KHUTBAH IDUL FITRI 1436H.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الخطبة الأولى

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْـتَعِيْنُهُ وَنَسْـتَغْفِرُهُ وَنَسْـتَهْدِيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، َوأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ. أمَّا بَعْد

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللهِ هِيَ خَيْرُ وَسِيْلَةٍ نَتَقَرَّبُ بِهَا إِلَى خَالِقِنَا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ ِللَّهِ

Sungguh, segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya sekaligus memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Kita juga memohon perlindungan-Nya dari keburukan-keburukan nafsu kita dan dari akibat buruk perilaku tersebut.

Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barangsiapa yang telah disesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan, selain Allah. Hanya Allah. Tiada sekutu bagi-Nya.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah. Ya, Allah! Limpahkanlah shalawat, salam dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, serta kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Kaum Muslimin, Jamaah Shalat Idul Fitri yang berbahagia,

Mari kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan selalu menyadari kebesaran dan keagungan-Nya serta dengan melaksanakan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Karena hanya ketakwaan itulah bekal terbaik untuk menghadapkan diri kita kepada Allah di hari Kiamat kelak. Di hari dimana kita tidak memiliki kuasa apa pun atas diri kita, karena seluruh kendali di hari itu hanyalah milik Allah semata.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Kaum Muslimin, Jamaah Shalat Id yang berbahagia,

Saya mengucapkan selamat berbahagia dan bergembira atas keberhasilannya menegakkan salah satu pilar keislaman kita, yaitu menunaikan ibadah puasa. Saya juga mengucapkan selamat atas keberhasilannya menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan banyak melakukan shalat sunnah, shalat tarawih, tadarus dan amal ibadah lainnya.

Dan pagi ini, Allah telah menyambut kita dengan hari raya yang agung, hari raya Idul Fitri. Hari dimana kita secara suka-cita menikmati aneka hidangan yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Semoga kegembiraan dan kebahagiaan ini, juga keriangan dan keceriaan ini senantiasa menyertai kehidupan kita seterusnya.

Saudara-saudaraku, kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Hari raya dalam Islam ibarat telaga luas tempat berwisatanya jiwa-jiwa orang yang beriman, tempat bersukaria menikmati karunia dan rahmat yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka, yaitu karunia dan rahmat berupa kemampuan melaksanakan ketaatan dan bersegera melakukan amal-amal kebaikan;

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ [يونس: 58

Katakan: “Atas karunia Allah dan rahmat-Nya!” Dengan hal itu hendaklah mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu jauh lebih baik dari apa-apa yang mereka kumpulkan. (Yunus: 58)

Maka, wahai kaum Muslimin! Jadikanlah hari raya ini sebagai kesempatan untuk memperbarui semangat beribadah kita. Jadikan hari raya ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan rasa toleransi dan teposeliro kita. Saling mengasihi dan menyayangi. Saling berbagi ucapan selamat dan doa-doa terbaik dengan penuh ketulusan dan keceriaan. Dengan raut muka yang penuh senyum keikhlasan. Nabi Kita SAW bersabda,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَلَوْ أنْ تُلْقَ أخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْق ٍ[رواه مسلم

Jangan sekali-kali kalian meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya berupa raut ceria saat menjumpai saudaramu”. (HR. Muslim)

Hari raya hendaklah membuat kita ibarat matahari yang menyinarkan cinta dan kebaikan; ibarat bulan yang memancarkan kelembutan, kebaikan, bakti dan pertalian hubungan atau persaudaraan yang terus bersambung. Hari raya hendaklah membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki akhlak pemurah, ringan membantu dan memberi. Hendaklah hari raya menjadikan kita sebagai pribadi yang berjiwa lembut dan berperilaku santun hingga perilaku itu menjelma menjadi kebiasaan keseharian kita sepanjang waktu. Kekasih kita, Nabi Muhammad SAW bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِيْ وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

Senyummu di hadapan saudaramu adalah sadaqah.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Saudara-saudara kaum Muslimin rahimakumullah,

Diantara hal yang menjadi tujuan besar dari adanya syiar agama—semisal puasa Ramadhan dan hari raya ini—adalah untuk mewujudkan tujuan dari penciptaan makhluk itu sendiri: yaitu memurnikan agama untuk Allah semata, dan meng-esa-kan Allah Yang Maha Tinggi dengan hati yang paling tulus.

Perhatikan makna tersebut bisa kita rasakan dari kewajiban pertama yang kita saksikan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ [البقرة: 21

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian!
Dan dari larangan pertama yang kita temui di sana:

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ [البقرة: 22

maka, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, sementara kalian mengetahui!

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Saudara-saudaraku seiman,

Satu-satunya jaminan yang bisa melindungi kita dari sebab-sebab yang bisa merusak dan menghancurkan diri kita, serta menjadi sebab dihindarkannya kita dari berbagai keburukan dan ancaman mengerikan adalah: menjaga sekuat kemampuan kita dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah `Azza wa Jalla dan mentaati Rasulullah SAW, serta menjauhi perilaku kotor, perbuatan dosa, tindak pelanggaran dan kemungkaran. Di dalam wasiatnya yang singkat dan padat, Rasulullah SAW menyatakan:

اِحفَظِ اللهَ يَحْفَظُكَ

Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu!

Maka, tak ada sesuatu pun yang bisa menjaga kenikmatan yang kita terima, kecuali dengan melakukan ketaatan kepada Allah Jalla wa `Alaa. Dan tak ada yang bisa menambah kenikmatan tersebut sebanding dengan ungkapan syukur dan berterimakasih kepada Allah `Azza wa Jalla. Suatu kenikmatan akan senantiasa bersama seorang hamba sampai hamba itu sendiri yang mengusirnya dengan perilaku dosa dan kemaksiatannya. Dosa dan kemaksiatan adalah api yang memusnahkan kenikmatan. Dosa dan kemaksiatan adalah penyebab datangnya penderitaan dan siksaan. “Hal itu karena:

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ [الأنفال: 53

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum sampai kaum itu sendirilah yang akan mengubahnya.” (Al-Anfal: 53).

Karena itu, segala penderitaan, malapetaka dan kesengsaraan yang menimpa kaum Muslimin tidak lain karena disebabkan oleh jauhnya mereka dari petunjuk Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad SAW. Bukankah Tuhan kita, Allah SWT telah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا [طه: 124

Barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, barangsiapa berpaling dari berzikir kepada-Ku, niscaya baginya kehidupan yang sempit, kehidupan yang penuh tekanan.” (Thaha: 124)

Hari raya adalah nikmat dari Allah, maka janganlah kita mengotori kenikmatan ini dengan perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT sehingga kenikmatan ini akan berubah menjadi malapetaka dan penderitaan bagi diri kita.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Jamaah shalat Idul Fitri yang saya muliakan,

Jika kita telah teguh memegang ajaran agama dan melakukan ketaatan-ketaatan kepada Allah namun masih juga mengalami berbagai macam musibah, penderitaan, tekanan dan kezaliman, maka ketahuilah bahwa itu semua demi: agar Allah menghapuskan keburukan-keburukan yang ada pada kita dan agar Allah melimpahkan kebaikan-kebaikan kepada kita. Rasulullah SAW bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا مَرَضٍ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا إلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهِ مِنْ خَطَايَاهُ [متفق عليه

Apa pun yang menimpa seorang mukmin, baik berupa ketakutan, kesedihan, penderitaan, kepenatan maupun rasa sakit, meski hanya tusukan duri, kecuali hal itu menjadi pembersih yang digunakan Allah untuk membersihkan kesalahan-kesalahannya.” (Muttafaq `Alaih)

Karena itu bersabarlah, wahai kaum Muslimin! Bersabarlah saat menghadapi keadaan-keadaan semacam itu. Ingatlah pahala-pahala yang dijanjikan Allah! Kembalilah kepada Allah! Bertaubatlah! Memohonlah kepada-Nya dengan penuh kesungguhan dan berserah-dirilah kepada-Nya! “Katakan bahwa Allah akan menyelamatkan kalian dari keadaan itu dan dari segala macam penderitaan!” (Al-An`am: 64)

قُلِ اللَّهُ يُنَجِّيكُمْ مِنْهَا وَمِنْ كُلِّ كَرْبٍ [الأنعام: 64

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Hadirin, Jamaah Shalat Idul Fitri yang berbahagia,

Kaum Muslimin harus senantiasa optimis dan percaya bahwa masa depan kehidupan adalah miliknya, meskipun berbagai macam musibah dan cobaan yang menimpanya.

Inti dari prinsip-prinsip agama ini adalah: tafaul atau rasa optimis menghadapi masa depan, husnuz zhan atau berprasangka baik kepada Allah, positive thinking kepada Allah Jalla wa `Alaa dan tawakkal kepada-Nya atau menyandarkan hasil jerih payah sepenuhnya kepada Allah, bukan pada kehebatan diri sendiri atau kehebatan peralatan yang kita gunakan.

Kita harus menanamkan hakikat berikut ini kedalam diri kita bahwa gelapnya malam pasti berlalu berganti siang yang terang. Begitulah optimisme kita demi menundukkan semua penderitaan yang tengah kita hadapi.

Suatu ketika musibah menimpa sebagian sahabat dan pesan Rasulullah dalam keadaan semacam itu adalah:

أَبْشِرُوْا وَأَمِّلُوا!

Hiburlah dan berikan harapan yang baik! Bangkitkan rasa optimisnya!

أَقُوْلُ هَذَا الْقَوْلَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

الخطبة الثانية

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إلَهُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ قَائِدُ الغُرِّ الْمُحَجَّلِيْنَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

فَــيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ – جَلَّ وَعَلَا – فَبِهَا يَجْعَلُ اللهُ لَنَا مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَيَرْزُقُنَا مِنْ حَيْثُ لَا نَحْتَسِبُ

Hadirin yang berbahagia,

Hari Id berarti hari berkumpul atau hari bertemu. Ia berasal dari bahasa Arab `âda ya`ûdu yang berarti kembali.

Jadi sesuatu dianggap kembali jika ia memiliki asal, lalu meninggalkan asal, kemudian kembali ke asal. Contohnya, seperti orang mudik. Misalnya seseorang berasal dari desa A lalu merantau ke kota Z kemudian setelah beberapa lama, ia pulang ke desa A lagi, maka ia disebut kembali. Kembali berkumpul atau kembali bertemu dengan sanak keluarga desa A.

`âda ya`ûdu juga bisa berarti berulang: jika sesuatu itu memiliki awal terus berakhir dan diulangi lagi.

Contohnya, seperti perputaran bulan dalam setahun. Di mulai dari bulan Januari dan berakhir pada bulan Desember, lalu dimulai lagi dengan bulan Januari, maka diantara akhir Desember dan awal Januari yang berikutnya disebut Id, karena akhir dan awalnya bertemu atau berkumpul untuk mengulang perputarannya kembali.

Atau dalam bulan Hijriyah, dimulai dari bulan Muharram berakhir pada bulan Dzul Hijjah, maka diantara akhir bulan Dzul Hijjah dan awal bulan Muharram terdapat pengulangan dan terjadi pertemuan, hal semacam ini bisa disebut dengan istilah Id. Begitu Juga dalam perputaran hari yang berakhir dalam tujuh hari dan dimulai lagi dengan hari yang sama.

Dengan makna semacam itu, praktek kembali ke kampung halaman atau yang biasa diistilahkan dengan kata mudik yang dilakukan oleh masyarakat kita yang merantau sejalan dengan makna kata “Id” secara bahasa, yaitu kembali dan berkumpul.

Itu tadi arti kata Id, sekarang, apa arti kata Fitri? Dalam bahasa Arab kata fithri bisa berarti sarapan, dan bisa berarti alami atau asli juga bisa berarti ciptaan.

Jadi, Idul Fitri bisa berarti, kembali sarapan dan juga bisa berarti kembali pada aslinya atau asalnya, yaitu kembali seperti saat diciptakan (tidak memiliki noda dan dosa, karena noda dan dosanya telah dihapus dengan amalan-amalan ibadah selama bulan Ramadhan).

Dengan begitu kita memiliki dua makna, untuk memaknai Idul Fitri. Makna pertama “kembali sarapan” dan makna kedua “kembali pada aslinya”. Lalu manakah yang akan kita pilih?

Kalau kita memilih makna yang pertama, yaitu: kembali sarapan maka itu riil. Semua orang Islam yang berpuasa berhak merayakan hari raya Idul Fitri. Karena selama bulan Ramadhan mereka berpuasa dan tidak sarapan. Dan dengan berakhirnya bulan Ramadhan mereka bisa kembali sarapan seperti sebelum Ramadhan.

Sementara kalau kita memilih makna kedua, yaitu: kembali pada aslinya, dalam artian tidak memikul dosa seperti bayi yang baru diciptakan, maka itu tergantung seberapa sungguh-sungguh, seberapa banyak, seberapa benar dan seberapa ikhlasnya kita melakukan ibadah pada bulan Ramadhan. Seberapa sempurna puasa kita, shalat kita, dzikir kita, sedekah kita, mulut kita, pikiran kita, perilaku kita dan hati kita…. Semua itu bisa menjadi ukuran seberapa bersih dosa-dosa yang bisa kita hapuskan pada bulan Ramadhan.

Jadi, untuk memilih makna Idul Fitri yang kedua ini diperlukan syarat-syarat yang harus kita perjuangkan dan kita laksanakan dengan gigih selama Ramadhan.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، الله أكبر، ولله الحمد

Kaum Muslimin, Jamaah Shalat Idul Fitri yang kami muliakan,

Sekali lagi marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah. Dengan ketakwaan kita, Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesempitan hidup yang mendera kita, dan dari setiap nestapa yang kita punya. Dan dengan ketakwaan itu pula Allah akan memberikan rizki secara tak terduga kepada kita.

Hadirin, Jamaah Shalat Id yang berbahagia, mari kita tutup Khutbah Id pagi ini dengan untaian salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan doa untuk kebaikan kita semua dan seluruh kaum Muslimin.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اَللّهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا وَسَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا وَحَبِيْبِنَا وَقُرَّةِ عُيُوْنِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه أَجْمَعِيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ،اَللَّهُمَّ احْفَظِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ احْفَظِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ نَفِّسْ كُرْبَاتِهِمْ، اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُوْمَهُمْ، اَللَّهُمَّ اكْشِفْ غُمَّتَهُمْ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْ عَاقِبَةَ مَا حَصَلَ لَهُمْ عَاقِبَةً حَمِيْدَةً خُيِّرةً إِصْلَاحِيَّةً يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ أَطِلْ عُمْرَهُ عَلَى طَاعَتِكَ، وَمُدَّ فِي حَيَاتِهِ عَلَى التَّقْوَى يَا حَيُّ يَا قَيوُّمْ، اَللَّهُمَّ وَاحْفِظْهُ بِحِفْظِكَ، وَاكْلَأْهُ بِرِعَايَتِكَ، وَنَائِبِيْهِ جَمِيْعًا، وَجَمِيْعَ الْأُمَرَاءِ الَّذِيْنَ يَقُوْمُوْنَ بِخِدْمَةِ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، اَللَّهُمَّ وَلِّ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ خِيَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ، اَللَّهُمَّ وَاكْفِهِمْ شِرَارَهُمْ

اَللَّهُمَّ أَنْزِلِ الْأَمْنَ فِي دِيَارِ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَنْزِلِ الْأَمْنَ وَالْآمَانَ فِي دِيَارِ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ وَعُمَّ بِالرَّخَاءِ وَالسَّخَاءِ جَمِيْعَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا، اَللَّهُمَّ أَغِثْنَا غَيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْـئًا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ وَجَعَلَنَا وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s