pendeta seperti orang yang mengimani sebuah aksioma atau firman dari langit.

“Itu tidak benar!” sanggah Sang Gadis segera.
Pendeta Pemikiran terbelalak kaget. Sang gadis melihat bola matanya melebar.

“Apakah perkataan saya mengagetkan Anda?” tanya Sang Gadis dengan tersenyum. “Saya kira Anda juga akan kaget jika saya mengatakan hal yang lain!”

“Apa yang ingin Anda katakan?”

“Suatu hal yang tak pernah terbersit di dalam benak Anda!”

“Kalau begitu katakanlah segera!”

“Saya mengharap Anda berkenan datang, menyaksikan saya di lapangan tenis besok pagi!” kata Sang Gadis perlahan.

Pendeta Pemikiran memandangi Sang Gadis, lama. Ia ingin melihat keseriusan lelucon ini. Sementara Sang Gadis memandangnya dengan cemas, ingin melihat batas kearifan dan kemarahannya. Pendeta Pemikiran lalu memikirkan ucapan Sang Gadis: apa yang akan dikatakannya kepada gadis ini?! Tetapi, bagaimana pun juga, dirinya tak pantas menyikapinya dengan emosional. Hendaknya ia menyikapi masalah ini dengan lembut dan baik.

“Nona, apa yang Anda maksudkan?”

“Apakah perkataan saya diselimuti kegelapan sehingga memerlukan banyak cahaya?” jawab Sang Gadis balik bertanya. Pandangan matanya melebar.

“Iya, sangat gelap!”

“Anda mengatakan begitu! Padahal Anda biasa hidup dengan segala sesuatu yang diselubungi kegelapan!” timpal Sang Gadis dengan tatapan misterius.

Gadis cantik ini telah menikam Sang Pedeta. Namun dengan tangannya, Sang Gadis segera menunjuk ke sebuah tempat.

“Tentu saja saya tak memaksudkan hal lain, selain ini!”

Pendeta Pemikiran tak menemukan kata-kata untuk menjawab. Ia diam saja tanpa bergerak. Ia memandang ke arah Sang Gadis dan bertanya kepada diri sendiri, apakah menurutmu gadis ini sedang mengatakan ucapannya begitu saja, tanpa tendensi?! Ataukah, ia mengucapkan semua itu dengan menyembunyikan maksud lain, selain makna yang eksplisit?

Jika yang terakhir yang dilakukan Sang Gadis, betapa sangat mengherankan! Sang Pendeta harus terlebih dahulu menemukan maksud yang dibidik olehnya, lalu menemukan makna simbolisnya secara kebahasaan.

Namun Pendeta Pemikiran merasa lebih baik berlaku hati-hati. Belum ada indikasi yang bisa dijadikan titik kecurigaan. Pun, sudah selayaknya ia selalu berburuk sangka kepada dugaan-dugaannya sendiri.

Ini bukan pertama kalinya hal-hal bercampur baur di dalam kepalanya. Imajinasinya dari dulu telah terbiasa menciptakan bayang-bayang dari dunia nyata. Benaknya sering dipenuhi makhluk-makhluk yang sebagian hidup di alam nyata dan sebagian lagi hidup di lembaran buku-buku. Sementara dirinya berenang, menyelami dunia-dunia itu.

Dirinyalah yang mendirikan negeri-negeri di antara lipatan-lipatan kertas buku. Dirinyalah yang menjalankan negeri-negeri itu secara bergiliran. Ia yang menerbitkan dan menenggelamkan matahari-mataharinya. Jiwanya yang terkucil mengapung mengelilingi cakrawala berkabut, jauh dari orbit bumi itu sendiri.

Semua itu terkadang, malah melenyapkan kenyataan-kenyataan hidup yang ada. Semua itu terkadang, malah menempatkan dirinya seperti orang yang melihat dunia melalui bola kristal di tangan tukang sihir, sambil mengolok-olok dunia dari atas asap dupa dan kabut ilusi!

Tetapi, dalam kondisinya saat ini, yang menjadi tukang sihir itu adalah dirinya sendiri! Iya, dirinyalah yang telah menciptakan bola kristal itu dengan tangannya. Dirinyalah, yang dengan bahan-bahan yang terdapat di dalam kepalanya, telah menciptakan dunia lain yang menyerupai dunia pertama, dunia asli. Dirinyalah yang telah meletakkan dua bola dunia tersebut di dalam satu telapak tangan. Lalu, tiba-tiba ia memainkan atraksi menjinakkan ular pada dua bola dunia itu, hingga menjadi kabur, samar dan tak bisa lagi membedakan mana yang imajinasi dan mana yang nyata! Iya, itulah bencana besar yang menimpanya, dan itulah kutukan yang menimpa setiap penyihir!

* * *

Lama Sang Pendeta hanyut dalam perenungannya, nyaris lupa keberadaan Sang Gadis. Tiba-tiba suara lembut Sang Gadis mengingatkannya dan membawanya ke alam sadar.

“Saya belum mendapatkan jawaban Anda. Apakah Anda akan datang menyaksikan saya besok?”

“Untuk menyaksikan Anda, besok?!”

“Di lapangan tenis, seperti yang saya katakan!”

“Masya-Allah! Masya-Allah!”

“Itu bukan jawaban,” kata Sang Gadis sambil tersenyum.

“Saya ucapkan selamat untuk Anda dan untuk saya atas keberhasilan yang gemilang ini! Bukan saja saya tak berhasil memasukkan Anda ke dunia pemikiran, tetapi malah Anda akan mengeluarkan saya menuju dunia permainan!!” kata Sang Pendeta dengan nada jengkel.

Pendeta Pemikiran takut kalau Sang Gadis akan menertawakannya. Namun, iya. Sang Gadis tertawa. Ia tertawa riang dan gembira dengan mulutnya yang indah. Ia terus tertawa, bahkan hampir membuat Sang Pendeta ikut tertawa.

Tetapi Sang Pendeta takut kalau kewibawaan posisi dan kebiasaannya yang serius akan pudar. Ia juga takut kalau ketingggian hubungan antara keduanya, dan kemuliaan tujuan yang ingin dicapainya menjadi sirna. Maka Sang Pendeta pun segera menguasai diri dan berkata dengan sedikit keras.

“Katakan, bagaimana bisa muncul gagasan seperti ini pada benak Anda? Apa yang mendorong Anda meminta hal semacam ini pada hari ini? Bagaimana Anda menyiapkan diri berbicara hal semacam ini kepada diriku? Dan kenapa?!”

“Alasannya sederhana,” potong Sang Gadis.

Sang Gadis lalu diam, seperti sedang berpikir.

“Apakah alasan yang sederhana itu?” buru Sang Pendeta.

Sang gadis mengangkat kepalanya lalu berkata. “Lembaran-lembaran yang telah saya baca dari buku Thaïs memberi saya pemahaman bahwa Pendeta Paphnus-lah yang pergi menemui gadis cantik itu di arena permainannya, untuk menyelamatkannya. Anda juga perlu melakukan hal itu. Anda harus turun ke lapangan untuk membawa saya naik. Demikianlah yang selalu dilakukan para rasul dan para nabi! Mereka turun menemui orang-orang, agar setelah itu mereka bisa membawa orang-orang tersebut naik ke langit. Dan, sama sekali tak pernah terjadi selain itu. Jangan menunggu saya yang naik menuju Anda, tanpa Anda pernah turun kepada saya dan menggandeng tangan saya!”

Pendeta Pemikiran hampir tak bisa mempercayai telinganya yang mendengar ucapan seperti itu dari mulut Sang Gadis. Ia sangsi. Ia merasa itu adalah suara nuraninya yang telah mengatakan dan menuangkan ke dalam telinganya. Tetapi mulut Sang Gadis bergerak-gerak dan suaranya yang jernih, jelas keluar seakan-akan memancar dari mata air!

Sungguh ucapan Sang Gadis telah membuatnya kaget. Ia merasa heran bahwa kedua bibir yang tak tahu apa-apa, selain sentuhan gincu merah itu, bisa mengeluarkan kata-kata yang mendalam seperti ini. Iya, para rasul dan para nabi perlu meninggalkan langit mereka, dan turun ke tanah untuk membawa manusia naik!

Di sinilah kekuatan para nabi dan para rasul. Di sinilah pengalaman keras dan ujian berat harus mereka lewati. Seorang rasul harus turun, berada di antara manusia dan berjalan di lorong-lorong mereka, seperti sinar matahari yang turun menerpa cacing-cacing tanah dan serangga-serangga debu, lalu keluar dari sana tetap berupa sinar jernih tanpa setitik noda pun yang menempel! Di atas itu semua, matahari mampu menembus perut dan dada semua makhluk, memenuhi mereka dengan kekuatan dan kesehatan. Lalu, setelah menyirami seluruh eksistensi dengan cahaya dan kesuciannya, ia akan kembali naik dalam keadaan suci sebagaimana telah turun dalam keadaan suci!

Itulah nabi yang sesungguhnya, lembut seperti sinar, ringan seperti udara. Ia berasal dari materi langit. Ia selalu berhubungan dengan langit meski bagaimana pun ia meninggalkannya. Adapun yang turun, lalu mengendap dan tak mampu kembali ke atas adalah seorang rasul gadungan. Sungguh bumi sangat pandai menipu. Keindahannya sangat menyilaukan dan senyumnya sangat menggoda. Terkadang bumi itu melawan mereka yang turun, yang ingin menyelamatkan manusia dari rangkulannya. Bumi senang menjerumuskan mereka ke dalam jeratnya, lalu menggulung mereka di dalam lumpurnya. Kemudian ia akan menertawakan sayap-sayap putih mereka yang belepotan debu, menertawakan baju suci mereka yang telah terkotori lumpur dari tanah liat!

Pendeta Pemikiran kembali teringat kepada Pendeta Paphnus. Ia membayangkan bencana dan tragedinya, juga kejatuhannya di akhir babak, karena kerinduannya kepada Thaïs. Kerinduan yang terlarang dan berdosa itu. Sementara Thaïs malah naik mencapai puncak kesucian jiwa dan menempati derajat orang-orang suci.

Paphnus adalah seorang beriman yang menyimpang.

Hari itu Pendeta Pemikiran membiarkan Sang Gadis pergi tanpa mempedulikan permintaannya. Ia telah mengatakan bahwa dirinya tak akan pernah meninggalkan tempat dan buku-bukunya, demi apa pun. Meskipun hal itu memiliki alasan kuat. Karena, bagaimana pun juga, ia tak bisa keluar bersama seorang gadis, atau pergi untuk menyaksikan seorang gadis bermain tenis. Seluruh hubungannya dengan Sang Gadis tak lebih—dan tak sepantasnya melebihi—dari tujuan mulia yang telah membuat Sang Gadis itu datang kepadanya: yaitu berbicara mengenai masalah pemikiran!

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s