5 – SANG SUAMI

-5-
Sang Suami

Baru dua hari berlalu dari kunjungan terakhir Sang Gadis. Namun ada yang mengetuk pintu Pendeta Pemikiran! Hari ini bukan harinya, lalu siapakah yang mengetuk? Sang Pendeta mengizinkannya masuk. Tiba-tiba, ia telah berhadapan dengan seorang lelaki berusia matang dan berpenampilan menarik. Bajunya rapi, mukanya cerah, pembawaannya lembut, dan segala sesuatu yang ada padanya mengundang seseorang untuk menghormatinya, menyukainya dan nyaman bersamanya. Pendeta Pemikiran menyambutnya dan mempersilakannya duduk. Lelaki itu pun duduk.

“Anda tidak mengenal saya, tetapi saya mengenal Anda sejak lama, dari buku-buku Anda.” kata lelaki itu. “Sampai sekarang saya tidak tahu apa yang membuat saya datang dan duduk di tempat Anda ini! Akan lebih jujur kalau saya katakan, semua ini bermula dari dorongan orang lain.”

Sang tuan rumah memandangnya dengan tanda tanya.

“Karena isteri saya!” lanjut Sang Tamu.

Sang Sastrawan segera bisa menebak, tetapi ia memilih menahan diri.

“Apakah saya juga mendapat kehormatan bahwa isteri Anda termasuk pembaca tulisan-tulisan saya?” tanyanya.

“Ia adalah pembaca tulisan Anda yang paling bersemangat!” jawab Sang Tamu.

“Bagaimanakah itu?” tanya Sang Pemikir tampak keheranan.

“Hal ini ceritanya panjang, tetapi untuk saat ini cukup saya katakan: isteri saya yang dulunya tak menyukai buku, sejak beberapa minggu ini, mulai membaca dengan semangat yang mengherankan! Ia telah membaca buku Thaïs dalam tiga malam!”

Sang Sastrawan berusaha menguasai diri agar keterkejutan tak tampak pada wajahnya. Berarti Sang Gadis telah berbohong kepadanya ketika mengembalikan buku dan mengatakan: dirinya hanya membaca beberapa lembar! Sebagaimana ia juga telah berdusta ketika mengaku dirinya masih bertunangan. Mengapa ia melakukan hal itu? Sang Pendeta tak melanjutkan lamunannya karena Sang Tamu kembali berkata.

“Sekarang ia sedang membaca seluruh buku Anda, dan hampir selesai. Ia mendiskusikan isi buku-buku itu dengan saya, bahkan terkadang saya kesulitan melayaninya. Ia juga menanyakan pertanyaan-pertanyaan tentang diri Anda yang tak bisa saya jawab. Yang lebih teruk lagi, ketika saya memberitahukan bahwa saya sama sekali belum pernah melihat Anda. Ia menertawakan saya, lalu marah dan tak mau tersenyum sampai saya berjanji akan melihat dan mengunjungi Anda serta menjalin hubungan di antara kita!”

“Saya gembira mengenal Anda,” kata Pendeta Pemikiran kepada Sang Suami,

“Saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan kepada Anda.”

“Apakah nyonya, isteri Anda pernah melihat saya?”

“Saya kira belum pernah!” jawab Sang Suami segera.

Pendeta Pemikiran semakin heran! Berarti gadis itu tidak memberitahu suaminya tentang kunjungan-kunjungannya kemari. Perilakunya sungguh aneh! Sang pendeta menyembunyikan semua hal ini di dalam dirinya. Ia lalu menoleh kepada Sang Tamu.

“Lantas, apa rahasia yang membuat isteri Anda akhirnya mau membaca setelah sekian lama menolaknya?” tanyanya.

“Saya tidak tahu, dan inilah yang membingungkan saya!” jawab Sang Suami.

“Iya, ini juga yang membuat saya bingung!” kata Sang Sastrawan sambil menunduk, berpikir seakan-akan tengah berbicara kepada diri sendiri.

“Anda juga?” tanya lelaki itu dengan tatapan menyelidik ke arah Sang Sastrawan.

“Iya, seseorang tak bisa langsung menyukai buku dalam sehari semalam!”

“Isteri saya memiliki kecerdasan dan tekad yang luar biasa!”

“Hal itu tidak cukup untuk menjelaskan masalah ini.”

Ketika itu terbersit sebuah pertanyaan dalam benak Sang Sastrawan. Ia pun segera menanyakannya kepada Sang Suami.

“Pernahkah Anda melihatnya membaca buku-buku lain, selain Thaïs dan buku-buku saya?”

“Tidak. Ia tidak membaca, selain buku-buku tersebut. Ia juga tak berbicara kepada saya, selain mengenai buku-buku tersebut!” jawab Sang Suami segera.

Di sini Sang Pendeta mengetahui—atau merasa dirinya tahu—alasan sebenarnya. Gadis itu, atau nyonya itu, ingin menutupi sesuatu dan pada saat yang sama ingin menyingkap sesuatu. Aahh, perempuan! Kita perlu membangkitkan rasa ingin tahunya dan membangunkan rasa ingin menyingkapnya, agar bisa membuatnya melakukan keajaiban!

Sekarang Sang Pendeta merasa telah tahu segala sesuatunya. Ia telah berhasil—maaf, dengan tanpa sengaja—meletakkan langkah pertamanya dengan gemilang dan dengan kecepatan yang tak pernah dibayangkan. Ia telah mendapatkan hasil yang menggembirakan.

Seharusnya sejak awal ia mengetahui bahwa cara paling tepat untuk membuat orang senang membaca adalah membangkitkan rasa ingin tahunya. Jika kita mau seorang anak rajin membaca surat, kita bisa memberitahu kepadanya bahwa di dalam surat terdapat pembicaraan mengenai berbagai macam hadiah dan permainan yang akan diberikan kepadanya; terdapat banyak cerita yang akan membuatnya gembira. Adapun membaca yang semata-mata untuk mendapatkan kepuasan pemikiran yang tinggi dan untuk menikmati keindahan maknawi, hal itu sangat sulit dilakukan. Hal itu memerlukan banyak waktu dan latihan sehingga bisa cakap dan mahir.

Namun ada satu hal yang masih terselubungi kegelapan: apakah keingintahuan yang telah mendorong Sang Gadis sehingga membaca Thaïs seluruhnya dalam tiga malam? Juga, keingintahuan macam apa yang telah mendorongnya membaca buku-buku tulisannya dengan penuh semangat dan antusias itu? Setelah membaca semuanya, apakah ia ingin menyibak hakikat kepribadian penulisnya melalui buku-buku karyanya?! Jika ini tujuannya, lalu apa motif yang melatarbelakanginya? Apakah ia tengah mengamati sesuatu? Tidak, tidak! Ia terlalu jauh mengasumsikan keinginan perempuan ini. Ia terlalu tinggi menilai kecerdasan yang tak mungkin didapatkan oleh otak perempuan!

* * *

“Sudah sepantasnya dalam kedatangan saya saat ini, saya menyampaikan: bahwa maksud kunjungan saya juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan mengungkapkan rasa kekaguman saya.” kata Sang Suami menghentikan lamunan Pendeta Pemikiran. “Karena kalau bukan berkat buku-buku Anda.”

“Buku-buku saya tak bisa membuat apa-apa!” potong Pendeta Pemikiran segera sambil mengangkat kepalanya yang tertunduk. “Tak diragukan, isteri Anda memiliki kepribadian yang luhur, perasaan yang lembut dan jiwa yang mulia!”

“Iya, tetapi kepribadian yang luhur dan mulia itu tidak saya ketahui. Hal itu tidak tampak oleh mata dan perasaan saya, kecuali akhir-akhir ini. Kecuali setelah ia membaca buku-buku Anda.” kata Sang Suami dengan nada suara yang hangat. “Dia itu, Pak, telah berubah menjadi makhluk lain hanya dalam beberapa minggu. Betapa sering saya mengharap bisa melihat isteri saya dalam bentuk yang lain, yang lebih tinggi dan lebih luhur ketimbang hanya melihat bentuknya yang remeh selama ini. Bentuk seorang gadis gegabah yang hanya mengenal jahitan, sinema, pacuan kuda, tenis, mobil, penata rambut dan toilet!”

“Itulah isteriku. Gadis bodoh yang mendapatkan pendidikan keliru. Ucapannya tak pernah lebih dari beberapa kalimat Perancis yang akan dikatakannya dengan buruk ketika keadaan memaksa! Itulah gadis malang yang silau kepada dirinya sendiri. Ia mengira dirinya orang yang berperadaban karena mengerti bagaimana memegang gincu dengan jari-jarinya. Itulah gadis yang tahu bahwa dirinya memiliki mulut yang harus dipenuhi, tetapi tidak tahu bahwa dirinya memiliki kepala yang juga harus dipenuhi kalau ingin dihormati.”

“Saya nyaris putus asa, Pak, dengan perempuan-peremuan di negeri kita ini! Betapa sering saya mengatakan kepada isteri saya: mungkin dirinya bisa mendapatkan diriku dengan kelembutannya, tetapi ia tak akan pernah mendapatkan respek yang seharusnya, kecuali jika otaknya bisa mengetahui bagaimana berbicara dengan otak saya. Dan ia tak akan bisa mencapai hal itu, kecuali mau membaca apa yang saya baca dan mengecap dunia pemikiran seperti yang telah saya cicipi. Sehingga dengan hal itu ia akan bisa menutupi lobang panjang dalam kehidupan kami. Dengan hal itu, ia baru akan bisa menutupi lobang tersebut dengan perkataannya yang manis penuh aneka hidangan pemikiran yang tercerna!”

Sang Suami terus berkata dengan ucapan seperti ungkapan-ungkapan di atas. Sementara Sang Pemikir tampak seperti mendengarkannya, padahal sejatinya ia tengah memikirkan masalah lain yang baru muncul sesaat yang lalu di dalam benaknya: lelaki ini tidak mengetahui bahwa sebelum hari ini, isterinya telah berkali-kali mengunjungi tempat ini. Sang Isteri itu tidak memberitahunya, dan itu urusannya. Tetapi dirinya! Dirinya seorang pendeta pemikiran! Bolehkah dirinya tetap diam dan tidak memberitahukan kepada Sang Suami apa yang telah terjadi? Pantaskah bagi orang seperti dirinya menyembunyikan sesuatu? Tapi, di sisi lain, Sang Pendeta merasa kuatir kalau dirinya memberi tahu Sang Suami, berarti dirinya melakukan sebuah kebodohan. Berarti dirinya menghadapkan Sang Isteri pada kemarahan Sang Suami. Berarti dirinya menempatkan Sang Isteri pada posisi sulit karena telah menyembunyikan hal ini! Apa yang akan dilakukannya? Apakah perlu menunggu sampai membicarakan masalah ini bersama Sang Isteri?!

Akan tetapi, bagaimana kalau Sang Isteri hari ini lebih dahulu bercerita kepada Sang Suami tentang apa yang telah terjadi antara dirinya dengan diriku?! Sementara Sang Suami tahu, diriku pada hari ini tak membuka pembicaraan apa pun mengenai hal tersebut, padahal keadaan memungkinkan dan kesempatannya tepat!! Lalu akan jadi seperti apakah posisi diriku saat itu?!

“Aahh! Kenapa perempuan itu melakukan hal ini?! Sialan, perempuan! Ya, Tuhan! Beri saya jalan keluar!” teriak Sang Pendeta di dalam hatinya.

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s