SARANA DAN HASIL

Sarana/Sebab Material dan Immaterial

Allah Swt. telah menciptakan bumi dan menjadikan undang-undang yang mengatur serta menata kehidupan di atasnya, yaitu undang-undang sebab-akibat. Agar kita mendapatkan satu hasil tertentu, kita harus menggunakan sarana-sarana yang membantunya mencapai hasil tersebut. Sarana-sarana yang bisa mendatangkan hasil-hasil itu terbagi ke dalam dua bagian: material dan immaterial.

Sarana material adalah sarana yang berhubungan dengan materi yang memiliki kaitan dengan hasil yang dikehendaki. Sehingga, orang haus yang ingin segar maka harus minum air. Orang lapar harus makan supaya kenyang. Orang yang ingin mencapai tempat tertentu harus berjalan menuju tempat itu, atau menggunakan sarana transportasi yang sesuai untuk membawanya ke tempat yang diinginkan… dan begitu seterusnya.

Seperti kita lihat di atas, undang-undang material biasanya memiliki hasil yang langsung diketahui dan bisa ditentukan.

Adapun sarana immaterial adalah sarana yang berhubungan dengan pelaksanaan hal-hal non-materi yang bisa mengantarkan perealisasian hasil material yang bisa dirasa; atau pelaksanaan hal-hal material yang tak memiliki hubungan lahiriah dengan hasil yang dicapainya. Berikut kami berikan contoh-contohnya:

  • Istighfâr (permohonan ampun) adalah hal immaterial, akan tetapi di dalam Kitab-Nya dan melalui sabda Nabi-Nya Saw. Allah memberitahu kita bahwa istighfâr memiliki hasil material; seperti yang disebut di dalam firman, Maka kukatakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabb kalian! Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Dia akan mengirim hujan kepada kalian dengan lebat; dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian; dan Dia akan mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai-sungai untuk kalian. (Nûh: 10-12). Dan di dalam hadis disebutkan, “Barangsiapa melanggengkan istighfar maka Allah akan menjadikan jalan keluar bagi setiap permasalahan yang menghimpitnya; Dia akan menjadikan kelegaan bagi setiap dukanya, dan Dia akan memberinya rezeki tanpa pernah diduganya.1
  • Doa adalah perkara immaterial, akan tetapi dengannya bisa dicapai hasil material terindera; seperti yang terjadi pada tiga orang yang masuk ke dalam goa, lalu ada batu besar menggelinding menutup pintu keluar. Ketiga orang ini lalu mencoba menggeser batu tersebut, tetapi tak kuasa. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain berdoa kepada Allah dengan penuh ketulusan agar Allah mengeluarkan mereka dari musibah yang menimpanya. Allah pun mengabulkan doa mereka, batu menjadi bergeser dan mereka semua bisa keluar dari goa.2
  • Suatu penyakit memiliki berbagai macam sebab, dan ketika orang sakit minum obat penawar sebab sakitnya, biasanya akan sembuh—dengan izin Allah. Tetapi ada hal-hal lain yang tak berhubungan dengan sebab-sebab sakit ini namun bisa memberikan kesembuhan; seperti air zam-zam dan sedekah. Sabda Rasulullah Saw. “Obati orang-orang sakit kalian dengan memberikan sedekah.3
  • Diantara contoh sebab-sebab immaterial lainnya adalah shalat istisqa. Cuaca bisa saja cerah, langit tanpa awan, sementara orang-orang Muslim membutuhkan air. Mereka pun keluar melaksanakan shalat seraya merendahkan diri, khusuk dan tunduk kepada Allah. Kemudian langit yang cerah tampak kusut oleh mendung, awan-awan berkumpul dan turun hujan; sebagaimana yang telah terjadi pada masa Rasulullah Saw. dan terulang berkali-kali sepanjang sejarah Islam kita.

Hasil berasal dari Allah bukan dari sarana

Terkadang ada yang mengatakan: Kalau begitu kita fokuskan pada sebab-sebab immaterial karena hasilnya besar tanpa banyak membebani kita, dan kita tinggalkan saja sebab-sebab material. Kita tinggalkan pengobatan. Kita tinggalkan makanan. Kita tinggalkan semuanya dan beralih menuju doa, sedekah dan istighfar.

Kalau kita melakukan hal itu maka hasilnya tidak akan terealisasi. Karena Allah-lah yang telah menciptakan sebab-sebab material dan immaterial itu. Dia-lah yang telah meminta kita menggunakan kedua sebab itu dengan cara berinteraksi: tidak menjadikan sebab-sebab itu sebagai pemilik kekuatan dan efek sejati yang bisa merealisasikan hasil. Segala sesuatunya bersamaan dengan kehendak Allah, sementara sebab-sebab atau sarana-sarana itu adalah tabir penyekat, yang melalui tabir ini kekuasaan Allah turun.

Allah-lah yang memberikan kesegaran dan membuat kita merasakan kesegaran, akan tetapi Dia menjadikan hal ini terealisasi melalui sebab material berupa minum air. Dia-lah Yang Mahasuci yang menyembuhkan penyakit dan Dia menjadikan hal itu terealisasi melalui penebaran efek obat atau melalui sedekah, dan begitu seterusnya.

Barangkali keberadaan sebab atau sarana yang dalam beberapa kasus tak selalu membuahkan hasil merupakan bukti bagi manusia untuk menegaskan keyakinan ini. Tidur merupakan sebab kenyamanan, tapi dalam beberapa keadaan seseorang bisa saja telah tidur lama lalu terbangun dengan merasa kepayahan. Bahkan hadis Nabi Saw. menyebutkan bahwa orang yang tidur dari melakukan shalat fajar, meskipun tidurnya panjang namun ia akan bangun dengan, “mood yang buruk dan malas.”4 Begitu pula obat-obatan terkadang tak menjadi sebab kesembuhan—sampai orang yang sakit itu bergonta-ganti obat tanpa membuahkan hasil.

Bahaya ketergantungan pada sarana

Ketika seseorang memperlakukan sarana dengan keyakinan bahwa sarana itulah yang mendatangkan hasil, maka sesungguhnya ia tengah tergelincir dalam luncuran berbahaya yang bisa mengantarkannya pada wilayah kemusyrikan kepada Allah. Lalu sarana-sarana atau sebab-sebab itu pun berubah menjadi tabir penghalang antara dirinya dengan Allah. Padahal sarana atau sebab ini tidaklah diciptakan, kecuali agar menjadi tabir penyekat yang melalui tabir ini seorang hamba mampu melihat hikmah Allah, kelembutan-Nya, rahmat-Nya, dan keperkasaan-Nya yang ada di balik tabir tersebut.

Begitu pula, diantara bahaya ketergantungan pada sarana atau sebab ini adalah: kegelisahan akan menguasai hati begitu dirasa sarana atau sebabnya tak lengkap. Sebaliknya kegembiraan akan memenuhi hati ketika dirasa sarana atau sebabnya berlebih. Sehingga, keyakinan tercapainya hasil pun menjadi bergantung pada sarana atau sebab yang ada, bukan pada Allah. Al-Qur’ân telah mencatat keadaan kaum musyrik yang ketika disebutkan nama-nama sekutu mereka (segala sesuatu selain Allah), mereka ceria dan bergembira, Dan apabila hanya nama Allah yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati (Az-Zumar: 45).

Selubung sarana

Jadi, sarana atau sebab itu adalah tabir yang harus ditegakkan agar kuasa Allah (takdir) turun melaluinya. Tabir ini mula-mula dimulai dengan sarana atau sebab material yang tersedia, kemudian dilanjutkan dengan sarana atau sebab immaterial, seperti yang dikatakan Rasulullah Saw. kepada seorang pria yang membiarkan ontanya tanpa diikat. “Ikat onta itu dan bertawakkallah!5

Jika tabir itu hanya sebatas sarana atau sebab material maka ukurannya jadi terbatas dan hasilnya pun menjadi terbatas pula.

Dan jika seseorang berusaha menegakkan tabir ini dengan menggunakan sarana atau sebab immaterial saja, tanpa menggunakan sarana atau sebab material yang tersedia pada dirinya, maka ini merupakan bentuk perilaku buruk kepada Allah. Keinginannya tidak akan tercapai karena menyalahi undang-undang yang telah dibuat Allah demi menegakkan kehidupan dan pencapaian hasil itu.

Namun jika seseorang menyatukan dua jenis sebab tersebut, maka dengan begitu ia akan semakin menambah besar ukuran tabir, sehingga takdir keberhasilan yang turun melaluinya menjadi tak terbatas. Renungkan sabda Rasulullah ini, “Kalau kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki pada burung, berangkat dengan perut kosong dan pulang dengan perut penuh.6

Dengan menggarisbawahi: bahwa sarana atau sebab yang dituntut untuk dilakukan dan dikerjakan oleh burung hanyalah berangkat dan pulang.

Diantara contoh yang menegaskan makna ini adalah: pengaduan para Sahabat karena minimnya air, sementara mereka memerlukannya untuk minum dan berwudhu. Lalu apa yang Rasulullah lakukan? Pertama-tama beliau mendirikan tabir dengan sarana atau sebab material: beliau meminta air yang hanya sedikit itu. Kemudian beliau meletakkan tangannya yang mulia ke dalam air. Setelah itu beliau berdoa kepada Allah, dan hasilnya: mengalirlah air diantara jari-jari Nabi. Semua orang lalu meminum dan berwudhu darinya.7

Begitu pula yang terjadi pada Maryam yang tepercaya. Ketika Maryam tengah mengalami proses melahirkan anak, ia menyandarkan punggungnya pada batang pohon kurma yang tak berbuah. Allah lalu memintanya menggoncang batang itu dengan tangannya—sebagai bentuk penegakan tabir material—disertai ketawakkalannya yang sempurna kepada Allah Taala—sebagai bentuk penegakan tabir immaterial—supaya kekuasaan Allah turun dan buah kurma yang masak berjatuhan, Dan goncanglah batang pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (Maryam: 25).

Dan ketika Allah memerintahkan Ibrahim a.s. agar menyeru umat manusia, memanggil mereka untuk melaksanakan haji, Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki (Al-Hajj: 27), Ibrahim bertanya, “Ya, Tuhan! Bagaimana saya menyeru manusia sementara suaraku tak mampu mencapai mereka?” Allah lalu menjawabinya, “Seru, dan Kami-lah yang menyampaikannya!” Ibrahim pun lalu berdiri di tempatnya—ada yang mengatakan berdiri di Hijr, atau Shafa, atau di Gunung Abu Qubais—dan menyeru, “Wahai manusia! Sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah maka tujulah (berhajilah)!” Lalu—ada yang menceritakan—Gunung Abi Qubais merendah hingga suara Ibrahim mencapai seluruh penjuru dunia, dan semua orang yang masih di dalam rahim serta tulang-tulang rusuk bisa mendengarnya.8

Jika Anda menanyakan, kenapa untuk membuat tabir itu dimulai dengan sarana atau sebab material?

Karena oleh Allah, sarana atau sebab material itu telah disediakan untuk semua orang, baik yang beriman maupun yang tak beriman. Sehingga semua orang bisa mendapatkan hasil melalui sarana atau sebab ini. Kalau sarana atau sebab immaterial yang dijadikan permulaan, niscaya orang-orang kafir akan terhalang mendapatkan hasil-hasil itu. Padahal hasil-hasil inilah yang akan menjamin kehidupannya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Karena itu, kalau sarana atau sebab immaterial yang didahulukan maka orang-orang kafir tak akan pernah memiliki kesempatan penuh dalam mengenali Allah, mengesakan-Nya dan menyembah-Nya.

Apakah sarana atau sebab itu tersedia bagi semua orang?!

Allah telah menciptakan bumi, membekalinya dengan bahan-bahan makanan, rezeki dan sebab atau sarana yang memudahkan manusia hidup di sana; dan Dia telah menjadikan interaksi terhadap sebab atau sarana ini bisa dilakukan oleh semua orang, ‘sama semua bagi mereka yang menginginkan’. Maka semuanya tergantung usaha gigih dan kerja keras dalam mencapai harta-harta terpendam itu—dan dalam menggunakan sarana dan sebabnya—manusia akan mencapai apa yang diinginkannya dan mendapatkan hasil jerih-payahnya. Hal ini berlaku sama bagi orang mukmin maupun orang kafir. Dan Dia telah menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia telah menentukan kadar makanan-makanan di dalamnya dalam empat hari. Semua sama bagi mereka yang memintanya (Fushshilat: 10); Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun itu, Kami berikan pemberian dari kemurahan Rabb-mu. Dan pemberian Rabb-mu tiada terlarang (bagi siapa saja) (Al-Isrâ’: 20).

Ini yang menyangkut sarana atau sebab material. Adapun yang berkaitan dengan sarana atau sebab immaterial yang bisa mendatangkan hasil tambahan berlipat-lipat, maka penggunaannya memiliki syarat keimanan kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya, dan tulus menghadap kepada-Nya. Tergantung besar-kecilnya syarat itu terpenuhi, sebegitu pula tabir ditegakkan, dan karenanya mendapatkan uluran bantuan ilahi.

Orang-orang musyrik ketika mau kembali kepada Allah, kapan pun ia mau kembali, dan meminta kepada Allah dengan sepenuh hati dan tulus untuk memberikan kesalamatan kepada mereka dari bencana yang menimpanya, niscaya Allah akan menyelamatkannya.Dan apabila mereka dilamun ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan menuluskan agama kepada-Nya, maka tatkala Allah telah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, sebagian mereka tetap menempuh jalan lurus. Dan, tak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tak setia lagi ingkar. (Luqmân: 32).

Jadi, pencapaian hasil melalui penggunaan sarana atau sebab immaterial berkaitan dengan keadaan orang bersangkutan saat menggunakan sebab-sebab ini. Maka tergantung besar-kecilnya keimanan orang bersangkutan kepada Allah, keterkaitannya dengan-Nya, ketulusannya menghadap dan kesungguhannya memohon pertolongan-Nya, sebesar itu pula datangnya pertolongan. Sebab-sebab immaterial ibarat busur di tangan seorang pemanah, maka sebesar kekuatan tenaga tarikan secepat itu pula anak panah melesat dan mencapai sasaran. Mari kita renungkan seberapa besar permintaan tolong kaum Muslimin kepada Rabb-nya dalam Perang Badar, kemudian lihat besarnya pertolongan ilahi setelah itu,(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu, bahwa: “Sungguh Aku membantu kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut” (Al-Anfâl: 9).

Pertolongan tidaklah berkaitan dengan individu-individunya itu sendiri meski apa pun latar belakang mereka atau garis keturunan mereka, bahkan pertolongan itu berkaitan dengan keadaan imaniah yang ada pada mereka. Dan bahwasanya jika mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (Islam), niscaya Kami akan memberi mereka minum air yang segar (rezeki yang banyak) (Al-Jinn: 16). Janji dan kesepakatan Allah untuk memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya dengan bantuan yang mencukupi, kemenangan dan penjagaan tidak akan terealisasi, kecuali jika hamba-hamba itu memenuhi apa yang telah mereka sepakatkan bersama Allah, … dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku memenuhi janji-Ku kepada kalian (Al-Baqarah: 40). Namun jika mereka tidak memenuhi hal itu, maka hasilnya jelas,Janji-Ku tidak mencakup mereka yang zalim! (Al-Baqarah: 124).

Ringkasnya:

Adanya sarana atau sebab itu sangat penting bagi tercapainya hasil. Sarana atau sebab itu sendiri tidaklah bisa mewujudkan takdir, tetapi ia menyiapkan turunnya takdir.

Sarana atau sebab itu ada dua jenis, material dan immaterial. Sebab material tersedia bagi semua orang, dan sebab immaterial terbatas pada orang-orang yang mengimani Allah; lalu, sebesar keimanan dan ketulusan yang ada, sebesar itu pula hasil-hasil terealisasi.

* * *

1 HR Abu Daud (1518), Ahmad (2234), dan Ibn Majah (3819).

2 Lihat teks hadisnya di dalam Kitab Al-Bukhârî dan Muslim.

3 Hadis hasan, dihasankan oleh Al-Albânî di dalam Shahîh Al-Jâmi` Al-Shaghîr (33858)

4 Muttafaq `alaih.

5 HR At-Tirmidzî, dan ia mengatakan hadis ini hasan.

6 HR At-Tirmidzî (2345), dan ia mengatakan hadis ini hasan; Imam Ahmad, 1/30; Ibn Majah (4164).

7 Imam Al-Bukhârî meriwayatkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibn Mas`ûd, “Ketika kami bersama Rasulullah Saw. dan kami tidak memiliki air, Rasulullah berkata kepada kami, ‘Mintalah dari orang yang punya sisa air!’ Lalu dibawakanlah air dan dituangkan ke dalam bejana. Kemudian Rasulullah meletakkan telapak tanggannya ke dalam air itu. Lalu air pun memancar dari sela-sela jari Rasulullah Saw.

8 Ibnu Katsîr, Tafsir Al-Qur’ân Al-`Azhîm 3/204.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s