8 – SUSAH TIDUR

-8-
Susah Tidur

Minggu demi minggu berlalu. Malam demi malam telah berubah menjadi terang karena mata yang tak mau dipejamkan. Sementara siang harinya, siang demi siang berubah menjadi suram karena keputus-asaan. Pendeta Pemikiran tetap dengan keadaannya, tidak berubah. Ia masih tak mampu melupakan Sang Isteri meski telah mencobanya dengan berbagai macam upaya, kehendak dan ketabahan hati. Segala sesuatu di sekelilingnya mengingatkan kepadanya: Ini, pintu, yang menjadi tempatnya masuk; kursi yang menjadi tempatnya duduk; jendela tempatnya mencari sinar matahari; rak tempatnya membayangkan buku-buku yang berjejer; dan meja tempatnya melihat kertas-kertas berserakan. Bahkan dinding-dinding juga ikut mengingatkannya akan gelak suara tawanya yang lembut, ucapan-ucapan dustanya, dan percakapannya. Percakapan yang tak pernah berlangsung secara serius!

Sang Pendeta tak pernah tahu bahwa pada suatu hari ia harus bersungguh-sungguh menjaga ingatannya, bangga pada setiap perkataan dan komentarnya sendiri, juga pada nada-nada suaranya. Perkataan-perkataannya yang terkadang meremehkan Sang Isteri, dan terkadang dingin. Baginya saat ini, semua itu merupakan sesuatu yang sangat berharga, yang tak ternilai dengan harta. Kata-kata itu kini menjadi makanan yang menghidupi jiwanya.

Setiap hari ia mengeluarkan kata-kata itu dari ingatannya secara harfiah, dan kembali menggunakannya untuk berbicara kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar memamah kembali kata-kata itu seperti onta yang memamah makanannya yang telah lama tertelan sambil berjalan menggeliat-geliat kelaparan di padang pasir yang gersang. Bahkan setiap sore ia mengambil seluruh kata-kata itu dari kepalanya dan merenungkannya, kata demi kata seperti orang yang sedang mengambil mutiara dari dalam kotaknya lalu memperhatikan kilauannya, butir demi butir.

Semua itu dilakukannya dalam minggu-minggu yang panjang tersebut; setelah semua keputus-asaan untuk bisa berjumpa dengannya. Namun terkadang ia merasa getir dan menyesal atas perginya hari-hari itu, dengan kata-katanya yang semacam itu!

Aahh!… Kalau saja dirinya tahu, pasti dirinya akan berbicara dengan cara yang lebih baik dan mencurahkan seluruh perhatian untuknya. Tapi, meskipun begitu, Sang Pendeta tak menyesal atas perilakunya kepada Sang Isteri, perilaku yang tinggi tersebut. Sang Isteri adalah perempuan yang telah bersuami, tak pantas baginya memiliki hubungan yang lebih dari yang telah ada!

Dalam relungnya saat ini, barangkali ia ingin bersikap penuh perhatian. Perhatian hangat dan mendalam yang mengikatkan mereka berdua. Tapi siapa yang bisa menjamin bahwa keinginan itu akan berhenti pada batas tersebut?! Sang Pendeta tak ragu bahwa dirinya telah berbuat baik dengan menutup tirai kisah ini di saat yang tepat. Dirinya bukanlah orang yang suka menyimpang dari kewajibannya yang terhormat, atau suka memalingkan seorang isteri dari kewajiban sucinya terhadap suami. Ia benar-benar melaksanakan kewajiban yang diembannya. Orang seperti dirinya tak mungkin melakukan selain itu!

Adapun penderitaan yang menimpa dan ditanggungnya setelah itu adalah sesuatu yang tersembunyi. Sesuatu yang tak terlihat oleh siapa pun dan tak seorang pun mengetahuinya. Sesuatu yang tak merugikan orang lain dan tak menyangkut hak-hak orang lain! Selagi ia bisa menerima derita ini, lalu kenapa ia tak bisa menerima cintanya juga?! Cinta yang tersembunyi, yang tak terlihat oleh siapa pun dan tak disadari oleh satu pun makhluk hidup!

Pada suatu ketika, di tengah malam, Pendeta Pemikiran terbangun. Ia menyalakan lampunya dan duduk menghadapi mejanya. Sebuah tekad telah melekat di dalam hatinya. Tekad untuk memperbarui percakapan dengan orang yang dicintainya. Tekad untuk melanjutkan hubungan batin bersama bayangan Sang Isteri. Bayangan yang telah membangunkan dirinya di tengah malam dan tak pernah meninggalkannya di kala siang. Sang Pendeta pun lalu mengambil lembar-lembar kertas untuk menuliskan surat yang ditujukan kepadanya. Surat yang tak mungkin dilihat oleh Sang Isteri.

Dalam hal ini, barangkali Sang Istri menjadi semacam gundik bagi Sang Pendeta. Atau, barangkali hal itu merupakan cara untuk memperbesar cintanya tanpa menyalahi kewajiban!

* * *

Dentang jam berbunyi menunjukkan jarum berada di angka dua dini hari. Sang Pendeta memegang pena, menuliskan surat ini kepadanya.

Sahabatku!
Aahh…, kalau saja kau tahu apa yang telah terjadi kepadaku setelah kepergianmu! Kau tidur nyenyak dan hatimu tak pernah memikirkan bahwa di sana ada seorang lelaki yang terjaga demi dirimu. Dan siapakah lelaki ini?! Ia adalah orang yang membiarkanmu pergi tanpa pernah memperhatikan kehadiran dan ketidak-hadiranmu. Aku akan melihat tatapan heran di matamu kalau kau mengetahui hal ini. Tapi, kau tak akan pernah mengetahuinya, selamanya! Dan tak sepantasnya kau mengetahuinya, selamanya!

Yang kuinginkan hanyalah berbicara panjang lebar bersamamu di sini. Tak penting apakah kau akan membalas pembicaraanku. Kusadari apa yang telah kukatakan kepadamu. Aku melihat senyummu ketika kau mengetahui maksud ucapanku. Kau mengerutkan kening karena ucapanku menjelekkan dirimu dan kau berada di depanku, menyimak perkataanku dengan wajahmu, bulu matamu, pandanganmu, rambutmu dan mulutmu!

Aku akan mengatakan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam hatiku tanpa harus merasa kuatir akan membebani dirimu. Inilah kelebihan berbicara di atas kertas yang bisu ini. Paling tidak, ia mampu menipu diriku sendiri, memperdayaiku bahwa dirimu tak akan mampu berbuat apa-apa kepadaku. Sementara dirimu akan memperhatikan ucapanku dengan seluruh perasaan yang kau miliki kepadaku…

Aahh…, apa yang membuatku teringat pada perasaan, hari ini?! Kata itu sudah lama tak kuucapkan. Kehidupanku ternyata lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Kami, para pemikir, selalu berjalan di atas gurun panas yang membakar sehingga tak pernah menyadari betapa beratnya perjalanan ini, kecuali saat kami kebetulan menemukan oase yang hijau. Saat itu kami akan duduk sebentar di bawah naungan pohon, dan tampaklah betapa kerasnya hidup yang kami jalani. Kami bertanya-tanya: bagaimana kami bisa menanggung semua ini hingga sekarang?! Tak lama kemudian, tugas menyeru agar kami melanjutkan perjalanan. Kami pun kembali membetot dan melemparkan diri ke dalam neraka itu!

Sahabatku! Jadilah penghiburku. Biarkan bayanganmu menjadi temanku yang berjalan di sisiku. Aku memerlukan, meski hanya bayanganmu! Jalananku benar-benar liar! Ia bukanlah padang gurun seperti yang baru kukatakan kepadamu, karena padang gurun paling tidak memiliki keheningan yang nyaman. Jiwa akan menjadi jernih ketika tenggelam dalam keheningan. Tapi, aku berjalan di atas dunia yang bising. Dunia yang penuh kehinaan dan keburukan. Aku berenang di dalam lautan, berkawan kerendahan dan kedunguan!

Terkadang aku memberontak kepada diriku sendiri dan mengatakan, “mengapa tak kutinggalkan saja semua ini dan menjalani hidup sebagaimana orang lain hidup?!

Tetapi aku tak bisa, karena aku memimpikan sesuatu yang indah. Hal itu pasti harus dibayar dengan harga, minimal dengan menanggung ejekan orang lain! Percayalah, Sahabatku! Terkadang aku tak mendapatkan apa pun, selain celaan orang lain, seakan-akan aku telah melakukan kejahatan yang tak terampuni.

Barangkali kau telah banyak membaca tulisan tentang diriku yang tersebar di surat kabar. Dari waktu ke waktu, mungkin kau pernah melihat berbagai rupa atau bentuk yang mereka gunakan untuk menggambarkan diriku. Semula hal itu menyakitkanku, tetapi kini aku tak menganggapnya begitu. Akhirnya aku berkeyakinan, beginilah yang memang harus berlaku. Tak seharusnya seseorang berbaik sangka kepada orang lain melebihi yang sewajarnya! Mereka selalu begitu, mereka selalu seperti itu di setiap masa. Mereka tak mampu membayangkan sesuatu, selain yang sesuai dengan penggambaran kepalanya sendiri.

Dan beginilah aku sekarang. Saat aku melihat rupa atau penggambaran tentang diriku di surat kabar, aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan: “Itulah gambar yang bisa mereka buat. Mereka tak bisa membuat selain itu, atau tak bisa menceritakan selain itu!”

Aahh…, kami selalu dalam peperangan; bukan hanya demi sastra atau demi teladan mulia semata, tetapi demi mereka yang telah kami persembahkan hidup kami. Demi memberi mereka sesuatu yang indah!

Aku tak ingin berpanjang-panjang dalam surat pertama ini, takutnya kau malah meninggalkannya.

Aku hanya berani bersama bayanganmu dan akan menjaga diri ketika berhadapan denganmu, karena aku tak memiliki selain itu. Maka, biarlah aku menyimpannya untuk diriku. Semoga kau tidur dengan nyenyak!

Pendeta Pemikiran lalu melemparkan pena di tangannya, bangkit untuk menyerahkan diri kepada tidur, yang entah akan datang atau tidak!

* * *

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s