KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (3)*

Al-Qurân berbicara pada pikiran dan perasaan secara bersamaan

Diantara keajaiban Al-Qur’ân yang unik dibanding kitab-kitab suci lainnya adalah Al-Qur’ân menyapa pikiran dan perasaan secara bersamaan, di saat yang sama. Ia berbicara pada akal dan membuat akal puas atas apa yang diinginkan. Pada saat yang sama, pembicaraan ini merembes ke dalam perasaan sehingga mempengaruhinya dan mendorongnya memberi respon, sehingga kepuasan akal berubah menjadi keimanan hati. Dan ini tidak mungkin terjadi pada pembicaraan-pembicaraan lainya, yang mana pun.

Para pengguna logika ketika ingin meyakinkan orang lain pada sebuah pemikiran tertentu, mereka akan menggunakan cara-cara pemuasan akal yang beraneka ragam. Dan terbukti bisa memuaskan akal, tetapi tetap saja pemikiran ini terkekang di dalam akal dan tidak merembes ke dalam hati untuk kemudian menjadi sebuah keimanan—yang dengan keimanan ini mendorong terjadinya pengamalan. Hal itu disebabkan karena mereka tak bisa membakar hati dan tak bisa mempengaruhi perasaan dengan pemikirannya. Hal ini sulit dilakukan. Kemampuan pengguna logika dan kemampuan seluruh manusia tidak memungkinkan melakukan hal tersebut.

Dalam makna semacam itulah Dr. Muhammad `Abdullah Darrâz r.h. mengatakan,

Di dalam jiwa manusia terdapat dua kekuatan: kekuatan pemikiran dan kekuatan perasaan. Kebutuhan yang diperlukan masing-masing kekuatan tidak sama. Salah satu darinya menggali kebenaran untuk dikenalinya dan menggali kebaikan untuk dilakukan. Sementara yang satunya lagi merekam indra-indra perasanya terhadap kenikmatan dan kepedihan atas suatu hal. Penjelasan yang sempurna yang bisa memenuhi kebutuhan kedua kekuatan tersebut akan bisa membawamu terbang menggunakan kedua sayapnya, dan masing-masing akan memberikan porsinya: kemanfaatan akal dan kenikmatan perasaan secara bersamaan.

Lalu apakah Anda menemukan kesempurnaan ini pada penjelasan perkataan manusia?

Kita telah mengenal perkataan para ilmuwan dan perkataan para penguasa. Kita juga telah mengenal perkataan para sastrawan dan para pujangga, dan kita tidak menemukan dari semua orang itu selain perkataan yang berlebih-lebihan di satu sisi dan keterbatasan di sisi yang lain. Perkataan yang bisa memahamkan akal, tetapi tak bisa menyentuh perasaan; dan yang bisa mempengaruhi perasan bahagia atau sengsara, tetapi lemah penalarannya. Demikianlah jiwa manusia tidak bisa membidik dua tujuan ini menjadi satu tujuan. Kalau ada yang bisa, tentulah ia merupakan jiwa yang mampu merangsang dan merenungkan sekaligus.

Kaidah ini bisa Anda buktikan di dalam setiap perkataan lisan dan tulisan. Kekuatan mana yang menguasai saat mengucapkan atau menuliskan perkataan itu. Ketika Anda mendapatinya mengarah pada penegakan kenyataan pandangan (teori) atau mendiskripsikan cara prosedural, maka Anda mengatakan: ini buah pikiran.

Dan ketika Anda mendapatinya menghasut jiwa atau menakut-nakutinya, menahan atau melepaskannya, merangsang kesenangan atau kepedihan yang terpendam di dalamnya, maka Anda mengatakan, ini buah perasaan. Dan ketika Anda melihatnya berpindah dari satu kekuatan menuju kekuatan berikutnya, maka dengan itu Anda mengetahui rangkaian pemikiran dan perasaan pada dirinya. Adapun satu model perkataan yang menuju satu arah namun bisa menggabungkan dua kekuatan ini secara bersamaansebagaimana satu ranting pohon membawakan daun, bunga dan buah secara bersamaanhal ini tak bisa dilakukan oleh perkataan manusia, juga bukan sunnah Allah dalam jiwa manusia. Adapun Allah, Dia adalah Dzat yang tak disibukkan oleh keadaan-keadaan dan kondisi. Dia-lah yang mampu berbicara pada akal dan hati secara bersamaan. Ar-Rahman, (Yang Maha pemurah); yang telah mengajarkan Al-Qur’ân; yang telah menciptakan manusia; yang telah mengajarkannya kefasihan (Ar-Rahmân: 1-4).

Dia-lah yang mampu menyampur kebenaran dan keindahan menjadi saling bertemu; dan dari keduanya memancarkan minuman jernih-murni yang melezatkan orang-orang yang meminumnya. Inilah yang Anda dapati di dalam Kitab-Nya yang mulia, di bagian mana pun Anda membacanya.

Tidakkah Anda melihat disela-sela kisah dan berita-Nya, Dia tak melupakan hak akal untuk mendapatkan hikmah (kebijakan) dan ibrah (pelajaran)?

Tidakkah Anda melihat di dalam kegemparan bukti-bukti dan sanksi-sanksi-Nya, Dia tidak melupakan bagian hati untuk merindu, melumer, mewaspadai, membenci, menakuti, mengagumi, mencela, dan menegur? Dia menebarkan itu semua di permulaan-permulaan ayat, penggalan-penggalan ayat, dan pengulangan-pengulangan ayat.

Bacalah misalnya firman Allah,Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian kisas berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa mendapatkan pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang makruf, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Rabb kalian. Namun barangsiapa melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih(Al-Baqarah: 178). Lihatlah ungkapan persuasif agar seseorang melakukan ketaatan di awal ayat di atas dengan ucapan,Hai orang-orang yang beriman; lalu pelumeran perasaan antara yang didekati dan yang mendekati dengan ungkapansaudaranya,cara yang makruf,cara yang baik; ungkapan terimakasih dengan katakeringanan dan rahmat dari Rabb kalian; dan ancaman di akhir ayat.

Kemudian lihat dalam masalah apa ayat ini berbicara? Bukankah dalam masalah kewajiban yang detail dan kasus berdarah?

Makna-makna semacam ini terdapat di dalam seluruh ayat hukum, bahkan hingga hukum-hukum sumpah dan zhihâr.1

Di buku undang-undang manakah terdapat ruh semacam ini?

Bahkan dalam bahasa manakah terdapat penyampuran yang menakjubkan ini? Demi Allah kalau saja seseorang berusaha menggabungkan dua kekuatan ini dalam satu penjelasannya, hingga membagi perhatian dan bagaian-bagian jiwanya, pasti orang itu hanya akan mampu membuat kilasan-kilasan berpencar, dan datang dengan baju penjelasannya yang penuh tambalan.2

Dan diantara contoh pembicaraan sempurna yang tak satu pun kuasa melakukannya—selain Allah—yang mengajak bicara akal dan perasaan sekaligus, dan yang memaparkan isu sangat sensitif tanpa melukai perasaan pembacanya, baik laki-laki maupun perempuan adalah firman-Nya: Isteri-isteri kalian adalah ladang kalian, maka datangilah ladang kalian itu dari mana pun kalian menghendaki dan dahuluilah (dengan kebaikan) untuk diri kalian. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian akan menemui-Nya! Beri kabar gembira kepada mereka yang beriman (Al-Baqarah: 223).

* * *

1 zhihâr, sejenis sumpah, ia berupa perkataan suami yang menyamakan istrinya dengan ibunya sendiri dengan tujuan menyakiti istri—dengan cara tidak memberi nafkah batin. Karena seorang anak tidak dibenarkan menggauli ibunya sendiri secara seksual, penerj.

2 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-Naba’ Al-`Azhîm, 143-146, dengan penyesuaian.

tulisan ini saya sunting dari salah satu buku yang telah saya terjemahkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s