CEMBURU ADALAH PONDASI AGAMA

CEMBURU ADALAH PONDASI AGAMA

kecemburuan seorang mukmin akan selalu lebih besar daripada kecemburuan orang yang tidak beriman

Dalam sebuah riwayat, sahabat Abu Hurairah menyampaikan sabda Nabi SAW yang berbunyi: Seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, dan Allah lebih pencemburu lagi!
(الْمُؤْمِنُ يَغَارُ، الْمُؤْمِنُ يَغَارُ، الْمُؤْمِنُ يَغَارُ، وَاللَّهُ أَشَدُّ غَيْرًا)
Asma’ putri Abu Bakr juga meriwayatkan sebuah hadits dari Nabi SAW yang menyatakan bahwa: tidak ada yang lebih pencemburu dari Allah Azza wa Jalla.
(لا شَىْءَ أغْيَرُ مِنَ الله عَزَّ وَجَلَّ)
Dalam riwayat yang lain Abu Hurairah ra. menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah itu pencemburu, dan sesungguhnya orang mukmin juga pencemburu. Kecemburuan Allah muncul saat seorang mukmin mendatangi sesuatu yang dilarang-Nya.
Dalam riwayat Hammam, ia mengungkapkan bahwa: Diantara kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin mendatangi pelacur yang Allah telah mengharamkan hal itu kepadanya. (HR. Bukhari dari Musa bin Ismail dan HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَغَارُ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَغَارُ، وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حُرِّمَ عَلَيْهِ”
وَفِي رِوَايَةِ هَمَّامٍ: “وَمِنْ غَيْرَةِ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ الْفَاحِشَةَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ” رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ فِي الصَّحِيحِ، عَنْ مُوسَى بْنِ إِسْمَاعِيلَ، وَرَوَاهُ مُسْلِمٌ.

***

Seburuk-buruk makhluk Allah adalah “dayyuts”! Dan karenanya surga haram untuk seorang “dayyuts”. Begitu dinyatakan oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi dalam bukunya Al-Dâ` wa Al-Dawâ’. Kenapa?!

Karena “dayyuts” adalah seorang yang bukan saja tidak menganggap buruk perilaku kotor (fawahisy), bahkan menganggap baik perilaku kotor dan kezaliman. Bahkan seorang “dayyuts” akan menghias kekejian atau kekotoran dan kezaliman tersebut sehingga tampak memikat dan menarik; ia akan mengajak dan menganjurkan orang lain untuk melakukan kekejian dan kezaliman serupa, selain dirinya sendiri gigih berupaya mendapatkan kekejian dan kezaliman ini. Kata fahisyah dan fawahisy merujuk pada perbuatan-perbuatan cabul, pelacuran dan hal-hal yang tidak pantas secara susila (tuna-susila) dan syariat.

Semua perbuatan asusila dan kezaliman bisa terjadi karena kecilnya kecemburuan yang dimiliki oleh seorang “dayyuts”. Dari situ kita bisa menyimpulkan bahwa asal-muasal agama adalah kecemburuan, dan orang yang tidak memiliki rasa cemburu berarti tidak memiliki agama. Karena risalah agama adalah menegakkan budipekerti atau susila yang luhur dan melawan perilaku asusila/kotor, serta menegakkan keadilan dan melawan kezaliman.

Dalam riwayat Imam Ahmad dan Imam Nasai disebutkan Nabi SAW bersabda:

ثلاثة لا ينظر الله عز وجل إليهم يوم القيامة : العاق لوالديه ، والمرأة المترجلة، والديوث

Tiga golongan yang Allah Azza wa Jalla tidak akan melihatnya pada hari Kiamat: pendurhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang berlagak lelaki, dan dayyuts.

Dayyuts?! Apa, sih “dayyuts” itu lebih jelasnya?
Dalam hadits yang telah dikutip di atas terdapat ungkapan:

وَغَيْرَةُ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حُرِّمَ عَلَيْهِ

(Kecemburuan Allah muncul saat seorang mukmin mendatangi sesuatu yang dilarang-Nya).

Dan ungkapan (وَمِنْ غَيْرَةِ اللهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ الْفَاحِشَةَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ)

(Diantara kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin mendatangi pelacur yang Allah telah mengharamkan hal itu kepadanya)

Para Ulama mengatakan:

قال العلماء الغيرة، بفتح الغين، وأصلها المنع والرجل غيور على أهله أي يمنعهم من التعلق بأجنبي بنظر أو حديث أو غيره والغيرة صفة كمال فأخبر صلى الله عليه وسلم بأن سعدا غيور وإنه أغير منه وإن الله أغير منه صلى الله عليه وسلم وإنه من أجل ذلك حرم الفواحش

Cemburu, “ghairah” arti dasarnya adalah melarang. Seorang lelaki disebut pencemburu kepada istri/keluarganya jika ia melarang istri-istri/keluarganya itu berhubungan dengan lelaki asing, baik hubungan itu dilakukan melalui pandangan, pembicaraan, maupun melalui cara-cara yang lain. Cemburu merupakan sifat kesempurnaan. Karena itu, dalam kisah Sa`d bin Ubadah (kisahnya ada di bawah), Rasulullah memberitahukan bahwa Sa`d adalah seorang yang pencemburu, dan bahwa dirinya sendiri SAW lebih pencemburu dibanding Sa`d, dan bahwa Allah SWT lebih pencemburu lagi dibanding dirinya SAW. Karena kecemburuan-Nya itu, Allah mengharamkan perbuatan-perbuatan kotor.

Dalam bahasa praktisnya, “dayyuts” bisa diungkapkan, diantaranya dengan kalimat berikut:

والديوث : هو الرجل الذي لا يغار على أهله. مثال بسيط: لما بتسمح لمراتك أو بنتك أو أي حد قريب ليك إنها تنزل بملابس خليعة تبقى حضرتك اسمك ديوث … ولما تشوف واحدة محترمة ولبسها محترم ماشية في الشارع بتتعاكس وفاتح بوقك وبتضحك تبقى اسمك بردو ديوث. وأهله يقصد بها الرسول (أهل العشيرة أو أهل الإسلام) مش أهل بيتك فقط …

والله لو بصينا فى منهج الاسلام شوية هنلاقي مشكلة لحل التحرش … مش تيجي تعملى فيها اجنبي ومن اوربا وتبص للأمور بمنطق الحرية

Dayyuts adalah seorang lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu pada istri/keluarganya. Contoh sederhananya: Saat Anda mengizinkan atau membiarkan istri Anda atau anak Anda, atau salah seorang kerabat perempuan Anda keluar rumah dengan menggunakan pakaian yang minim atau terbuka maka Anda adalah Dayyuts. … Begitu pula saat Anda melihat seorang wanita terhormat dengan pakaian yang terhormat pula tengah berjalan di jalanan dan membalikkan tubuhnya saat berpapasan, lalu Anda membuka mulut dan tertawa maka Anda juga seorang Dayyuts… Kata keluarga yang dimaksud Rasulullah disini adalah mencakup satu kaum atau satu agama Islam, bukan semata-mata keluarga dalam rumah tanggamu….

Demi Allah, kalau sedikit saja kita mau melihat cara-cara yang diberikan Islam maka kita akan mendapatkan solusi untuk mengatasi persoalan pelecehan seksual… bukan malah dengan menerapkan cara-cara asing apalagi dari Eropa yang kemudian melihat permasalahan dengan logika kebebasan (bukan dengan logika kesopanan budipekerti dan aturan).

Jadi, “dayyuts” adalah orang yang tidak memiliki kecemburuan, entah kecemburuannya itu berdasarkan alasan pribadi, atau berdasarkan ajaran agama.

Orang yang beriman bisa memiliki dua alasan untuk cemburu, alasan pribadi dan alasan agama, karena itu kecemburuan seorang mukmin akan selalu lebih besar daripada kecemburuan orang yang tidak beriman.

Orang yang tidak beriman ketika cemburu semata-mata karena dimensi pribadi, sementara seorang mukmin kecemburuannya bisa dikarenakan dua dimensi sekaligus dan cakupan kecemburuannya bisa lebih sangat luas dibanding kecemburuan orang yang tidak beriman. Tujuan kecemburuan seorang mukmin adalah demi kehormatan pribadi, kehormatan orang yang dicemburui dan orang yang membuatnya cemburu. Tujannya sangat jelas, demi menjaga kehormatan keluarga, yang itu minimal berarti kehormatan diri dan orang yang menjadi tanggungjawabnya dari melakukan hal-hal yang melanggar aturan Allah. Karena seorang mukmin diperintahkan oleh agama untuk menjaga diri dan keluarganya dari azab neraka, baik dengan cara mencegah mereka melakukan pelanggaran aturan Tuhan atau dengan cara memerintahkan mereka melakukan ketaatan-ketaatan pada aturan Tuhan.

Jika diantara penggiat gerakan feminisme menganggap kecemburuan seorang suami kepada istrinya merupakan bentuk kekerdilan dan ketidakpercayaan diri atau bahkan kecengengan, itu mungkin tepat dialamatkan kepada mereka yang tidak beriman karena memang alasan kecemburuannya hanya untuk kepentingan pribadi. Apalagi ide dan gagasan feminisme memang berlatar belakang realita dan kebudayaan orang yang jauh dari keimanan. Anggapan seperti yang dituduhkan para penganut paham kesetaraan ala feminisme sama sekali tidak tepat diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena kecemburuan orang yang beriman bersumber pada ketaatan kepada Allah SWT yang telah mengatur segala urusannya. Termasuk dalam urusan-urusan yang bersifat sangat pribadi semisal pemenuhan kebutuhan biologis dan seksual.

Seorang mukmin ketika melakukan pernikahan-pernikahan, yang mendorongnya untuk melakukan itu adalah ketaatan kepada sunnah Rasul dan ketaatan kepada Allah; yaitu ketaatan untuk memenuhi kebutuhan biologis dan seksualnya sesuai petunjuk dan aturan yang telah diberikan oleh Allah dan ketaatan untuk menjauhi perzinaan dan perbuatan-perbuatan kotor lainnya dalam hal pribadi pemenuhan kebutuhan biologis.

Begitu pula selanjutnya dalam menjalankan bahtera kehidupan. Seorang mukmin menggunakan panduan-panduan navigasi yang datangnya dari Allah karena tujuan akhir dari bahtera keluarga dan kehidupannya adalah keridhaan Allah hingga di alam keabadian. Tujuan kehidupan pribadi dan kehidupan keluarga—bahkan kehidupan sosial—orang yang beriman adalah kehidupan abadi dalam naungan ridha Allah, jadi tidak mungkin bisa menggunakan panduan-panduan kehidupan yang datang dari selain Allah. Ini harus disadari dan dicermati oleh setiap orang yang beriman.

Untuk itu, apa pun persoalan dan permasalahan yang dihadapi oleh seorang mukmin dalam kehidupannya harus selalu dirujukkan dan dicarikan solusinya pada panduan-panduan yang datang dari Allah. Bukan dari yang lain-Nya. Bukan pula dari perasaan-perasaan pribadi yang jauh dari petunjuk kebenaran. Itulah keimanan. Iman kepada yang gaib. Iman kepada Kitab yang menjadi panduan hidup. Iman kepada Rasul yang menjadi teladan pelaksanaan panduan.

Kisah Kecemburuan Orang-orang Beriman dari Generasi Teladan:

Kecemburuan Rasulullah SAW.

عَنْ مَسْرُوقٍ، قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعِنْدِي رَجُلٌ قَاعِدٌ، فَاشْتَدَّ ذَلِكَ عَلَيْهِ وَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِي وَجْهِهِ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّهُ أَخِي مِنَ الرَّضَاعَةِ، قَالَتْ: فَقَالَ: «انْظُرْنَ إِخْوَتَكُنَّ مِنَ الرَّضَاعَةِ، فَإِنَّمَا الرَّضَاعَةُ مِنَ الْمَجَاعَةِ»،

Diriwayatkan oleh Masruq, bahwa:
Aisyah ra. mengisahkan, “Pada suatu ketika Rasulullâh SAW masuk ke rumah. Saat itu ada seorang lelaki tengah duduk di sisiku. Tampak beliau tidak bisa menerima hal tersebut, dan aku melihat kemarahan di wajah beliau.” Lantas aku mengklarifikasi: “Wahai Rasulullâh, dia ini saudaraku sepersusuan.” Rasulullâh SAW kemudian bersabda: “Kalian cermatilah dengan sungguh-sungguh saudara-saudara kalian sepersusuan. Karena persaudaraan sepersusuan hanya bisa terjadi setelah seorang bayi menyusu hingga rasa laparnya hilang.” (HR. Muslim: 1455)

Kecemburuan Sa`d bin Ubadah

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: قَالَ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ: لَوْ رَأَيْتُ رَجُلًا مَعَ امْرَأَتِي لَضَرَبْتُهُ بِالسَّيْفِ غَيْرُ مُصْفِحٍ عَنْهُ، فَبَلَغَ ذَلِكَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «أَتَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ، فَوَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، مِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا، وَمَا بَطَنَ…

Diriwayatkan oleh Al-Mughirah bin Syu`bah ra. bahwa:
Sa`d bin ‘Ubâdah ra. mengatakan, “Andai aku melihat seorang lelaki bersama istriku, niscaya aku akan menebas lelaki itu dengan pedang!” Perkataan Sa`d ini akhirnya sampai kepada Rasulullah SAW, yang lantas bertanya, “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa`d?! Sungguh aku lebih pencemburu dibanding Sa`d, dan Allâh lebih pencemburu lagi dibanding aku! Karena kecemburuan-Nya, maka Allâh mengharamkan perbuatan-perbuatan kotor, baik yang tampak maupun yang tersembunyi…” (Shahîh Muslim: 1499)

Kecemburuan Abu Bakr ra.

أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، حَدَّثَهُ أَنَّ نَفَرًا مِنْ بَنِي هَاشِمٍ دَخَلُوا عَلَى أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ، فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ، وَهِيَ تَحْتَهُ يَوْمَئِذٍ، فَرَآهُمْ، فَكَرِهَ ذَلِكَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: لَمْ أَرَ إِلَّا خَيْرًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ قَدْ بَرَّأَهَا مِنْ ذَلِكَ» ثُمَّ قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَقَالَ: «لَا يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ، بَعْدَ يَوْمِي هَذَا، عَلَى مُغِيبَةٍ، إِلَّا وَمَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ»

Abdullâh bin Amr bin al-Ash menceritakan, bahwa:
Suatu ketika beberapa lelaki Bani Hâsyim masuk ke rumah Asmâ binti Umais. Tak lama kemudian Abu Bakr juga memasuki rumah tersebut—saat itu Asmâ binti Umais telah menjadi istri Abu Bakr. Di dalam rumah Asmâ, Abu Bakr mendapati para lelaki Bani Hasyim tersebut, maka ia pun tampak tak menyukai hal itu. Kejadiannya lalu ia ceritakan kepada Rasulullâh SAW, dengan mengakhiri: “Saya tidak melihat adanya keburukan apa pun!” Rasulullâh SAW lalu mengatakan: “Allâh telah membebaskan Asmâ dari hal-hal buruk itu.” Kemudian Rasulullâh SAW naik mimbar dan bersabda: “Semenjak hari ini, jangan sekali-kali seorang lelaki menemui wanita yang menyendiri (saat suaminya tidak ada) kecuali ia disertai oleh satu atau dua lelaki lainnya.” (Shahîh Muslim: 2173)

Kecemburuan Umar bin Khaththab ra.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “بَيْنَمَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الجَنَّةِ، فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا لِعُمَرَ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ، فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا” فَبَكَى عُمَرُ وَهُوَ فِي المَجْلِسِ ثُمَّ قَالَ: أَوَعَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغَارُ؟

Abu Hurairah ra. mengisahkan bahwa:
Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullâh SAW, Rasulullah SAW bercerita: “Suatu ketika dalam tidurku aku bermimpi berada di dalam surga. Disitu kudapati seorang wanita tengah berwudhu di sisi sebuah istana.” Aku pun bertanya: “Milik siapakah istana ini?” Mereka pun menjawab: “Istana ini milik Umar”. “Seketika itu aku teringat kecemburuanmu, maka aku pun bergegas pergi.” Umar yang saat itu turut duduk bersama kami lalu menangis. Kemudian ia berkata: “Apakah pantas aku cemburu kepadamu, wahai Rasulullah?!” (muttafaq `alaihi)

Kecemburuan Zubair ra.

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَتْ: تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُ، وَمَا لَهُ فِي الأَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلاَ مَمْلُوكٍ، وَلاَ شَيْءٍ غَيْرَ نَاضِحٍ وَغَيْرَ فَرَسِهِ، فَكُنْتُ أَعْلِفُ فَرَسَهُ وَأَسْتَقِي المَاءَ، وَأَخْرِزُ غَرْبَهُ وَأَعْجِنُ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَخْبِزُ، وَكَانَ يَخْبِزُ جَارَاتٌ لِي مِنَ الأَنْصَارِ، وَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ، وَكُنْتُ أَنْقُلُ النَّوَى مِنْ أَرْضِ الزُّبَيْرِ الَّتِي أَقْطَعَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَأْسِي، وَهِيَ مِنِّي عَلَى ثُلُثَيْ فَرْسَخٍ، فَجِئْتُ يَوْمًا وَالنَّوَى عَلَى رَأْسِي، فَلَقِيتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنَ الأَنْصَارِ، فَدَعَانِي ثُمَّ قَالَ: «إِخْ إِخْ» لِيَحْمِلَنِي خَلْفَهُ، فَاسْتَحْيَيْتُ أَنْ أَسِيرَ مَعَ الرِّجَالِ، وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ وَكَانَ أَغْيَرَ النَّاسِ، فَعَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي قَدِ اسْتَحْيَيْتُ فَمَضَى، فَجِئْتُ الزُّبَيْرَ فَقُلْتُ: لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى رَأْسِي النَّوَى، وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَأَنَاخَ لِأَرْكَبَ، فَاسْتَحْيَيْتُ مِنْهُ وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ، فَقَالَ: وَاللَّهِ لَحَمْلُكِ النَّوَى كَانَ أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ رُكُوبِكِ مَعَهُ، قَالَتْ: حَتَّى أَرْسَلَ إِلَيَّ أَبُو بَكْرٍ بَعْدَ ذَلِكَ بِخَادِمٍ تَكْفِينِي سِيَاسَةَ الفَرَسِ، فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَنِي.

Asma’ putri Abu Bakr (Sang Khalifah) ra. menceritakan:
Zubair menikahiku sementara ia tak punya kekayaan di atas tanahnya. Ia tak punya budak dan tak punya apa-apa, selain seekor onta yang digunakan untuk mengambil air dan kuda perangnya. Saya yang merawat kuda itu, saya yang mengambil air dan menjahit timbanya yang terbuat dari kulit itu, dan saya pula yang membuat adonan roti, tetapi saya tidak pandai membuat roti. Ketika itu, yang membuatkan roti untukku adalah tetanggaa-tetanggaku dari kaum Anshar. Mereka adalah wanita-wanita yang jujur.
Saya juga mengambili kurma dari tanah Zubair, tanah hasil pemberian Rasulullah. Tanah itu terletak sekitar 2/3 farsakh (1 farsakh = 3 mil) dari tempat tinggal kami. Pada suatu hari, saya dari ladang itu sambil membawa kurma di atas kepalaku. Dalam perjalanan saya berjumpa dengan Rasulullah SAW yang sedang berjalan bersama serombongan sahabat Anshar. Rasulullah lalu memanggilku, dan kemudian berucap, “ikh-ikh!” (ucapan untuk mendudukkan onta) supaya saya bisa naik di belakangnya. Namun saya merasa malu berjalan diantara rombongan lelaki. Saya juga teringat kepada Zubair dan rasa cemburunya. Ia adalah orang yang paling penyemburu. Rasulullah memaklumi rasa maluku sehingga beliau pun terus melanjutkan perjalanannya.
Saya lalu menemui Zubair dan menceritakan kepadanya, “Rasulullah bersama serombongan orang Anshar berpapasan denganku saat aku tengah menyunggi kurma. Rasulullah lalu mendudukkan ontanya agar aku bisa ikut menunggang dengannya, tapi aku malu kepadanya dan teringat pada rasa cemburumu,” kata Asma’ mengisahkan. “Demi Allah, bebanmu membawa kurma itu lebih memberatkan hatiku dari pada keberadaanmu menunggang bersama Rasulullah,” jawab Zubair.
Sampai akhirnya Abu Bakr memberikan seorang pembantu yang membantuku mengurusi kuda perangnya. Seakan-akan ia telah membebaskanku dari perbudakan! Lanjut Asma’ meneruskan ceritanya. (HR. Bukhari)

***

Bagaimana cemburu bisa menjadi pondasi agama?

Dalam al-Da’ wa al-Dawa’ Ibnul Qayyim menjelaskan:

Itu karena kecemburuan bisa melindungi hati. Dengan terlindunginya hati maka anggota tubuh menjadi terlindungi. Dan dengan terlindunginya anggota tubuh maka keburukan dan kekotoran bisa tertolak olehnya.

Hilangnya cemburu membuat hati menjadi mati, sehingga mati pula anggota tubuh. Saat hal itu terjadi, maka tidak akan ada penolakan sama sekali terhadap keburukan dan kekotoran yang menghinggapinya.

Perumpamaan cemburu bagi hati adalah seperti daya imunitas tubuh yang menolak dan melawan penyakit. Maka jika daya ini hilang, datanglah penyakit menduduki tempatnya hingga tidak ada lagi daya yang menolak kedatangan penyakit. Lalu bersaranglah penyakit dan mulai merusak tubuh.

Diantara akibat yang bisa ditimbulkan oleh hilangnya kecemburuan adalah hilangnya rasa malu. Padahal rasa malu merupakan substansi kehidupan bagi hati. Rasa malu adalah akar dari seluruh kebaikan, dan hilangnya rasa malu berarti hilangnya seluruh kebaikan tersebut.

وفي الصحيح عنه – صلى الله عليه وسلم – أنه قال: “الحياء خير كله”
وقال: “إنّ مما أدرك الناس من كلام النبوة الأولى: إذا لم تستَحْي فاصنَعْ ما شئتَ!
والحياء مشتقّ من الحياة، والغْيث يسمَّى “حيًا” بالقصر لأنّ به حياةَ الأرض والنبات والدوابّ، وكذلك بالحياء حياةُ الدنيا والآخرة، فمن لا حياء فيه ميِّتٌ في الدنيا شقئٌ في الآخرة.
وبين الذنوب وبين قلّة الحياء وعدم الغيرة تلازم من الطرفين، وكلّ منهما يستدعي الآخر، ويطلبه حثيثًا. ومن استحيا من الله عند معصيته استحيا الله من عقوبته يوم يلقاه، ومن لم يستحْيِ من معصيته لم يستحيِ من عقوبته.

Lemahnya cemburu sebagian lelaki masa kini

Berikut beberapa poin yang telah didaftar oleh sebagian orang untuk menunjukkan indikasi lemahnya tingkat kecemburuan sebagian lelaki pada masa kini:
1. Mereka tidak memerintahkan mahram-mahramnya menjaga pakaian dan hijab saat keluar rumah.
2. Mereka membiarkan mahram-mahramnya berbicara dengan lelaki lain (bukan mahram) tanpa adanya keperluan yang mendesak.
3. Mereka tidak memandang tabu mahram-mahramnya tertawa di hadapan laki-laki asing.
4. Mereka membiarkan mahram-mahramnya keluar rumah tanpa seizinnya.
5. Mereka mengizinkan mahram-mahramnya menjelajahi dunia maya (internet), seperti Facebook, Twitters dan lain-lainnya tanpa pengawasan. Padahal pada zaman ini, dunia internet merupakan salah satu penyebab paling dahsyat dalam merusak kaum wanita dan remaja. Dalam dunia maya terdapat peluang sangat besar untuk menjatuhkan mereka ke dalam perilaku nista, seperti melakukan perbincangan-perbincangan dan hubungan-hubungan yang tidak sesuai ajaran syariat.
6. Mereka tidak mempedulikan mahram-mahramnya saat menonton video di situs-situs internet, seperti youtube dan sejenisnya.
7. Mereka menyebarkan foto-foto berduaan bersama isterinya kepada kenalan-kenalan dan teman-teman di situs internet.
8. Mereka mengizinkan isterinya duduk bersama teman-temannya dan turut andil dalam menyebarkan berbagai gosip.
9. Mereka mengizinkan isterinya menghadiri acara-acara yang dihadiri oleh orang-orang yang kurang pemahaman agamanya dan lemah dalam menjalankan ajaran agama.
10. Mereka memerintahkan isterinya—tanpa keperluan yang mendesak—untuk menyajikan jamuan kepada tamu laki-laki yang bukan mahram.
11. Mereka tidak menjaga dan membimbing puteri dan saudarinya yang belajar di sekolah dan universitas yang mencampurkan laki-laki dan perempuan.
12. Mereka membiarkan mahram-mahramnya tertawa dan bercanda bebas dengan tamu dan temannya tanpa mempedulikan norma.
13. Mereka mengizinkan isteri atau puterinya keluar bersama supir, sehingga mengakibatkan terjadinya kholwat (laki-laki dan perempuan berduaan tanpa ditemani mahramnya).
14. Mereka mengizinkan mahramnya mengunjungi teman-temannya dalam waktu yang lama, yang memungkinkan mahram mereka akan bertemu dengan laki-laki asing.
15. Ketika mereka sedang tidak berada di rumah, mereka mengizinkan isterinya memasukkan tamu lelaki ke dalam rumah, padahal di rumah sedang tidak ada seorang lelaki pun.

Jadi para istri, jika engkau orang yang beriman dan suami-suamimu juga orang yang beriman maka ketika mereka sangat cemburu kepadamu dan banyak mengekangmu, bukan berarti mereka itu orang kerdil yang tidak percaya diri dan takut kehilangan dirimu. Mereka juga tidak bermaksud menindas dan berlaku semena-mena kepadamu. Mereka hanya menakutkan dirinya dan dirimu dari azab yang pedih yang tanggungjawabnya ditimpakan ke pundak mereka melalui firman-Nya “qu anfusakum wa ahlikum nara!” Bukankah kalian suami-istri sama-sama mengimani hal tersebut?

Hanya orang-orang yang tidak beragama atau orang-orang yang tidak mendasarkan perilakunya pada ajaran agama saja yang menganggap kecemburuan dan pengekangan suami terhadap istri sebagai bentuk kekerdilan, ketidakpercayaan diri, atau kecengengan!

Soal kecemburuan ini juga disebutkan di dalam keimanan agama lain, semisal dalam Kitab Keluaran 20:5; Ulangan 4:24) dan Galatia 5:20.

Adakah yang kau ragukan dalam hal ini, wahai wanita-wanita yang beriman?!

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s