KEISTIMEWAAN & MUKJIZAT AL-QUR’AN (7)*

Al-Qurân: ibadah yang terus diperbarui dan tidak membosankan

Al-Qur’ân tidak menjadi usang karena sering diulang-ulang. Di dalamnya selalu ada yang baru bagi para pembacanya. Andai pun semua orang minum dari sumber Al-Qur’ân, Al-Qur’ân tak akan pernah berhenti memancarkan airnya. Dan tak ada yang merasakan bosan, jemu, atau tidak menemukan sesuatu yang baru di dalamnya. Bahkan yang mengherankan, kita akan dikejutkan bahwa ternyata kita belum mengambil apa-apa dari Al-Qur’ân selain hanya beberapa teguk dan beberapa tetes saja dari kebaikan yang deras mengalir dari sungai Al-Qur’ân yang agung. Maka benar belaka orang yang mengatakan bahwa Al-Qur’ân masih perawan.

Dalam makna itulah Dr. Muhammad `Abdullah Darrâz r.h. mengatakan,

Anda tengah membaca sepotong ayat Al-Qur’ân dan mendapati kata-kata di dalamnya jelas, halus, teliti, dan kosong dari segala keanehan tujuan. Pengertian katanya segera muncul ke hadapan Anda tanpa kepayahan jiwa maupun pengulangan kata, seakan-akan Anda tidak sedang mendengarkan perkataan dan bahasa, bahkan melihat rupa dan kenyataan yang muncul.

Demikianlah, lantas Anda mengira bahwa Anda telah menguasai dan menemukan maknanya yang terbatas…

Begitulah. Dan ketika Anda mengulangi, membacanya lagi, Anda akan mendapati diri Anda berada di hadapan makna baru selain makna yang telah Anda pahami pertama kali; dan begitu seterusnya sampai Anda melihat bahwa satu kalimat atau satu kata memiliki banyak sisi pemahaman yang semuanya benar, atau ada kemungkinan benar. Ia seakan-akan ibarat berlian yang setiap lekukannya memantulkan sinar. Dan ketika Anda melihat lekukan-lekukannya secara menyeluruh, ia menyilaukan Anda dengan seluruh warna spektrum sehingga Anda tak tahu apa yang telah ditangkap pandangan Anda dan apa yang luput dari penglihatan.

Dan barangkali kalau Anda membiarkan orang lain melihatnya, bisa jadi ia melihat lebih banyak lagi dari yang telah Anda lihat. Demikianlah Anda mendapati sebuah kitab terbuka sepanjang zaman. Setiap orang mengambil apa yang mampu diraihnya. Bahkan Anda melihat samudera yang sangat luas yang batasnya tak pernah dicapai oleh akal-akal individu maupun generasi.

Syaikh Darrâz kemudian memberikan contoh dengan mengatakan,

Bacalah firman Allah Taala,

وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

… Dan Allah memberikan rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan (Al-Baqarah: 212).

Lihat, dalam akal manusia, adakah perkataan yang lebih jelas dari perkataan ini. Kemudian lihat betapa lenturnya kalimat ini! Kalau dalam semakna kalimat itu Anda mengatakan:

  1. Bahwa Allah Swt. memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya tanpa penghitung (akuntan) yang menghitung-Nya dan tanpa penanya (auditor) yang menanyai-Nya, kenapa memberikan banyak rezeki kepada mereka dan membatasi rezeki pada yang lain, maka Anda benar.
  2. Dan kalau Anda mengatakan, Dia Swt. memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun tanpa pelit maupun perhitungan pribadi saat memberikannyakarena takut habis, Anda benar.
  3. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya tanpa pernah ditunggu dan diduga oleh si penerima, Anda benar.
  4. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun tanpa mempersoalkan dan tanpa mendiskusikan perbuatannya, Anda benar.
  5. Kalau Anda mengatakan, Dia memberikan rezeki-Nya kepada siapa pun dengan jumlah yang sangat banyak, tanpa pembatasan dan tanpa hitungan, Anda benar.1

Anda membaca, Anda diberi pahala

Dan diatas semua itu, membaca Al-Qur’ân adalah ibadah yang melaluinya seseorang dihitung tengah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Hal ini diantaranya yang mendorong seorang Muslim selalu menujunya dan suka bergaul dengannya sebagi sarana mendapatkan pahala, ganjaran dan kedekatan dengan Allah. Dan hal ini tidak terjadi pada kitab lainnya yang mana pun.

Renungkan sabda Rasulullah Saw. ini dan pengaruhnya yang membuat orang suka membaca Al-Qur’ân. “Sukakah kalian ketika pulang ke rumahnya mendapati tiga ekor onta pengusung yang gemuk? Tiga ayat yang kalian baca di dalam shalat lebih baik dari tiga ekor onta pengusung yang gemuk.2

* * *

1 Muhammad `Abdullâh Darrâz, Al-NabaAl-`Azhîm, h. 146-147

2 HR Muslim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s