6 – PEMUTUSAN

-6-
Pemutusan

Sang Suami telah pergi dengan tanpa keberanian Pendeta Pemikiran memberikan keterangan tentang Sang Isteri. Hari-hari berlalu dan saat pertemuan tiba. Sang Isteri pun datang. Pendeta Pemikiran menyambutnya dengan muka masam. Sang Isteri telah mengetahui alasannya.

“Iya! Saya telah berdusta banyak kepada Anda!” katanya sambil tersenyum.

“Saat ini tak penting dusta Anda kepada saya,” kata Sang Pendeta dengan nada yang kering, “Tetapi yang penting adalah situasi yang telah Anda letakkan pada diri saya.”

“Situasi apa?” tanya Sang Isteri sambil mengerutkan kening.

“Kenapa Anda juga berdusta kepada suami Anda?” tanya Sang Pendeta.

“Kenapa Anda menyembunyikan kunjungan-kunjungan ini darinya?”

Sang Isteri tertawa seperti anak manja yang berbuat semaunya, tanpa merasa bersalah.

“Saya tak tahu, saya lupa mengatakannya kepada Anda bahwa saya, selain suka tenis, sinema dan pacuan, saya terkadang juga suka berbohong!”

Pendeta Pemikiran terbelalak kaget. “Subhanallah! Apakah itu juga telah menjadi bagian dari sport?!”

“Iya. Sebagaimana Anda lihat, tugas Anda cukup berat untuk bisa menunjukkan saya!” jawabnya sambil tersenyum.

Pendeta Pemikiran diam, tanpa senyum. Mukanya tak menunjukkan kalau dirinya sedang senang. Bayang-bayang kegelisahan yang suram belum meninggalkan wajahnya. Ia tak bisa membenarkan situasi tak menyenangkan ini di depan nuraninya. Sambil menunduk, seperti berbicara kepada diri sendiri ia berkata.

“Dan selanjutnya bagaimana?!”

“Aahh, betapa dahsyatnya malapetaka ini! Tak diragukan, kebohongan-kebohongan itu pasti merupakan kejahatan yang tak termaafkan!” kata Sang Isteri berolok-olok.

“Anda berolok-olok pula?!”

“Saya minta maaf. Saya lihat Anda mencemaskan sesuatu yang tak perlu dicemaskan! Saya kira Anda seperti saya, tak pernah menganggap apa pun di dalam hidup ini yang perlu membuat frustrasi!”

“Selamat untuk Anda yang bisa melihat kehidupan ini dari raket tenis!”

“Saya melihat kebohongan-kebohongan itu sebagai sesuatu yang lucu, sebuah permainan yang menyenangkan!” katanya sambil tersenyum.

“Sayangnya, saya tak memiliki hak untuk melihatnya seperti itu. Bahkan saya melihatnya sebagai sebuah kenyataan yang terjadi. Sebuah tugas pasti dan beban berat yang harus saya pikul di atas dua pundak ini, hingga terasa sulit bernafas!” kata Sang Pendeta seperti menyeru diri sendiri.

“Iya, hidup Anda adalah batu yang diletakkan di atas punggung Anda. Anda disuruh membawanya sampai akhir perjalanan! Akan tetapi, kenapa Anda melihatnya seperti itu?!” kata Sang Isteri sambil memandangi buku-buku Sang Pendeta, kertas-kertasnya, dan meja kantornya yang tenggelam dalam kegelapan ruangan.

Sambil berpikir, Pendeta Pemikiran menjawabnya. “Saya tidak tahu. Anda sendiri yang telah mengatakannya. Saya disuruh berjalan seperti ini. Apakah saya punya kebebasan untuk melihat?! Anda telah diciptakan untuk menjalani hidup Anda, dan saya telah diciptakan untuk menjalani kehidupan pemikiran. Saya tidak melihat matahari dan udara, tetapi saya melihat pemikiran yang menggerakkan keberadaan, sebagaimana tangan menggerakkan sarung tangan!”

“Demikianlah takdir menghendaki kita. Anda tak lain hanyalah sebuah bola tenis yang dilempar ke angkasa. Anda bebas sebebas bola itu. Sementara saya adalah raket di tangan takdir yang digunakan sebagaimana tujuan raket itu, tergenggam di telapak tangannya. Takdir tak akan pernah melepaskan diriku sampai permainan usai!”

“Itu benar, tetapi” kata Sang Isteri perlahan, seakan-akan sambil merenungkan kata-kata Sang Pendeta.

Pendeta Pemikiran kembali merenungkan dirinya. Ia teringat sesuatu yang sebelumnya sempat mengganggu hatinya. Ia pun lalu berkata.

“Tetapi Anda, beritahukanlah kepada saya kenapa Anda bersembunyi dari suami Anda? Dan sampai kapan Anda berniat melakukan hal ini padanya?”

Bibir Sang Isteri kembali tersenyum. “Sebaiknya saya menenangkan hati Anda yang tersiksa itu. Saya beritahukan kepada Anda, masalah kunjungan saya harus tetap menjadi rahasia di antara kita. Saya dan Anda saja!” katanya.

“Apakah Anda kira hatiku menjadi tenang dengan ucapan ini?!” tanya Sang Pendeta kepada Sang Isteri.

“Apakah Anda benar-benar melihat saya telah melakukan kesalahan?” tanya Sang Isteri sambil memandang Sang Pendeta, lama.

“Tak diragukan. Dan Anda ingin saya menemani Anda dalam kesalahan ini!” jawab Sang Pendeta segera.

“Apakah ketika kita menjaga rahasia ini, hal itu merupakan kesalahan?”

“Kita tak perlu menyembunyikan rahasia kepada suami Anda!”

Sang Isteri menunduk sebentar kemudian mengangkat kepalanya.

“Apakah di dalam relung diriku, saya tak memiliki hak untuk menjaga sesuatu yang tak seorang pun boleh mengetahuinya?” kata Sang Isteri seperti berkata kepada diri sendiri. “Saya merasakan sesuatu, yang saya tak tahu seberapa jauh Anda memahaminya! Hanya kaum perempuan yang bisa memahami. Seorang perempuan harus menyembunyikan sesuatu dari suaminya. Mungkin sesuatu itu sebuah gelang emas yang dibelinya secara sembunyi-sembunyi, mungkin sebuah kenangan masa lalu yang mengesankan, mungkin juga sebuah gagasan luhur atau pemikiran tolol yang diyakininya. Dan ia tak ingin ada orang lain ikut nimbrung di dalamnya! Perasaan saya saat ini adalah sejenis itu.”

“Kunjungan-kunjungan saya kepada Anda, perbincangan saya dengan Anda, pendapat-pendapat yang saya utarakan dan tukar pikiran kita dalam masalah sastra, semua itu sebaiknya diletakkan di dalam sebuah peti perhiasan yang memiliki dua buah anak kunci, satu bersama saya dan satu lagi bersama Anda.”

* * *

Pendeta Pemikiran menunduk lama, tak bisa menjawab! Apa pun permasalahannya, perempuan ini telah meletakkan dirinya pada keadaan sulit. Mungkin dirinya mampu menanggung keadaan ini kalau belum pernah melihat suaminya. Tapi, setelah ia melihat dan mengenal Sang Suami dan ada kemungkinan bertemu lagi, kemudian terjalin hubungan persahabatan, lalu bagaimanakah dirinya akan bisa terus menyembunyikan permasalahan ini darinya?

Tapi di sisi lain, ia juga harus memahami jalan pikiran Sang Isteri, menghargai keinginannya dan membiarkannya berada dalam khayalannya yang indah itu. Keinginan untuk selalu dikelilingi banyak hal.

Berarti tak ada jalan lain, selain diam dan pura-pura tak mengetahui hubungan di antara keduanya! Selama sepasang suami-isteri ini akan mengunjunginya pada waktu-waktu yang berlainan, maka anggap sajalah keduanya merupakan sahabat-sahabat yang berbeda.

Tetapi Sang Isteri menoleh ke arahnya sambil mengatakan. “Ada satu hal yang mungkin Anda perlu berhati-hati”

“Apakah itu?” tanya Sang Pendeta kuatir.

“Suami saya tentu akan mengundang Anda untuk mengunjungi kami atau mengajak Anda menyaksikan permainan tenis, di mana ia akan mengenalkan Anda dengan saya” jawabnya dengan tenang. “Karena itu, Anda perlu berhati-hati jangan sampai kelihatan…”

“Nyonya!” teriak Sang Pendeta seketika. Ia tak mendengarkan perkataan Sang Isteri selanjutnya. Kesabarannya sudah habis. “Saya tak akan mengijinkan lelucon ini berkembang lebih jauh! Anda pasti sedang bercanda dan bersandiwara, sementara saya malah berbaik sangka terhadap perilaku Anda, dan mencarikan anggapan-anggapan mulia untuk membenarkannya!”

Wajah Sang Isteri menjadi merah. “Apa yang telah saya lakukan? Apa yang membuat Anda marah?” tanyanya seperti seorang bocah yang tak menyadari kesalahannya.

“Heran! Apakah Anda tak tahu apa yang membuat saya marah?” tanya Sang Pendeta sambil memandangnya tajam, penuh keheranan.

“Apakah Anda menuduh saya sedang bercanda dan bersandiwara?!” tanya Sang Isteri agak lembut dan manja.

“Lalu dengan apa saya harus menyebut permintaan Anda untuk memerankan adegan romantis saat suami Anda mengenalkan saya dengan Anda itu?” tanya Sang Pendeta. Suaranya mulai lembut kembali. “Apakah menurut Anda, lelaki serius semacam saya ini pantas melakukan hal itu?!”

“Apa yang Anda saksikan di dalam sinema tak selayaknya mempengaruhi Anda dalam memahami kenyataan-kenyataan yang ada, atau merusak penilaian Anda pada permasalahan-permasalahan yang terjadi!”

“Anda, Nyonya, masih terpengaruh dengan dunia yang absurd. Guru-guru Anda yang bodoh itu, sinema, tenis dan pacuan kuda masih mengendalikan langkah-langkah hidup Anda!”

Sang Isteri memandang Sang Pendeta dengan tatapan yang seluruhnya menolak atau menyalahkan. Sang Pendeta merasa bahwa Sang Isteri tengah mempengaruhi dirinya.

“Benarkah begitu pendapat Anda tentang saya?” tanyanya.

“Dengan sangat menyesal, iya!” jawab Sang Pendeta tak terpengaruh.

“Saya kira, Anda akan menganggap kunjungan-kunjungan saya yang telah lalu bisa mengangkat saya beberapa derajat di hadapan Anda”

“Tidak, Nyonya!” kata Sang Pendeta tanpa menoleh, “Bahkan hal itu bisa menurunkan saya beberapa tingkat!”

Mulut Sang Isteri ternganga heran melihat keterusterangan dan kekasaran Sang Pendeta. Baru pertama kali ini ia mendengarnya.

“Apakah Anda tak percaya?!” tanya Sang Pendeta melanjutkan perkataannya.

“Apakah Anda tak bercaya bahwa Anda tengah menarik saya turun?!”

“Berarti saya memiliki pengaruh pada diri Anda!” kata Sang Isteri dengan suara yang menyembunyikan rasa senang dan lega.

“Jelek! Pengaruh jelek!” jawab Sang Pendeta segera. “Anda telah berusaha mengajari saya berdusta, mengajak saya turun ke lapangan tenis dan menyuruh saya menjadi aktor sinema! Semua itu dalam rentang waktu yang singkat! Apakah Anda melihat, betapa suksesnya Anda?!”

Sang Isteri tertawa panjang dan lembut. Gelaknya merdu bercampur dengan senyum indah berseri dari mulutnya yang menawan.

“Dan Anda? Tidakkah Anda mendapatkan kesuksesan bersama saya?” katanya kemudian.

“Sama sekali saya tak melihat secuil keberhasilan itu!”

Namun tiba-tiba Sang Pendeta teringat pada ucapan Sang Suami bahwa Sang Isteri telah membaca Thaïs dalam tiga malam. Ia telah menyempatkan diri membaca seluruh karyanya! Kemauannya membaca ini, apa pun motifnya, bisa disebut sebagai sebuah kemajuan. Sebuah langkah yang akan membawa jiwa sampai pada tingkat yang lebih tinggi. Sang Pendeta ingin meyakinkan hal itu. Ia pun lalu menanyainya.

Rona muka Sang Isteri sedikit berubah, namun ia segera bisa menguasai diri. “Siapa yang memberi tahu Anda bahwa saya membaca semua itu?!” katanya balik bertanya.

“Suami Anda!”

“Apakah Anda mempercayainya?” tanya Sang Isteri sambil menatap lekat kepada Sang Pendeta.

Pendeta Pemikiran tak tahu harus menjawab apa. Lama ia memikirkannya. Kemudian dengan suara serius dan tegas ia mengatakan kepada Sang Isteri yang jelita itu.

“Dengar, Nyonya! Sekarang masalahnya sudah jelas bagi saya. Dari yang saya tahu, Anda sudah mendapatkan tujuan Anda. Suami Anda, bagaimana pun juga, menganggap Anda telah berubah dan telah mau membaca. Adapun jika Anda menipu suami Anda dengan berpura-pura di hadapannya, dan membuat kepura-puraan itu menjadi anggapan yang diyakininya, maka itu adalah kesuksesan model Anda. Adapun jika Anda benar-benar telah berubah dan bisa menikmati sastra, maka itu adalah tujuan kita.”

“Karena itu, tak ada lagi keperluan mengunjungi saya. Jadi, ijinkan saya memberi ucapan selamat dan terima kasih atas perkenan Anda datang ke tempat ini, dan selamat berpisah!”

Sang Isteri melihat wajah Sang Pendeta sejenak. Ia melihat kesungguhan dan keseriusan pada raut muka dan pandangan Sang Pendeta. Ia juga merasakan gerakan Sang Pendeta mulai mengalihkan diri pada buku-bukunya, kertas dan kesibukan pemikirannya. Sang Isteri juga merasakan, seakan-akan langit dingin Sang Pemikir telah memanggilnya. Dunia keras Sang Pendeta telah mengajaknya kembali.

Lalu dengan kedua bibirnya, Sang Isteri itu mengucap lirih, seperti berbisik.

“Selamat tinggal!”

Hanya itu kalimat yang diucapkannya, tak lebih. Sang Isteri lalu mengambil sarung tangannya, dan memakainya dengan pelan.

“Dan terima kasih,” lanjutnya kemudian.

Sang Isteri pun melangkah menuju pintu, lalu menghilang seperti bayangan hantu. Ia telah pergi seperti mimpi yang telah berlalu.

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s