PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (1)

PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT
sebuah komentar agamis

SUNGGUH. Saya merasa sangat senang dan beruntung bisa menemukan blog sabdalangit. Bagi saya tulisan-tulisan di http://sabdalangit.wordpress.com (selanjutnya perkenankan saya menyapa dengan Ki Sabdalangit) sangat menarik. Bukan semata-mata nuansa spiritual dan kebatinannya yang kental, tetapi juga penyampaiannya yang santun dan logis.

Entah, tanggapan-tanggapan saya nanti bisa diterima atau tidak karena saya merasa belum pernah menguasai ilmu-ilmu kebatinan dan spiritualitas sebagaimana dikuasai oleh Ki Sabdalangit. Padahal ilmu-ilmu itulah (dan pengalaman Ki Sabdalangit) yang menjadi landasan tulisan-tulisan yang beliau paparkan). Tetapi perkenankan saya melihatnya dari dimensi keilmuan yang lain, yaitu dari dimensi keilmuan agama Islam.

Saya ingin mencoba menguraikan pengalaman gaib seperti dialami dan dipaparkan oleh Ki Sabdalangit di http://sabdalangit.wordpress.com/pengalaman-gaib/ dengan berfokus pada sabda-sabda agama, baik yang berupa ayat-ayat Alquran maupun hadis-hadis Nabi. Juga saya ingin membandingkannya dengan pengalaman dan pengamalan tokoh-tokoh agama Islam pada masa terbaik generasinya. Yaitu generasi yang biasa disebut dengan nama generasi salafussalih (generasi yang hidup pada masa sekitar 300 tahun pertama sejak kemunculan ajaran Islam). Tepatnya generasi para sahabat Nabi; lalu generasi para sahabat dari sahabat-sahabat Nabi (tabiin), dan kemudian generasi sahabat-sahat dari para sahabat yang menjadi sahabat-sahabat Nabi (tabiu tabiin).

Sampai disitu berarti saya sedang berusaha menyebutkan landasan-landasan yang mendasari uraian-uraian saya selanjutnya. Maka jika dalam uraian-uraian saya nanti ternyata keluar dari landasan-landasan tersebut, dimohon perkenannya para pembaca yang mengetahui dan menyadari hal itu untuk mengoreksi dan mengingatkan saya. wa jazakallahu khaira.

Komentar saya mulai dari masalah waktu dimana Ki Sabdalangit sewaktu kecilnya biasa ‘kehilangan kesadaran’, sesaat memasuki dunia gaib.

“Waktu sore”

Saya tidak tahu apakah waktu sore yang disebut Ki Sabdalangit itu waktu dimana hari mulai gelap karena matahari terbenam ataukah waktu sebelum itu.
Dalam sebuah hadis, Nabi melarang umatnya membiarkan anak-anak kecil dan hewan ternak mereka berkeliaran di luar rumah pada saat matahari mulai terbenam. Karena pada saat ini bangsa setan sedang lalu-lalang ke mana-mana. (hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim).

Dari situ kita mendapat sedikit informasi mengenai aktifitas dan waktu pada salah satu alam halus. Yaitu makhluk-makhluk sebangsa setan (dari bangsa jin) mulai berkeliaran atau berlalu-lalang pada saat matahari mulai terbenam hingga awan merah di ufuk barat sirna.

Barangkali Ki Sabdalangit mempunyai pengalaman tersendiri mengenai waktu matahari terbenam ini dalam kaitannya dengan dunia makhluk halus. Sejauh ini saya belum membaca pengelaman beliau tentang masalah ini.

“Siapakah orang-orang itu?”

Siapakah orang-orang yang telah ditemui Ki Sabdalangit dalam ketidaksadarannya, seperti yang telah beliau kisahkan dalam pengalaman gaibnya ini?

Mereka adalah leluhurnya, eyang-eyangnya terdahulu yang telah meninggal dunia. Begitu yang saya simpulkan dari dialog Ki Sabdalangit bersama mereka di dalam kisah Pengalaman Gaib ini.

Sebagai orang yang belum mampu melihat alam lelembut, saya tentu tidak bisa memberikan penilaian mengenai kebenaran atau kesalahan pernyataan kesimpulan saya sendiri yang didasarkan pada pengalaman Ki Sabda di masa kecil itu.

Namun sebagai pembanding saja, di dalam ajaran agama Islam selain mengakui adanya arwah (yaitu ruh atau nyawa kehidupan yang dulu pernah menyatu di dalam tubuh manusia sebelum meninggal), agama juga mengakui keberadaan makhluk halus lain yang bukan arwah manusia. Makhluk halus ini diciptakan bersamaan dan menyertai kelahiran setiap manusia. Ia memiliki rupa, bentuk dan ukuran yang sama persis dengan manusia yang lahir tersebut. Makhluk halus ini selalu menyertai manusia kembarannya semasa hidupnya. Sehingga makhluk ini mengetahui hampir segala hal yang dilakukan oleh manusia kembarannya. Mungkin satu-satunya hal yang tidak diketahuinya adalah isi hatinya yang masih tersimpan. Makhluk halus ini termasuk kelompok makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa, atau dalam bahasa agamanya makhluk ini berasal dari bangsa jin (kata jin secara bahasa berarti ‘tidak tampak karena tertutup’; seperti tertutup oleh selubung alam lain, beda alam). Makhluk inilah yang sering disebut dengan istilah ‘qarin’ (baca: korin, yang secara bahasa berarti ‘pasangan’, ‘kawan’ atau ‘rekan’).

Hadis Nabi mengenai qarin bisa ditemukan diantaranya di dalam kitab Sahih Muslim:
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينٌ مِنَ الْجِنِّ
Juga bisa ditemukan di dalam al-Qur’an, diantaranya di dalam surat Az-Zukhruf 36 & 38:
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
dan
حَتَّى إِذَا جَاءَنَا قَالَ يَا لَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ

Selain itu, keberadaan qarin juga bisa ditemukan dalam keyakinan agama bangsa Mesir kuno. Dalam keyakinan Mesir kuno disebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang dikeringkan seperti tembikar. Dan disaat kelahirannya manusia ini bertemu dengan ‘Ka’, yaitu pasangan atau kawan (qarin) yang persis menyerupai dirinya, hanya saja ia tidak bisa dilihat. Selain ‘Ka’, ada ‘Ba’ yang diciptakan bersamaan dengan penciptaan manusia. Wujud ‘Ba’ biasanya dikhayalkan dalam rupa burung berwajah manusia. ‘Ba’ ini tidak lain adalah ruh bagi tubuh tanah manusia.

Di dalam sebuah hadis, Nabi memberitahukan bahwa qarin manusia yang tak tampak itu cenderung mengajak manusia kembarannya untuk memperturutkan hawa nafsu, kecuali qarin beliau. Qarin Nabi telah disetup oleh Allah untuk tidak mengajak, kecuali pada kebaikan.

Terlalu jauh tentang qarin. Bagaimana dengan orang-orang yang ditemui oleh Ki Sabdalangit? Apakah ia ruh para leluhurnya ataukah ia qarin-qarinnya? Saya tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Saya hanya mampu memberikan informasi di atas sebagai awal bahan renungan dan perbandingan.

Di dalam kitab Ar-Ruh karya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah disebutkan: “Ketika ingin mecabut nyawa seseorang, Malaikat Pencabut Nyawa mengulurkan tangannya ke arah ruh yang ada di dalam jasad manusia. Lalu ruh pun keluar dalam bentuk cahaya seperti sinar matahari dan berbau harum [atau berbau busuk tergantung amal perbuatan pemilik ruh sebelumnya].”

Di dalam kitab ini juga disebutkan bahwa ruh di dalam dunianya (dunia arwah) tidak dikenali berdasarkan rupa fisiknya, tetapi berdasarkan ciri-ciri dan sifat-sifatnya.

Apakah berarti yang ditemui Ki Sabdalangit adalah para qarin? Saya tidak tahu, tetapi tidak otomatis begitu. Karena menurut kitab tersebut, ruh-ruh yang bebas (yang tidak sedang menjalani siksaan) bisa pergi ke mana pun yang dikehendaki dan bisa menemui siapa pun yang ingin ditemuinya. Banyak kisah dari para salafussalih yang menyebutkan bahwa ruh-ruh itu menemui sahabat-sahabat atau keluarganya, meskipun ada juga yang menemui orang lain (bukan kategori sahabat atau keluarga) yang diingininya. Hanya saja, pertemuan ini bisa segera terjadi ketika si arwah yang menghendaki pertemuan, bukan orang yang masih hidup berjasad yang menginginkan pertemuannya. Orang yang masih hidup bisa mengharapkan bertemu dengan arwah orang yang telah meninggal melalui permohonan doa kepada Allah supaya bisa dipertemukan. Dan ini berarti terserah kehendak Allah, apakah akan mempertemukan mereka atau tidak.

Kapankah pertemuan bisa berlangsung? Biasanya pertemuan terjadi ketika masing-masing arwah berada dalam dunia yang sama, yaitu ketika masing-masing arwah berada dalam genggaman Allah bukan saat terkungkung dalam tubuh jasmani. Dan itu berarti ketika seseorang yang masih hidup dalam keadaan tidur, pingsan, atau keadaan yang sejenis dengan keadaan itu–dimana kesadaran penuh tidak sedang mengontrol jasmani.

Al-Quran menyebutkan bahwa Allah menggenggam ruh orang-orang yang telah mati dan orang-orang yang masih hidup di saat tidurnya (Q.S. Az-Zumar, 39: 42). Pada saat-saat seperti inilah dimungkinkan terjadinya pertemuan antara ruh orang yang masih hidup dengan ruh orang yang telah meninggal dunia.

Pertemuan semacam itu, menurut keterbatasan saya, berbeda dengan pertemuan yang diusahakan melalui cara-cara ritual menghadirkan arwah, jaelangkung, kesurupan dan sejenisnya. Dan mungkin juga berbeda dengan melalui cara lolos sukma atau meraga sukma yang menurut uraian Ki Sabdalangit mampu mengidentifikasi berbagai dimensi alam gaib. Karena dalam pertemuan-pertemuan yang diusahakan semacam ini sangat mungkin terjadi campur tangan makhluk halus lain yang kita tidak mengetahui dan mengenali hakikatnya. Jadi, masih menyisakan keraguan dan ketidakpastian informasi atas kebenarannya.

Meskipun begitu saya harus mengakui, saya belum mengetahui hakikat ilmu meraga sukma ini dan alam apa saja yang bisa ditembus dengan ilmu ini, serta seberapa jauh kebenarannya bisa diyakini.
[bersambung]

tulisan berikutnya:
PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (2)
PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (3)

2 responses to “PENGALAMAN GAIB KI SABDALANGIT (1)

  1. sheetoria beckham

    kalo menurut kitab saya gak percya..padahal kitab itu kan hanya cerita..itupun udah ribuan tahun yg lalu yang kebenarany qt jg sama2 gak tau..kalo saya lbih percya dg apa yg dialami dr pd menurut kitab2..

  2. @sheetoria beckham: Anda mengatakan “kalo saya lbih percya dg apa yg dialami dr pd menurut kitab2”

    Pertanyaan saya adalah: dialami oleh siapa? Harus oleh kita sendiri per pribadi yang mengalami ataukah boleh oleh orang lain yang mengalaminya?

    Kalau oleh tiap pribadi harus mengalami, meskipun itu bisa saja terjadi (jika dikehendaki Allah), tetapi cobalah Anda merenung sejenak; pernahkah Anda mengalami semua hal yang dialami oleh orang tua Anda? Jika tidak, apakah berarti apa yang dialami oleh mereka tidak bisa dipercaya ketika diceritakan kepada Anda? Anda tidak mengalami, orang lain yang mengalami. Begitu pula dengan kitab-kitab yang telah diakui kebenarannya.

    Itu hanya masalah waktu dan siapa yang mengalami. Percaya atau tidak percaya tergantung bagaimana alur berpikir kita dan standar logika kita.

    Terimakasih atas komentar Anda.

    Salam,
    fakra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s